fbpx
Fintech  P2P Lending Memberikan Keringanan untuk Peminjam

Fintech P2P Lending Memberikan Keringanan untuk Peminjam

Fintech P2P Lending Memberikan Keringanan untuk Peminjam

secret-financial.com – Tak hanya perbankan dan multifinance yang memberikan keringanan cicilan untuk para nasabahnya, layanan financial technology (fintech) peer to peer lending juga memberikan keringanan untuk borrower atau peminjam.

Tak hanya perbankan dan multifinance, layanan financial technology (fintech) peer to peer lending juga memberikan keringanan untuk borrower atau peminjam.
Baca juga: Fintech, Bank, dan Leasing Akan Beri Libur Bayar Cicilan

Asosiasi menyebut jika keringanan yang diberikan untuk borrower akan berbeda dengan yang diberikan oleh bank. Hal ini karena fintech merupakan platform yang mempertemukan pemilik dana (lender) dan peminjam (borrower). Sehingga dalam proses restrukturisasinya harus ditemukan kesepakatan.

Hanya saja, keringanan tersebut baru bisa diberikan pelaku UMKM apabila mendapat persetujuan dari pihak pemberi pinjaman. Hal itu karena perusahaan fintech peer-to-peer lending sebagai platform tidak bertindak sebagai pihak pemberi pinjaman sebagaimana di industri perbankan atau pembiayaan.

Selain meminta pengertian pihak platform dan pemberi pinjaman, warganet juga mempertanyakan mengapa keringanan hanya diberikan kepada UMKM?

“Hanya untuk UMKM?? Padahal konsumen pinjol banyak dari orang individu… tetap ada pinjol bikin sengsara. Bunga dan denda harian mencekik kami,” tulis pengguna akun Facebook.

Ada pula pengguna bernama Yoyoh Samsiah yang membagikan cerita tentang penagihan yang tetap dilakukan pihak penyedia layanan pinjaman.

Ia menulis, “tetap saja ditagih dan diancam, padahal sudah kasih tau kalau belum bisa setor karena dagangnya sepi.”

Meski begitu, AFPI terus menghimbau kepada anggotanya untuk ikut berpartisipasi secara aktif membantu dan meringankan masyarakat pengguna platfom fintech lending yang mengalami kerugian atas dampak wabah Covid-19.

CEO Modalku Renold Wijaya mengungkapkan pihaknya akan melakukan restrukturisasi kasus per kasus. “Sebagai langkah untuk memitigasi risiko, kami akan menyesuaikan kembali beberapa faktor dalam memberikan pinjaman, seperti limit dan tenor pinjaman. Angka limit & tenor pinjaman akan disesuaikan dengan jenis pinjaman dan portofolio bisnis masing- masing UMKM,” ujarnya.

“Sehingga mereka paham benar adanya dampak dari Covid-19 dan bagaimana kebutuhannya. Jadi negosiasi dengan institusional lender ini prosesnya lebih cepat, dibandingkan misalnya dengan pendanaan crowd funding yang satu pinjaman bisa didanai 50-100 orang,” tuturnya.

Adapun hingga saat ini, Amalia mengatakan peminjam di Investree baru meminta skema restrukturisasi perpanjangan tenor. Belum ada peminjam yang meminta penundaan pembayaran hingga satu tahun.

2 Comments

Tinggalkan Balasan