oleh

AUGUSTE COMTE

AUGUSTE COMTE
Auguste Comte

Secret-financial Auguste Comte melihat satu hukum universal dalam semua ilmu pengetahuan yang kemudian ia sebut sebagai ‘hukum tiga fase’. Melalui hukumnya ia mulai dikenal di seluruh wilayah berbahasa Inggris (English-speaking world); menurutnya, masyarakat berkembang melalui tiga fase: Teologi, Metafisika, dan tahap positif (atau sering juga disebut “tahap ilmiah”).

Fase Teologi dilihat dari prespektif abad ke-19 sebagai permulaan abad pencerahan, dimana kedudukan seorang manusia dalam masyarakat dan pembatasan norma dan nilai manusia didapatkan didasari pada perintah Tuhan. Meskipun memiliki sebutan yang sama, fase Metafisika Comte sangat berbeda dengan teori Metafisika yang dikemukakan oleh Aristoteles atau ilmuwan Yunani kuno lainnya; pemikiran Comte berakar pada permasalahan masyarakat Perancis pasca-revolusi. Fase Metafisika ini merupakan justifikasi dari “hak universal” sebagai hal yang pada [atas] suatu wahana [yang] lebih tinggi dibanding otoritas tentang segala [penguasa/aturan] manusia untuk membatalkan perintah lalu, walaupun berkata [hak/ kebenaran] tidaklah disesuaikan kepada yang suci di luar semata-mata kiasan. Apa yang ia umumkan dengan istilahnya yaitu Tahap yang ilmiah, yang kemudian menjadi nyata setelah kegagalan revolusi dan [tentang] Napoleon, orang-orang bisa temukan solusi ke permasalahan sosial dan membawanya ke dalam kekuatan proklamasi hak asasi manusia atau nubuatan kehendak Tuhan.

Baca juga: Pilkada Tetap Jalan, Ibadah dan Sekolah di Tutup, Ada Apa Dengan Negara Ini

Auguste Comte melihat ilmu pengetahuan baru ini, sosiologi, sebagai yang terbesar dan yang terakhir dari semua ilmu pengetahuan, apa yang itu akan meliputi semua lain ilmu pengetahuan, dan yang akan mengintegrasikan dan menghubungkan penemuan mereka ke dalam suatu yang utuh. Comte merumuskan hukum tiga langkah-langkah, teori yang pertama evolutionime yang sosial, tahap metaphysical dan tahap Positif.

Garis Besar Pemikiran

Mereformasi seluruh dunia dan hidup manusia. Ada tiga tahap hidup dan sejarah pengetahuan umat manusia, fase teologis, fase metafisik, fase positivis. Periode teologis merupakan masa penuh khayalan dan dilihat sebagai hasil karya langsung dan berlanjut oleh banyak tokoh supranatural. Stadium metafisik merupakan era abstrak dan dijelaskan oleh hakekat, ide atau daya abstrak (atom berpadu berkat simpati, tumbuhan berkembang karena kehadiran jiwa vegetativ). Tingkatan tertinggi adalah fase positivis atau ilmiah, di mana nalar bermaksud mencari hukum atau kaidah, yakni relasi permanen suksesi dan kemiripan dari segala sesuatu seturut penalaran dan pengamatan.

Manusia modern berada pada fase positivis/ilmiah. Maka, filsafat ilmiah/positif harus menempatkan masyarakat pada posisi kajian ilmiah yang ketat guna merekonstruksinya. Untuk rekonstruksi masyarakat supaya terlepas dari krisis sosial-politik diperlukan secara niscaya pengetahuan tentang semesta fakta sosial dan politik. Untuk alasan tersebut dibutuhkan suatu fisika sosial atau sosiologi ilmiah. Tujuan fisika sosial atau sosiologi ilmiah adalah menemukan hukum.

Baca juga: Jokowi dan Sri Mulyani Pernah Beri Peringatan Jangan Korupsi Dana COVID-19

Pengetahuan sejati terletak pada hukum yang dikontrol oleh fakta, sehingga tiada tempat bagi riset guna menemukan hakekat dan sebab tertinggi metafisik. Gagasan Comte tentang pengetahuan bukan berciri tekhno-praktis, melainkan ilmiah.

Ilmu pengetahuan positif dikelompokkan seturut derajad dekresensi keumuman dan kresensi kompleksitas, yaitu astronomi, fisika, kimia, biologi dan sosiologi. Teologi dan metafisika tidak masuk kategori ilmu positif, sedangkan moral atau etika digabungkan ke dalam sosiologi dan psikologi ke dalam biologi dan sosiologi. Matematika tidak masuk dalam daftar ilmu karena merupakan basis prinsipil bagi filsafat alam atau keluasan logika alamiah seturut tata deduksi.

Tatanan ilmu pengetahuan disusun seturut urutan logis, historis dan pedagogis. Urutan logis berdasar pada kriteria simplesitas obyeknya: dari yang paling sederhana hingga yang ter-rumit. Bidang sosiologi menjadi proyek keilmuan Comte.

Filsafat berada di luar daftar ilmu. Tugas filsafat adalah menentukan secara tepat roh dari tiap bidang kajian, menemukan prinsip yang menata dan menyangga relasi dan keterkaitan semua ilmu seturut metode positif. Jadi, filsafat direduksikan pada metodologi ilmu pengetahuan atau “sekedar sarana rasional guna memperjelas kaidah logis roh manusia”.

Baca juga: Masih Keok dari Negara Lain, Jokowi Beberkan Data Ekspor RI

Dalam rangka melahirkan kembali satu masyarakat yang stabil dan antikrisis seturut pengetahuan tentang hukum-hukum masyarakat, Comte memposisikannya pada forma agama. Cinta kasih Allah diganti dengan HUMANITAS. Humanitas adalah ada yang melampaui individu, terdiri atas semua individu yang masih hidup, sudah wafat dan belum lahir. Individu merupakan produk humanitas, umat manusia merupakan kumpulan sel dari organisme humanitas dan harus dihargai dan dipuja seperti para dewa kaum pagan. Dogma agama humanitas adalah filsafat positif dan sistem hukum ilmiah.

Tentang Penulis: Srigala Jantan

Gambar Gravatar
Penulis adalah seorang pemimpi, perenung, dan pemikir. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat di salah satu perguruan tinggi Malang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed