oleh

Janji Manis Aplikasi Pinjol Meresahkan Debitur

Aplikasi Pinjaman Online (pinjol) meresahkan debitur , sudah puluhan ribu orang sudah menjadi korban pinjaman online atau Fintech Lending P2P. Banyak juga Aplikasi Pinjaman Online (pinjol) meresahkan debitur itu ilegal atau tidak resmi. Data LBH menyebut sekitar 4 ribuan orang menjadi korban pinjol. Sedangkan, LBH mencatat, data korban dampak pinjol sekitar 10 ribuan nasabah.

Hal itu terjadi karena minimnya informasi soal bunga, tenor dan aturan penagihan. Banyak korban tergiur menggunakan aplikasi pinjaman online karena kecepatan dan kemudahan. Hanya bermodalkan kartu identitas KTP, NPWP, Foto diri maka sejumlah dana akan masuk ke rekening nasabah dalam hitungan maksimal 1x 24 jam.

Aplikasi Pinjaman Online (pinjol) Meresahkan Debitur

Itulah yang terjadi dengan DD, salah seorang korban dari ganasnya pinjaman online (Pinjol). Ibu dua anak yang harus kehilangan pekerjaan hanya karena telat membayar hutangnya enam hari setelah jatuh tempo. Kejadian itu berbuntut pajang karena DD mempersoalkan tata cara penagihan perusahaan berinisial R itu ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

DD tidak menyangka keputusannya meminjam uang sebesar Rp 1,2 juta di Fintech bakal membawa musibah.

Pertama kali ia berkenalan dengan Pinjol Fintech. Mei 2019, DD membutuhkan uang tunai dalam waktu singkat. Oleh seorang teman, ia disarankan untuk mencoba salah satu aplikasi pinjaman online di Google.

“Saya iseng-iseng coba mencari, download, dan ikuti semua prosedurnya. Tidak lama kemudian uang langsung cair, masuk ke rekening,” tutur DD.

DD menuturkan, tata cara peminjaman uang sangat mudah dan praktis. Ia hanya perlu memenuhi syarat berupa foto Kartu Tanda Penduduk (KPT), foto diri, dan foto selfie bersama KTP. Selain itu, ia juga harus memberikan dua nomor telepon darurat (emergency contact) yang bisa dihubungi.

Setelah syarat itu terpenuhi, sekitar satu jam kemudian uang langsung ditransfer. Tapi DD kena potongan Rp 120.000 sehingga ia hanya menerima uang sebesar Rp 1.080.000. DD sempat curiga dengan aplikasi tersebut karena prosesnya instan. Tapi saat itu tidak banyak informasi yang beredar tentang identitas Fintech-fintech, termasuk di pusat informasi OJK.

Baca juga : Ini Cara Pinjol Dapatkan Data

Pinjaman pertama berjalan lancar. DD bisa melunasi hutangnya sebelum tanggal jatuh tempo, terhitung 14 hari setelah dana cair. Masalah mulai tejadi saat DD melakukan peminjaman uang tunai dengan jumlah yang sama pada aplikasi Fintech yang sama pula, untuk keempat kalinya. Sekitar tanggal 10 November 2019, DD meminjam uang sebesar Rp 1,2 juta dan ia harus melunasi hutang tersebut paling lambat 14 hari kemudian.

Namun karena ada satu kejadian yang mendesak, DD tidak bisa membayar hutang tersebut tepat waktu. Dia sempat berkomunikasi dengan penagih pada hari ke -15 melalui saluran telepon dan menjanjikan akan membayar hutang sepekan kemudian plus bunganya. Hingga melewati batas waktu jatuh tempo, dia gagal membayar hutang tersebut.

“Aku pikir mereka sudah mengerti dan menerima alasanku. Setiap mereka telepon pasti saya angkat, menunjukkan bahwa saya kooperatif. Ada semua rekaman jejak telepon dari mereka,” ujar DD.

Baca juga : Ngeri! Cara Penagihan Hutang Fintech

Pada malam hari keenam sejak terlambat dari jatuh tempo, datang banyak pesan singkat dari para teman, keluarga, rekan kerja DD di kantor. Ternyata, penagih Fintech mengirimkan pesan singkat/sms kepada orang terdekat DD dan menginformasikan bahwa DD memiliki hutang sebesar Rp 1,2 dan meminta agar mereka turut membantu menagih hutang tersebut.

“Aku kaget banget. Kenapa meraka bisa tahu nomor telepon orang-orang itu. Setiap orang rata-rata dapat tiga sms. Dari keluarga, teman kantor, sampai atasan saya,” keluh DD.

Buntut dari kejadian itu, DD dipecat dari pekerjaanya. DD yang tidak terima dengan kejadian tersebut. Hanya karena uang Rp 1,2 juta ia harus kehilangan pekerjaan.

Akhirnya ia mengadu ke Fintech yang bersangkutan, serta melaporkan kejadian tersebut ke OJK.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed