oleh

Di Tengah Pandemi Covid-19, Intip Rekomendasi Saham Rumah Sakit MIKA dan HEAL

Emiten rumah sakit turut terdampak di tengah pandemi Covid-19. Termasuk, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL).

Secret-financial – Emiten rumah sakit turut terdampak di tengah pandemi Covid-19. Termasuk, PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA) dan PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL).

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Joshua Michael dalam risetnya memaparkan, trafik rawat inap telah mencapai titik terendahnya pada kuartal II 2020. Sementara di sisa tahun ini kunjungan pasien rawat jalan berpotensi tetap rendah. 

Akan tetapi, rumah sakit akan mendapat keuntungan dari ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan terkait penanganan Covid-19. Asal tahu saja, biaya pengobatan harian Covid-19 jauh lebih tinggi dari rata-rata biaya rawat inap. Apalagi, beberapa rumah sakit mengharuskan semua pasien menjalani tes PCR sebelum operasi.

Baca juga: KAI akan Buat Ekosistem Transportasi

Joshua memperkirakan, hingga akhir tahun 2020 jumlah pasein di tengah pandemi Covid-19 yang dirawat di Jakarta mencapai 11.112. Jumlah ini bertambah dua kali lipat dibandingkan saat ini yang mencapai 4.468 pasien.

“Oleh karena itu, meskipun terjadi penurunan tajam dalam trafik pasien, pendapatan per hari rawat inap akan terus tumbuh, seiring dengan peningkatan jumlah pasien Covid-19 dalam perawatan,” jelasnya dalam riset, Senin (28/9). 

Walau realisasi anggaran kesehatan berjalan lamban, baik MIKA dan HEAL melaporkan tidak ada penundaan pembayaran yang signifikan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes). 

Joshua mengekspektasikan pendapatan MIKA dan HEAL sepanjang tahun 2021 akan bertumbuh 24% dan 23,8%. Sementara laba bersihnya akan bertumbuh 31,4% dan 53,3%. Adapun Joshua menginisiasi overweight pada sektor ini, dengan rekomendasi beli terhadap MIKA dengan target harga Rp 2.900 dan HEAL dengan target harga Rp 4.000.

Baca juga: Serikat Pekerja Minta Pemerintah Beri Keadilan ke Industri Hasil Tembakau

Rekomendasi tersebut juga mempertimbangkan Sinovac (China) yang berkomitmen untuk memasok vaksin (CoronaVac) terhadap Bio Farma. Sehingga, Bio Farma dapat memproduksi setidaknya 40 juta dosis di Indonesia sebelum Maret 2021. Akan tetapi, dengan kapasitas Bio farma saat ini, produksi dan distribusi batch pertama CoronaVac akan memakan waktu sekitar enam bulan untuk diselesaikan.

Dalam risetnya Joshua juga menjelaskan, downside risk kedua saham itu adalah keterlambatan dalam produksi dan distribusi vaksin. Selain itu, ada juga defisit anggaran BPJS Kesehatan yang berkepanjangan dan regulasi terkait JKN yang kurang menguntungkan pihak rumah sakit.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed