oleh

BPS Sebut Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III Terbantu Tingginya Konsumsi Pemerintah

Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III-2020 mencapai 5,05 persen (q-to-q), lebih baik dibanding triwulan II-2020

Secret-financial – Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III-2020 mencapai 5,05 persen (q-to-q), lebih baik dibanding triwulan II-2020 yang terkontraksi sebesar 4,19 persen. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan yang terjadi pada hampir semua komponen Produk Domestik Bruto pengeluaran.

Kepala BPS Suhariyanto menjelaskan, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh komponen pertumbuhan konsumsi pemerintah sebesar 16,93 persen. “Setelah pada triwulan sebelumnya tumbuh sebesar 22,33 persen,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers virtual, Kamis, 5 November 2020.

Sementara itu, komponen ekspor barang dan jasa tumbuh sebesar 12,14 persen setelah terkontraksi sebesar 12,83 persen pada triwulan sebelumnya.

Baca juga: Ormas Sweeping Produk Prancis, Aprindo: Bakal Semakin Membebani Perekonomian

Adapun investasi yang tercermin oleh komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) tumbuh sebesar 8,45 persen. Setelah itu diikuti oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga dan pengeluaran konsumsi lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (PK-LNPRT) yang tumbuh masing-masing sebesar 4,70 persen dan 0,56 persen

Dia juga menuturkan struktur PDB Indonesia menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku triwulan III-2020 tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Perekonomian Indonesia masih didominasi oleh komponen pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang mencakup lebih dari separuh PDB Indonesia yaitu sebesar 57,31 persen.

Lalu diikuti oleh komponen PMTB sebesar 31,12 persen, komponen ekspor barang dan jasa sebesar 17,47 persen, komponen pertumbuhan konsumsi pemerintah sebesar 9,69 persen, komponen PK-LNPRT sebesar 1,29 persen, dan komponen perubahan inventori sebesar minus 0,29 persen.

“Sementara komponen impor barang dan jasa sebagai faktor pengurang dalam PDB memiliki peran sebesar 14,80 persen,” ujar Suhariyanto.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed