oleh

Faisal Basri Sebut Pemahaman Menko Airlangga tentang Resesi Salah

Ekonom senior Faisal Basri menanggapi pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto terkait pandangan resesi.

secret-financial.com – Ekonom senior Faisal Basri menanggapi pernyataan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartanto terkait pandangan resesi. Faisal mengatakan Airlangga tak paham mengenai apa itu resesi.

“Perkiraan saya minus 3 (persen) kuartal III ini, tapi kata pak Airlangga Hartanto itu udah gak resesi. Jadi Menko saja pemahaman tentang resesinya nol besar. Kata Menko kalau triwulan kedua 5,3 minusnya, triwulan ketiga minus 5 itu udah gak resesi karena minusnya udah turun,” kata Faisal dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi VI DPR RI dengan para pakar akademisi dan regulator terkait masukan untuk penyelamatan ekonomi Indonesia secara virtual Senin, 31 Agustus 2020. “Ngeri enggak bapak, komandan ekonominya gak ngerti resesi apa.”

Sebelumnya, Airlangga Hartarto menjelaskan pandangannya terkait resesi. Menurut dia jika pertumbuhan ekonomi negara di kuartal III-2020 minus namun angkanya lebih kecil dari kontraksi kuartal sebelumnya maka negara itu tidak mengalami resesi.

Baca juga: Antisipasi Gagal Panen, Kementan Dorong Petani Ikut Asuransi

“Indonesia di kuartal II-2020 pertumbuhan ekonominya -5,3%. Secara teori masuk ke arena resesi kalau pertumbuhan ekonomi 2 kuartal berturut-turut semakin turun. Tapi kalau ada perbaikan dari -5,3 PERSEN ke angka lebih rendah, itu technically (secara teknis) bukan resesi,” ujarnya dalam acara Kampanye Penggunaan Masker di GBK, Senayan, Jakarta, Minggu 30 Agustus 2020.

Dalam diskusi bersama akedmisi, Komisi VI mempertanyakan faktor-faktor resesi sebuah negara kepada Faisal Basri. Faisal menjelaskan bahwa resesi terjadi kalau level of output atau PDB turun selama beberapa waktu tertentu.

“Seperti Iran pak, tadi saya tunjukan Iran itu tidak mampu mengendalikan karena dia sudah masuk gelombang tiga. Kita satupun belum, jangan sampai kita masuk gelombang dua gelombang 3,” kata Faisal. Karena itu, Faisal berharap pemerintah jangan berfokus untuk menghindari resesi namun memprioritaskan kebijakan yang mencegah penyebaran covid.

Dia menilai jika Indonesia tidak bisa menangkal gelombang kedua penyebaran Covid-19, pertumbuhan ekonomi hingga minus 3,8 persen pada akhir 2020. Dia sependapat dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang diramal oleh Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (Organisation for Economic Co-operation and Development/OECD) memprediksi pertumbuhan ekonomi berpotensi terkontraksi sebesar 2,8 persen hingga 3,9 persen hingga akhir 2020.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed