fbpx
Bunga Dandelion

Bunga Dandelion

Bunga Dandelion adalah bunga yang indah. Bunga ini memang tidak dihargai dengan harga yang tinggi tetapi siapa saja yang melihat tentu tidak dapat memungkiri keindahannya.

secret-financial – Bunga Dandelion adalah bunga yang indah. Bunga ini memang tidak dihargai dengan harga yang tinggi tetapi siapa saja yang melihat tentu tidak dapat memungkiri keindahannya.Bunga merupakan bagian yang indah dari tanaman. Saking indahnya beberapa jenis bunga dihargai dengan harga yang sangat mahal. Darisana dapat terlihat jelas bahwa sesuatu yang indah itu sangat berharga. Begitu pula dengan kehidupan. Kehidupan merupakan bagian yang indah dari segala yang ada. Bayangkan saja apabila tidak ada kehidupan. Apakah bunga akan tetap ada? Apakah manusia akan tetap ada? Tentu tidak. Bahkan kata indah itu sendiri juga tidak akan pernah ada.

Tidak berlebihan apabila orang mengatakan bahwa kehidupan itu indah. Karena memang demikian. Kehidupan membuat bunga-bunga bermekaran, burung-burung beterbangan, pohon-pohon tumbuh, dan segala hewan dapat bergerak. Kehidupan pula yang membuat manusia dapat merasakan sedih, gembira, kecewa, putus asa dan cinta. Itulah sebabnya kehidupan seharusnya menjadi sesuatu sangat berharga. Namun kenyataannya tidak selalu demikian.

Masih ada banyak orang yang tidak menyadari betapa berharganya kehidupan. Pembunuhan, peperangan, perburuan liar, pembakaran liar dan eksploitasi alam adalah beberapa contoh dari ketidaksadaran itu. Tapi mengapa orang menjadi tidak sadar? Mungkin karena dunia. Orang-orang hidup di dunia, yaitu tempat dimana siapa saja berjuang untuk hidup. Ada tantangan dan rintangan yang harus dihadapi. Untuk itu masing-masing orang mencari dan mempunyai caranya sendiri-sendiri dalam mengatasinya. Tidak jarang tantangan dan rintangan juga membuat orang-orang tersesat atau membutakan mata mereka. Keindahan dan keberhargaan kehidupan menjadi kabur atau bahkan tidak terlihat sama sekali.

Baca juga: Luhut Pastikan Vaksinasi Nasional Dimulai Rabu

Bunga Dandelion adalah bunga yang indah. Bunga ini memang tidak dihargai dengan harga yang tinggi tetapi siapa saja yang melihat tentu tidak dapat memungkiri keindahannya. Tidak hanya bunganya yang menarik benihnya pun seringkali menjadi objek foto. Namun meskipun demikian keindahan bunga ini juga seringkali tidak disadari. Mengapa? Mungkin karena bunga ini kerap tumbuh di tengah-tengah ilalang. Keindahannya tenggelam dalam rimbunnya ilalang. Bahkan ada yang mengira bunga ini merupakan salah satu bagian ilalang. Tetapi hal itulah yang menjadikan bunga Dandelion begitu menarik.

Bunga Dandelion adalah bunga yang indah. Bunga ini memang tidak dihargai dengan harga yang tinggi tetapi siapa saja yang melihat tentu tidak dapat memungkiri keindahannya.

Bunga Dandelion sesungguhnya merepresentasikan kehidupan. Bahkan lebih jauh lagi ia memberikan pelajaran tentang kehidupan. Ketika bunga Dandelion masih berupa benih ia akan pasrah mengikuti kemana arah angin membawanya. Sebab benih Dandelion yang rapuh begitu mudah ditiup oleh angin. Namun setelah ia sampai ke tanah ia akan tetap tumbuh tanpa mengeluh. Dandelion akan tetap berbunga meskipun di tengah-tengah ilalang. Ia justru membawa keindahan di antara ilalang-ilalang yang menghimpitnya. Begitulah seharusnya kehidupan ini dijalani. Seperti bunga Dandelion.

Baca juga: Keluarga Korban Sriwijaya Air Minta Urusan Pendataan Tidak Berbelit

Apabila kehidupan sama seperti bunga Dandelion. Seseorang seharusnya memasrahkan kehidupannya kepada Sang Pencipta. Karena tidak ada yang tahu pasti kemana Ia akan membawa meskipun setiap manusia memiliki rencana sendiri. Tidak jarang manusia mengeluh dalam menjalani kehidupan ini. Terutama saat ia bertemu dengan ilalang atau masalah. Keindahan kehidupan tidak dapat lagi dirasakan. Semua keindahan itu seakan-akan tenggelam dalam ilalang masalah yang dihadapi.

Setiap orang merasa semua tantangan dan rintangan di dalam hidupnya begitu berat. Perasaan menjadi kosong dan hampa. Ada keraguan yang juga perlahan menggerogoti diri. Banyak yang merasa sudah berusaha tapi rasanya sia-sia. Refleksi ini bertujuan untuk menyadarkan siapa saja bahwa mereka selama ini terlena. Tidak sedikit orang yang merasa berkuasa atas dirinya sendiri, atas kehidupan. Padahal siapalah aku (individu)? Aku bukan apa-apa. Seharusnya aku belajar dari Dandelion dan memang seseorang harus belajar darinya.

Dunia, dimana saja tempatnya, akan tetap sama. Untuk dapat hidup di dalamnya manusia tidak dapat mengandalkan diri sendiri. Ia harus pasrah kepada Sang Pencipta seperti benih Dandelion yang pasrah dibawa angin. Dengan demikian ketika tiba saatnya maka kehidupan ini akan memekarkan bunga meski di tengah-tengah ilalang sekalipun. Dan manusia memang seharusnya membawa keindahan itu di sana, membuat kehidupannya menjadi sesuatu yang indah.

FRIEDRICH NIETZSCHE

FRIEDRICH NIETZSCHE

Nietzsche adalah simbol dari kegamangan, kegalauan, pertentangan, pemberontakan dan pemujaan terhadap harkat dan martabat serta kemampuan rasional manusia.

Hidup menurut Insting

Di bawah pengaruh Schopenhauer, Nitzsche memandang hidup secara negatif sebagai realitas kejam, irrasional buta, sarat duka nestapa dan kehancuran. Hanya seni dapat memberikan kepada individu kekuatan dan kecakapan guna menghadapi derita hidup dan pro life. Untuk itu, Nietzsche sungguh mengagungkan peradaban pra Socrates yang sarat dengan makna tragis, sebagai jawaban”ya” bagi hidup yang penuh derita, meneguhkan individu di depan fatalitas fakta dan mengagungkan nilai-nilai vital. Seni tragis merupakan suatu peneguhan dan berkata “ya” pada hidup.

Dalam seni tragis ini, Nietzsche melihat dan mengidolakan roh Dionisius, yang menjadi gambaran dari daya instingtif, kesehatan, kemabukan yang kreatif dan sentimen sensual, simbol umat manusia yang berada dalam harmoni penuh dengan alam. Lawan Dionisius adalah Apollo, visi impian, suatu upaya untuk mengungkapkan makna segala sesuatu secara terukur dan terkendali. Apollo merupakan gambaran tokoh yang seimbang dan tulus.

Karakter Patetis, Konfliktual dan Kritis

Ungkapan bernada patetis dan kritis memperlihatkan karakter dasar pemikiran Nietzsche yang menentang segala bentuk kemapanan, tradisi dan dogma. Secara lugas Nietzsche menentang sikap dan anggapan dogmatis positivisme dan nilai absolut fakta-fakta. Alasannya, “fakta-fakta senantiasa adalah kebodohan dan sepanjang segala waktu selalu lebih mirip dengan seekor domba daripada seorang Dewa”.

Nietzsche mengkritik juga antusiasme para idealis dan sejarawan yang memandang dengan penuh optimisme makna kejelasan dan progresif sejarah. “Kemajuan merupakan gagasan modern, yakni gagasan yang keliru”. Klaim kepastian dan kebenaran oleh ilmu-ilmu pasti merupakan produk canggih modernitas itu sendiri, meskipun dalam realitas klaim demikian tidak dapat dibuktikan.

Baca juga: Cerita Warga saat Sriwijaya Air Jatuh

Sedangkan terhadap keyakinan dan harapan kaum agamawan, Nietzsche memaklumkan kematian Allah. “Der Gott ist tot”, ia menyerang dengan nada keras bahwa kristianisme adalah suatu cacat dan tiada yang lebih sakit-sakitan di tengah kesakitan umat manusia selain belaskasihan kristiani. Nietzsche mengagungkan nilai moral kaum aristokrat: semua nilai moral kaum aristokrat muncul dari pengakuan agung atas diri sendiri, sedangkan nilai moral kaum budak sejak awal bersumber dari “ya” untuk orang lain, bukan dari diri sendiri

Sikap kontradiktif melawan semua didasarkan pada keyakinan pribadi Nietzsche bahwa dirinya memiliki hal baru dan penting yang dapat ditawarkan untuk menjawab segala keluh kesah dunia dan manusia.

Negara adalah tempat di mana semua, baik dan jahat, mabuk racun, di mana semua kehilangan kendali atas diri sendiri, di mana bunuh diri pelan-pelan disebut hidup. Dengan demikian tampak jelas bahwa, menurut Nietzsche,” kebudayaan dan negara adalah antagonistis”.

Kematian Allah

Kritik dan sikap bermusuhan Nietzsche terhadap idealisme, positivisme, sejarah dan lain sebagainya dilengkapi dengan serangan terhadap semua agama dan kekristenan. Kemunculan agama Kristen yang mengakhiri peradaban dan filsafat Yunani dianggapnya sebagai racun yang mengotori kemanusiaan. Karena itu, Nietzsche memaklumkan kematian Allah agar manusia melepaskan diri dari pikiran dan impian-impian surgawi-ilahi dan menancapkan kaki dan budinya hanya di bumi ini.

Dengan kematian Allah, seluruh bangunan nilai yang menyangga dan menaungi peradaban Barat ikut menghilang dan akibatnya lenyap pula titik acuan dan pedoman hidup.

Kematian Allah merupakan titik balik dan sekaligus garis demarkasi yang memisahkan sejarah umat manusia. Orang-orang yang masih hidup dalam kerangka berpikir lama, dengan menyandarkan diri pada kekuatan Allah dan harapan akan dunia ilahi adalah manusia lama yang masih hidup dalam kebodohan dan ketiadaberdayaan. Sementara orang-orang yang lahir setelah kematian Allah akan menjadi anggota peradaban dan bagian sejarah yang lebih agung. Mereka akan menjadi tuhan atas dirinya sendiri, menjadi superman.

Genealogi Moral

Nietzsche juga mengkritik moralitas dan sistim nilai yang menjadi pedoman, rujukan dan pegangan umat manusia. Nietzsche bukan sekedar ingin mengusahakan transformasi peradaban dan sistim nilai, melainkan membuat sebuah revolusi peradaban dan revolusi nilai. Program ini terungkap dalam dua karyanya: “Mengatasi Baik dan Buruk” dan “Genealogi Moral”.

Nietzsche memulai argumentasinya dengan mempertanyakan bahwa hingga kini tiada keraguan sekecil apapun dalam memastikan “kebaikan” sebagai nilai yang lebih superior daripada “keburukan”. Bagaimana kepastian demikian bisa terjadi, seandainya kebenaran bisa berarti lain dan dalam kebaikan terkandung juga sintom regresi, seperti bahaya, godaan dan racun? Untuk menemukan hakekat moralitas dan nilai moral, Nietzsche membuat sebuah penyelidikan terhadap mekanisme psikologis yang mengiluminasi kemunculan nilai-nilai. Ia berpendapat bahwa pemahaman terhadap kemunculan psikologis nilai-nilai an sich memadai untuk meragukan  anggapan absolut dan ketidakraguan moral.

Baca juga: Susilo Bambang Yudhoyono: Jangan Berpikir Vaksin Ada Pandemi Hilang

Bagi Nietzsche, moral merupakan sebuah instrumen yang dirancang untuk mendominasi yang lain dan bukan sekedar sebuah sistim nilai yang memfasilitasi individu dalam mewujudkan diri dan menjalin relasi dengan sesama serta menghayati kebersamaan secara beradab dan berbudaya. Karakter dominatif moral didasarkan pada realitas dikotomis dalam masyarakat yang terdiri atas kelas aristokrat, orang-orang sukses, berkuasa dan memiliki kesadaran akan diri sendiri dan kelompok budak belian, orang-orang lemah, gagal dan pecundang.

Sistem nilai yang diajarkan oleh kristianisme tiada lain selain sebuah alat yang dipakai oleh para budak dan pecundang untuk menundukkan kaum berkuasa. Nietzsche melihat bahwa sistem nilai kaum aristokrat berakar pada kesadaran yang teguh akan diri sendiri, sementara nilai moral kelompok lemah, budak belian dan pecundang secara prinsipil timbul dari penolakan atas sesuatu yang bukan menjadi bagian dari diri mereka.

Pembalikan tata moral demikian merupakan bagian inheren dari dendam kesumat terhadap kaum aristokrat. Moralitas dan sistem nilai kristiani merupakan intisari dan ekspresi kemurkaan dan iri hati melawan daya hidup, kesehatan, kecintaan atas hidup dunia. Dendam dan murka, cemburu dan iri hati kemudian ditransformasikan menjadi kewajiban dan keutamaan, lalu selanjutnya diagungkan menjadi nilai-nilai suci nan luhur, tuntutan dan rujukan wajib bagi perilaku dan sikap hidup individu. Dengan kata lain, nilai-nilai luhur nan mulia dalam moralitas aktual hendaknya dibaca secara terbalik, sebab secara prinsipil kebaikan adalah keburukan, kebenaran merupakan kepalsuan, kasih adalah kebencian dan pengampunan merupakan balas dendam kaum budak belian terhadap tuan-tuan mereka.

Sistem nilai menjadi sarana satu-satunya yang memungkinkan para budak belian, miskin papa dan pecundang untuk melawan, menundukkan dan menguasai kaum kuat kuasa. Sistem nilai adalah tameng semata untuk menutup dan melindungi watak jahat dan beringas mereka. Karena itu, Nietzsche menegaskan bahwa moralitas dan sistem nilai kaum kuat kuasa merupakan moralitas dan sistem nilai yang berlandaskan pada keagungan diri, kemurahan hati dan keutuhan pribadi, sementara moralitas dan sistem nilai para budak merupakan moralitas dan sistem nilai para pendendam, demokrasi dan sosialisme.

Nihilisme dan Reinkarnasi Abadi

Penghancuran terhadap kristianisme, moralitas dan sistem nilai serta kebenaran metafisik yang telah sekian lama memberikan rasa aman dan kepastian kepada manusia membawa konsekwensi langsung: kegamangan, kegalauan, kekosongan, ketiadaan arti bagi sekian banyak orang. Nihilisme merupakan akibat langsung dari penyingkapan terhadap ilusi-ilusi tentang dunia atas dan segenap sistim nilainya. Ketika manusia tahu bahwa apa yang dia hidupi, yakini dan hayati hari demi hari merupakan sebuah dusta dan ilusi, maka akan timbul dalam hatinya lembah kegelapan, kekelaman dan ketiadaan.

Nihilisme pertama-tama berkaitan dengan status psikologis seseorang yang setelah sekian lama mencari makna dari keberadaan dan nilai dirinya, sesama, semesta relasi, aktivitas dan hal ideal, perwujudan suatu kondisi hidup personal dan sosial yang lebih baik, otentik dan benar secara moral, namun setelah membuat analisa yang mendalam (gambaran dari Nietzsche sendiri), ia hanya menemukan kepalsuan dan penipuan.  Penemuan demikian memunculkan rasa kecewa, muak, antipati, sakit hati, masa bodoh dan akhirnya bermuara pada ketidakpercayaan. Kekecewaan karena telah merasa ditipu membuat orang kehilangan kepercayaan dan kepastian; kekecewaan adalah salah satu sebab utama nihilisme.

Nihilisme timbul juga dari kesadaran manusia bahwa semesta wacana dan nilai yang telah dibangunnya dan selama sekian waktu diyakini eksistensinya, ternyata dalam realitas tidak pernah ada. Totalitas ada, klasifikasi dan kategorisasi, separasi dan unifikasi, persepsi dan abstraksi seperti yang dikerjakan oleh para pemikir metafisik ternyata sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Setelah menelisik ke jantung dunia ini, mereka akan segera sadar bahwa adalah mubazir mencari prinsip umum dan sebab yang mendasari, menjiwai dan menjadi rujukan eksistensi manusia dan semesta. Dalam dunia ini tiada sesuatupun yang bernilai dan bermakna, tiada lagi awal maupun akhir, menjadi nirmakna berbicara tentang kebenaran dan kepastian, kesatuan dan keutuhan. Kesadaran baru ini memunculkan perasaan yang tidak menentu, nirmakna dan tanpa nilai apapun.

Karakter esensial keberadaan manusia di dunia dan semesta raya adalah khaos, kacau balau. Tiada nilai absolut maupun struktur rasional apapun; manusia hidup tanpa pegangan dan pedoman. Hidup dan aktivitas, perbuatan dan tindakan manusia tidak memiliki landasan dan tujuan di luar kehendak dirinya. Dunia adalah khaos itu sendiri, eksis tanpa awal maupun akhir. Apa yang harus dilakukan manusia adalah menerima secara apa adanya dunia dan dirinya sendiri serta mencintainya dengan sepenuh hati. Meskipun tiada keteraturan maupun keindahan, tanpa makna dan nilai, dunia an sich memiliki suatu keniscayaan dan keniscayaan tersebut adalah volontas, kehendak.

Sejak dari keabadian, dunia telah dikuasai oleh kehendak untuk menerima diri sendiri dan mengulang diri. Itulah gerak kembali abadi, eterno ritorno dunia dan manusia lewat proses reinkarnasi.

Manusia Super

Pesan untuk menerima dunia merupakan sebuah pesan yang spesial dan bukan kebetulan. Menerima dunia apa adanya berarti menerima khaos, reinkarnasi, gerak kembali abadi dan terutama menerima hidup itu sendiri. Dunia adalah hidup manusia dari dulu hingga nanti, karena Tuhan, dunia atas, surga, realitas transendental hanya merupakan rekayasa manusia. Namun pesan ini ditujukan bukan kepada manusia “lama”, manusia yang masih terikat dengan Allah, metafisika, agama-agama dan sistim moralnya, orang-orang sakit dan bodoh, melainkan kepada Übermensch, superman. “

Baca juga: Jokowi: Alhamdulillah Kita tidak Sampai Lockdown

Nietzsche bermaksud mengajak semua manusia menjadi manusia baru. Manusia baru bukanlah titisan dari langit melainkan upaya serius manusia itu sendiri; ia harus menciptakan kebaruan dalam dirinya. Caranya, manusia harus membuang jauh seluruh kepercayaan dan impian masa lalu tentang Allah dan surga, baik dan jahat, benar dan salah yang hanya mengalihkan perhatiannya dari keberakaran abadinya dalam dunia. Untuk menjadi manusia baru, manusia super, setiap orang harus berani mengatakan “tidak” terhadap Allah dan agama; manusia harus tega menjadi “pembunuh” Allah.

Manusia super adalah individu yang memiliki kehendak teguh, kebanggaan pada diri sendiri, mencintai dunia secara tulus dan murni.

AUGUSTE COMTE

AUGUSTE COMTE

AUGUSTE COMTE
Auguste Comte

Secret-financial Auguste Comte melihat satu hukum universal dalam semua ilmu pengetahuan yang kemudian ia sebut sebagai ‘hukum tiga fase’. Melalui hukumnya ia mulai dikenal di seluruh wilayah berbahasa Inggris (English-speaking world); menurutnya, masyarakat berkembang melalui tiga fase: Teologi, Metafisika, dan tahap positif (atau sering juga disebut “tahap ilmiah”).

Fase Teologi dilihat dari prespektif abad ke-19 sebagai permulaan abad pencerahan, dimana kedudukan seorang manusia dalam masyarakat dan pembatasan norma dan nilai manusia didapatkan didasari pada perintah Tuhan. Meskipun memiliki sebutan yang sama, fase Metafisika Comte sangat berbeda dengan teori Metafisika yang dikemukakan oleh Aristoteles atau ilmuwan Yunani kuno lainnya; pemikiran Comte berakar pada permasalahan masyarakat Perancis pasca-revolusi. Fase Metafisika ini merupakan justifikasi dari “hak universal” sebagai hal yang pada [atas] suatu wahana [yang] lebih tinggi dibanding otoritas tentang segala [penguasa/aturan] manusia untuk membatalkan perintah lalu, walaupun berkata [hak/ kebenaran] tidaklah disesuaikan kepada yang suci di luar semata-mata kiasan. Apa yang ia umumkan dengan istilahnya yaitu Tahap yang ilmiah, yang kemudian menjadi nyata setelah kegagalan revolusi dan [tentang] Napoleon, orang-orang bisa temukan solusi ke permasalahan sosial dan membawanya ke dalam kekuatan proklamasi hak asasi manusia atau nubuatan kehendak Tuhan.

Baca juga: Pilkada Tetap Jalan, Ibadah dan Sekolah di Tutup, Ada Apa Dengan Negara Ini

Auguste Comte melihat ilmu pengetahuan baru ini, sosiologi, sebagai yang terbesar dan yang terakhir dari semua ilmu pengetahuan, apa yang itu akan meliputi semua lain ilmu pengetahuan, dan yang akan mengintegrasikan dan menghubungkan penemuan mereka ke dalam suatu yang utuh. Comte merumuskan hukum tiga langkah-langkah, teori yang pertama evolutionime yang sosial, tahap metaphysical dan tahap Positif.

Garis Besar Pemikiran

Mereformasi seluruh dunia dan hidup manusia. Ada tiga tahap hidup dan sejarah pengetahuan umat manusia, fase teologis, fase metafisik, fase positivis. Periode teologis merupakan masa penuh khayalan dan dilihat sebagai hasil karya langsung dan berlanjut oleh banyak tokoh supranatural. Stadium metafisik merupakan era abstrak dan dijelaskan oleh hakekat, ide atau daya abstrak (atom berpadu berkat simpati, tumbuhan berkembang karena kehadiran jiwa vegetativ). Tingkatan tertinggi adalah fase positivis atau ilmiah, di mana nalar bermaksud mencari hukum atau kaidah, yakni relasi permanen suksesi dan kemiripan dari segala sesuatu seturut penalaran dan pengamatan.

Manusia modern berada pada fase positivis/ilmiah. Maka, filsafat ilmiah/positif harus menempatkan masyarakat pada posisi kajian ilmiah yang ketat guna merekonstruksinya. Untuk rekonstruksi masyarakat supaya terlepas dari krisis sosial-politik diperlukan secara niscaya pengetahuan tentang semesta fakta sosial dan politik. Untuk alasan tersebut dibutuhkan suatu fisika sosial atau sosiologi ilmiah. Tujuan fisika sosial atau sosiologi ilmiah adalah menemukan hukum.

Baca juga: Jokowi dan Sri Mulyani Pernah Beri Peringatan Jangan Korupsi Dana COVID-19

Pengetahuan sejati terletak pada hukum yang dikontrol oleh fakta, sehingga tiada tempat bagi riset guna menemukan hakekat dan sebab tertinggi metafisik. Gagasan Comte tentang pengetahuan bukan berciri tekhno-praktis, melainkan ilmiah.

Ilmu pengetahuan positif dikelompokkan seturut derajad dekresensi keumuman dan kresensi kompleksitas, yaitu astronomi, fisika, kimia, biologi dan sosiologi. Teologi dan metafisika tidak masuk kategori ilmu positif, sedangkan moral atau etika digabungkan ke dalam sosiologi dan psikologi ke dalam biologi dan sosiologi. Matematika tidak masuk dalam daftar ilmu karena merupakan basis prinsipil bagi filsafat alam atau keluasan logika alamiah seturut tata deduksi.

Tatanan ilmu pengetahuan disusun seturut urutan logis, historis dan pedagogis. Urutan logis berdasar pada kriteria simplesitas obyeknya: dari yang paling sederhana hingga yang ter-rumit. Bidang sosiologi menjadi proyek keilmuan Comte.

Filsafat berada di luar daftar ilmu. Tugas filsafat adalah menentukan secara tepat roh dari tiap bidang kajian, menemukan prinsip yang menata dan menyangga relasi dan keterkaitan semua ilmu seturut metode positif. Jadi, filsafat direduksikan pada metodologi ilmu pengetahuan atau “sekedar sarana rasional guna memperjelas kaidah logis roh manusia”.

Baca juga: Masih Keok dari Negara Lain, Jokowi Beberkan Data Ekspor RI

Dalam rangka melahirkan kembali satu masyarakat yang stabil dan antikrisis seturut pengetahuan tentang hukum-hukum masyarakat, Comte memposisikannya pada forma agama. Cinta kasih Allah diganti dengan HUMANITAS. Humanitas adalah ada yang melampaui individu, terdiri atas semua individu yang masih hidup, sudah wafat dan belum lahir. Individu merupakan produk humanitas, umat manusia merupakan kumpulan sel dari organisme humanitas dan harus dihargai dan dipuja seperti para dewa kaum pagan. Dogma agama humanitas adalah filsafat positif dan sistem hukum ilmiah.

Søren Kierkegaard

Søren Kierkegaard

Søren Aabye Kierkegaard (5 Mei 181311 November 1855) adalah seorang filsuf dan teolog abad ke-19 yang berasal dari Denmark. Kierkegaard sendiri melihat dirinya sebagai seseorang yang religius dan seorang anti-filsuf, tetapi sekarang ia dianggap sebagai bapaknya filsafat eksistensialisme. Kierkegaard menjembatani jurang yang ada antara filsafat Hegelian dan apa yang kemudian menjadi Eksistensialisme. Kierkegaard terutama adalah seorang kritikus Hegel pada masanya dan apa yang dilihatnya sebagai formalitas hampa dari Gereja Denmark. Filsafatnya merupakan sebuah reaksi terhadap dialektik Hegel.

Banyak dari karya-karya Kierkegaard membahas masalah-masalah agama seperti misalnya hakikat iman, lembaga Gereja Kristen, etika dan teologi Kristen, dan emosi serta perasaan individu ketika diperhadapkan dengan pilihan-pilihan eksistensial. Karena itu, karya Kierkegaard kadang-kadang digambarkan sebagai eksistensialisme Kristen dan psikologi eksistensial. Karena ia menulis kebanyakan karya awalnya dengan menggunakan berbagai nama samaran, yang seringkali mengomentari dan mengkritik karya-karyanya yang lain yang ditulis dengan menggunakan nama samaran lain, sangatlah sulit untuk membedakan antara apa yang benar-benar diyakini oleh Kierkegaard dengan apa yang dikemukakannya sebagai argumen dari posisi seorang pseudo-pengarang. Ludwig Wittgenstein berpendapat bahwa Kierkegaard “sejauh ini, adalah pemikir yang paling mendalam dari abad ke-19”.

Baca juga: Tarif Listrik Tahun Ini Naik Nggak Ya? Mau Tau?

Hidup dan Karya

Dari ketujuh orang anak, hanya dua saja bertahan hidup, yakni Petrus, saudara keenam, yang kelak akan menjadi uskup Luteran dan Kierkegaard sendiri. Melihat realitas hidup keluarganya, Kierkegaard memahaminya sebagai takdir misterius yang tragis. Bagi Kierkegaard, hubungannya dengan sang ayah dan seluruh keluarga merupakan sebuah salib, hubungan religius yang menyakitkan dan dihidupi sebagai hukuman ilahi. Hidup keluarganya merupakan tanda hidup dari keadilan ilahi yang mengalir dari realitas dosa dan kesalahan.

Kesadaran mengenai warisan dosa keluarganya dan idealitas kristiani membuat Kierkegaard membatalkan hubungan pertunangannya dengan Regina Olsen ke jenjang perkawinan maupun niatnya untuk menjadi pendeta Luteran.

Garis Besar Pemikiran

Idealitas kristiani menuntut Allah harus diutamakan, didahulukan daripada apapun dan siapapun (konsekuensi tdk menikah). Bagi Kierkegaard, iman merelativir semua hal duniawi dan iman bukanlah budaya. “Kristianisme bukanlah kebenaran yang harus dibuktikan (demonstrare), melainkan diberi kesaksian (testimoniare), sebab kebenaran kristen berada pada pihak Allah dan bukan pada pihak manusia. Maka imam dan dosen merupakan saluran rahmat untuk kepuasan abadi dan bukan untuk kepuasan waktu kini”.

Kebenaran bersifat subyektiv dalam arti: tiada seorangpun dapat mengganti tempatku di hadapan Allah. Hukum eksistensi (rahmat) yang telah ditetapkan Kristus bagi manusia adalah tempat dirimu dalam relasi sebagai subyek tunggal di hadapan Allah.

Seorang kristen merupakan saksi kebenaran. Saksi sejati adalah orang yang hidup dalam kemiskinan, rendah hati, merendahkan diri, anonim, dibenci, dijauhi, diejek, dihina, dianiaya dan ditolak.

Manusia adalah tunggal atau subyek. “Dalam spesies binatang berlaku selalu hukum: subyek adalah lebih rendah daripada golongan. Ras manusia mempunyai karakteristik, karena setiap subyek diciptakan seturut gambaran Allah, sehingga subyek lebih tinggi daripada rasnya”.

Eksistensi bertalian dengan realitas tunggal, Subyek yang berada di luar atau terlepas dari konsep. Manusia nyata tidak memiliki eksistensi konseptual. Subyek selalu berada di luar sistem. Subyek tunggal merupakan kunci untuk melawan dan merobohkan sistem. Sang subyek tunggal merupakan kategori lewat mana waktu, sejarah dan kemanusiaan mesti berjalan: eksistensi.

Eksistensi merupakan dunia menjadi, kontingen dan menyejarah. Eksistensi merupakan dunia kebebasan. Manusia merupakan sebuah pilihan untuk menjadi sesuatu, sehingga cara berada eksistensi bukanlah realitas atau necesitas, melainkan kemungkinan. Jadi, eksistensi adalah kebebasan atau dapat menjadi, kemungkinan: tidak memilih, tetap terkurung, memilih dan lenyap, kemungkinan sebagai ancaman ketiadaan. Jadi, kegalauan merupakan suasana batin manusia dalam hubungannya dengan dunia. Kegalauan merupakan sekolah iman.

Keputusasaan merupakan perasaan batin manusia dalam hubungannya dengan dirinya sendiri dan timbul dari kekurangmampuannya menerima diri secara mendalam, apa adanya. Penyebab dari keputusasaan adalah penolakan pribadi terhadap uluran tangan Allah, “sang sumber dari mata kita dapat meminum air”.

Eksistensi berhingga subyek-individu konkrit bukan dicirikan oleh hubungan  et – et atau dan – dan, melainkan oleh relasi aut – aut atau atau – atau. Hidup manusia adlah suatu pilihan dan keputusan individu.

Baca juga: 32 Pengendara di Ngawi Terjaring Operasi Yustisi

Hidup individu konkrit berada dalam tiga fase penting, yakni fase ideal estetis, hidup etis dan hidup iman. Ideal estetis merupakan hidup seorang (perayu) yang hidup dari waktu ke waktu tanpa ada keseriusan dalam hidup etis, tenggelam dalam kesenangan dan kepuasan duniawi. Dari ideal etis, orang dapat membuat lompatan ke hidup etis. Lompatan tiada lain adalah pilihan dan keputusan untuk keluar dari hidup tanpa etika ke hidup yang ditatakelola seturut ukuran baik-buruk, dosa-suci, benar-salah, adil-durjana dst. Seseorang yang hidup seturut kaidah logika bisa mengambil keputusan untuk hidup seturut tuntutan iman. Itulah fase tertinggi dan sempurna dalam hidup manusia.

Hidup iman merupakan hidup dalam paradoks. Contoh nyata adalah Abraham. Kalau orang menerima iman, hidup religius sejati tampak dalam semua paradoksalnya: pilihan tragis. Iman merupakan paradoks dan kegalauan di hadapan Allah sebagai kemungkinan tak-berhingga. Karena Allah harus diprioritaskan, maka Kierkegaard memandang rendah ilmu alam dan teologi pada umumnya.

Tentang Manusia, Tuhan dan Alam

Tentang Manusia, Tuhan dan Alam

Pertanyaan tentang Manusia menjadi pertanyaan besar filsafat. Pertanyaan yang tidak pernah usai sejak adanya kesadaran. Pertanyaan ini
(Suatu Refleksi Filosofis)

Secret-financial – Pertanyaan tentang Manusia menjadi pertanyaan besar filsafat. Pertanyaan yang tidak pernah usai sejak adanya kesadaran. Pertanyaan ini memiliki sejarah peradaban dan berlangsung hingga saat ini. Tidak ada penjelasan singkat yang dapat menguraikan dengan jelas apa itu Manusia. Proses penggalian keberadaan manusia terus berlangsung dari abad 6 SM (Thales) hingga saat ini. Manusia akan selalu mempertanyakan dirinya sendiri dan keberadaannya karena ia adalah seorang penanya. Hal ini sudah menjadi bagian dalam diri manusia sejak ia sadar akan keberadaannya sebagai bagian di dalam alam semesta.­­­

Manusia memiliki badan atau tubuh. Badan itu sama seperti materi lain dan bersifat tidak abadi. Badan ini mewakili kemanusiaan. Seseorang tidak bisa menciderai tubuh orang lain karena itu merupakan perbuatan yang melawan kemanusiaan. Manusia menghormati tubuhnya sendiri dan Manusia lain karena tubuh adalah Manusia itu sendiri. Manusia hadir di dalam tubuhnya. Manusia akan dianggap manusia ketika ia memiliki tubuh. Meskipun Tubuh Manusia tidak melulu sama satu dengan yang lain, ada yang kurang sempurna, Manusia tetap sama dan sederajat. Kondisi atau situasi seperti itu yang disebut dengan kemanusiaan. Kemanusiaan mengatasi segala perbedaan.

Ideologi apartheid, sebuah ideologi yang menggiring perbedaan warna kulit sebagai perbedaan Martabat Manusia, telah melukai Manusia dari hakikatnya. Mengapa demikian? Karena hakikat manusia disempitkan pada warna kulit. Seharusnya orang-orang tidak memandang tubuh itu sebagai sesuatu yang terpisah dari Manusia. Tetapi melihat bahwa tubuh adalah Manusia itu sendiri. Maka, tidak ada lagi perbedaan warna kulit tetapi satu persamaan derajat dalam kata Manusia.

Pertanyaan tentang Manusia menjadi pertanyaan besar filsafat. Pertanyaan yang tidak pernah usai sejak adanya kesadaran. Pertanyaan ini
Baca juga: Pilkada Tetap Jalan, Ibadah dan Sekolah di Tutup, Ada Apa Dengan Negara Ini

Plato juga berbicara tentang jiwa Manusia. Plato beranggapan bahwa dalam diri Manusia terdapat dua bahan utama, yaitu jiwa dan badan. Kedua bahan ini menyatu tetapi juga bertentangan. Plato berkata Manusia adalah “penjara” bagi jiwa. Jiwa selalu ingin berziarah atau dalam hal ini “keluar” dari badan yang bersifat terbatas. Manusia itu hidup karena jiwanya. Hidup itu berziarah. Jiwa Manusia ingin berziarah mengejar kesempurnaanya. Karena menurut Plato akhir dari jiwa Manusia adalah Dunia “Idea” (atau Forma). Perziarahan jiwa inilah yang pada akhirnya mengatasi keterbatasan tubuh manusia.

Dari penjelasan Plato terlihat bahwa Manusia memiliki dua bahan di dalam dirinya. Tetapi tidak cukup sampai pada dua bahan itu saja, Manusia juga ternyata memiliki akal budi (rasio). St. Thomas Aquino mengatakan rasio itu yang berasal dari Allah, Pencipta. Immanuel Kant berpendapat bahwa karena rasio Manusia bisa mengenal semua yang ia temui dalam hidupnya. Penjelasan kedua filosof ini memang belum cukup karena pembicaraan tentang rasio hingga saat ini belum selesai. Terlepas dari sifat filsafat yang selalu berusaha mencari dan menggali kebenaran.

Descartes juga berbicara tentang rasio. Menurutnya rasio membuat Manusia rasional. Kalimat paling terkenal dari Descartes ialah cogito ergo sum. Kalimat ini berarti “aku berpikir maka aku ada”. Descartes beranggapan bahwa keberadaan Manusia itu adalah karna akal budinya. Manusia yang tidak berpikir maka dia tidak mengada atau menjadi Manusia. Descartes membawa kita pada realitas gaya berpikir Manusia modern yang bisa diringkas dalam adagium science is power. Ilmu pengetahuan menjadi tolak ukur kekuasaan. Orang-orang menjadikan teknologi yang terpenting. Sehingga mengesampingkan kemanusiaan. Bahkan dalam kehidupan nyata kita dapat melihat bahwa kemajuan teknologi yang memicu kemunduran humanitas dan menghancurkan kemanusiaan.

Pembahasan tentang rasio dalam filsafat manusia sangat luas. Begitu pula penjelasan filosofis mengenai manusia. Tidak ada yang tuntas sama sekali. Manusia tidak boleh dimengerti sekedar dari bahan penyusun dirinya, yaitu jiwa dan tubuh. Manusia adalah dirinya dengan segala pengalamannya. Ini yang dalam filsafat disebut eksistensi.

Tuhan masuk dalam pengalaman hidup manusia. Tuhan menyejarah dalam hidup sehari-hari manusia. Tuhan dalam filsafat diidentikkan prinsip “Ada”, “Gerak”, dan “Hidup”. Allah adalah sumber “Hidup”. Hidup yang dimaksud dalam filsafat adalah kesempurnaan. Tuhan adalah kesempurnaan itu sendiri. Kita telah melihat bahwa jiwa Manusia berziarah menuju kesempurnaan. Dalam hal ini berarti Manusia berziarah menuju Tuhan. Tidak salah bila Manusia mengidentifikasi hidup dengan perziarahan. Manusia itu hidup untuk berziarah bersama Allah yang hadir dan menyejarah dalam sejarah Manusia. Allah yang menyusun dan mengarahkan Manusia untuk menuju kepada diri-Nya.

Baca juga: Jokowi dan Sri Mulyani Pernah Beri Peringatan Jangan Korupsi Dana COVID-19

Pergulatan manusia setiap hari adalah pergumulan Tuhan. Tuhan tidak pernah melepaskan diri dari sejarah Manusia. Tuhan ada dalam keseharian hidup kita. Hanya saja Tuhan tidak sembarang hadir dalam setiap peristiwa. Tuhan tidak mungkin ada diantara mereka yang mempromosikan kekerasan dan kebencian. Tuhan itu ada dalam kebaikan, ketulusan dan kejujuran orang yang merindukan belas kasih-Nya.

Manusia itu hidup dan tinggal di dalam Alam. Alam yang begitu indah. Keindahan Alam akan mengantar kita kepada Dia yang menyebabkan keindahan. Itu tidak dapat dipungkiri karena kita memiliki akal budi. Alam adalah dinamika kesempurnaan hidup manusia itu sendiri. Alam seakan menjadi rujukan bagi ritme hidup sehari-hari. Alam pula yang seolah menata bagaimana manusia harus menjalani aktivitasnya, menjadi “hukum” kehidupan. Dan tidak boleh kita lupakan bahwa manusia sesungguhnya sedang berziarah di dalam Alam ini. Tetapi dalam kenyataannya Manusia lupa bahwa ia tinggal di dalam Alam. Manusia hanya berpikir mengenai dirinya sendiri. Ia memperkosa Alam demi kepuasan dan keegoisannya. Uang telah membuat mata Manusia buta. Alam menjadi rusak dan berada dalam ranah yang sangat mengkhawatirkan.

Salah satu cara untuk melihat nilai keluhuran Alam ialah dengan menggali khasanah kearifan manusia, diantaranya filsafat jawa. Dalam filsafat jawa begitu banyak cerita yang berisi pesan-pesan penting untuk menjaga kelestarian Alam. Dan ini bukan tentang agama. bagi orang jawa, di samping Alam adalah ibu yang memiliki segalanya untuk manusia “anaknya”, Alam juga merupakan sebuah tata kesempurnaan, keselarasan dan keindahan.

Baca juga: Masih Keok dari Negara Lain, Jokowi Beberkan Data Ekspor RI

Alam itu sangat indah. Alam indah dalam tatanan pemandangan, flora dan fauna yang hidup di dalamnya. Ia juga indah karena matahari, bulan dan bintang yang menjadi penanda hari-hari manusia. Ia indah karena hadir dan nyata. Alam indah karena manusia yang “dilahirkan, ditumbuhkan, dan dibesarkan” di dalamnya tidak kekurangan apa pun. Ia menyediakan semua yang diperlukan manusia. Tanpa Alam yang baik manusia akan segera punah dari dunia ini. Manusia mustahil untuk menjadi ada atau mengada lagi. Manusia tidak akan bisa berziarah untuk mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu sudah seharusnya Alam dipandang sebagai penentu kehidupan manusia sehingga manusia perlu menghormati, menjunjung tinggi dan mensyukurinya. Sebab Alam identik dengan kehidupan itu sendiri.