oleh

FRIEDRICH NIETZSCHE

Nietzsche adalah simbol dari kegamangan, kegalauan, pertentangan, pemberontakan dan pemujaan terhadap harkat dan martabat serta kemampuan rasional manusia.

Hidup menurut Insting

Di bawah pengaruh Schopenhauer, Nitzsche memandang hidup secara negatif sebagai realitas kejam, irrasional buta, sarat duka nestapa dan kehancuran. Hanya seni dapat memberikan kepada individu kekuatan dan kecakapan guna menghadapi derita hidup dan pro life. Untuk itu, Nietzsche sungguh mengagungkan peradaban pra Socrates yang sarat dengan makna tragis, sebagai jawaban”ya” bagi hidup yang penuh derita, meneguhkan individu di depan fatalitas fakta dan mengagungkan nilai-nilai vital. Seni tragis merupakan suatu peneguhan dan berkata “ya” pada hidup.

Dalam seni tragis ini, Nietzsche melihat dan mengidolakan roh Dionisius, yang menjadi gambaran dari daya instingtif, kesehatan, kemabukan yang kreatif dan sentimen sensual, simbol umat manusia yang berada dalam harmoni penuh dengan alam. Lawan Dionisius adalah Apollo, visi impian, suatu upaya untuk mengungkapkan makna segala sesuatu secara terukur dan terkendali. Apollo merupakan gambaran tokoh yang seimbang dan tulus.

Karakter Patetis, Konfliktual dan Kritis

Ungkapan bernada patetis dan kritis memperlihatkan karakter dasar pemikiran Nietzsche yang menentang segala bentuk kemapanan, tradisi dan dogma. Secara lugas Nietzsche menentang sikap dan anggapan dogmatis positivisme dan nilai absolut fakta-fakta. Alasannya, “fakta-fakta senantiasa adalah kebodohan dan sepanjang segala waktu selalu lebih mirip dengan seekor domba daripada seorang Dewa”.

Nietzsche mengkritik juga antusiasme para idealis dan sejarawan yang memandang dengan penuh optimisme makna kejelasan dan progresif sejarah. “Kemajuan merupakan gagasan modern, yakni gagasan yang keliru”. Klaim kepastian dan kebenaran oleh ilmu-ilmu pasti merupakan produk canggih modernitas itu sendiri, meskipun dalam realitas klaim demikian tidak dapat dibuktikan.

Baca juga: Cerita Warga saat Sriwijaya Air Jatuh

Sedangkan terhadap keyakinan dan harapan kaum agamawan, Nietzsche memaklumkan kematian Allah. “Der Gott ist tot”, ia menyerang dengan nada keras bahwa kristianisme adalah suatu cacat dan tiada yang lebih sakit-sakitan di tengah kesakitan umat manusia selain belaskasihan kristiani. Nietzsche mengagungkan nilai moral kaum aristokrat: semua nilai moral kaum aristokrat muncul dari pengakuan agung atas diri sendiri, sedangkan nilai moral kaum budak sejak awal bersumber dari “ya” untuk orang lain, bukan dari diri sendiri

Sikap kontradiktif melawan semua didasarkan pada keyakinan pribadi Nietzsche bahwa dirinya memiliki hal baru dan penting yang dapat ditawarkan untuk menjawab segala keluh kesah dunia dan manusia.

Negara adalah tempat di mana semua, baik dan jahat, mabuk racun, di mana semua kehilangan kendali atas diri sendiri, di mana bunuh diri pelan-pelan disebut hidup. Dengan demikian tampak jelas bahwa, menurut Nietzsche,” kebudayaan dan negara adalah antagonistis”.

Kematian Allah

Kritik dan sikap bermusuhan Nietzsche terhadap idealisme, positivisme, sejarah dan lain sebagainya dilengkapi dengan serangan terhadap semua agama dan kekristenan. Kemunculan agama Kristen yang mengakhiri peradaban dan filsafat Yunani dianggapnya sebagai racun yang mengotori kemanusiaan. Karena itu, Nietzsche memaklumkan kematian Allah agar manusia melepaskan diri dari pikiran dan impian-impian surgawi-ilahi dan menancapkan kaki dan budinya hanya di bumi ini.

Dengan kematian Allah, seluruh bangunan nilai yang menyangga dan menaungi peradaban Barat ikut menghilang dan akibatnya lenyap pula titik acuan dan pedoman hidup.

Kematian Allah merupakan titik balik dan sekaligus garis demarkasi yang memisahkan sejarah umat manusia. Orang-orang yang masih hidup dalam kerangka berpikir lama, dengan menyandarkan diri pada kekuatan Allah dan harapan akan dunia ilahi adalah manusia lama yang masih hidup dalam kebodohan dan ketiadaberdayaan. Sementara orang-orang yang lahir setelah kematian Allah akan menjadi anggota peradaban dan bagian sejarah yang lebih agung. Mereka akan menjadi tuhan atas dirinya sendiri, menjadi superman.

Genealogi Moral

Nietzsche juga mengkritik moralitas dan sistim nilai yang menjadi pedoman, rujukan dan pegangan umat manusia. Nietzsche bukan sekedar ingin mengusahakan transformasi peradaban dan sistim nilai, melainkan membuat sebuah revolusi peradaban dan revolusi nilai. Program ini terungkap dalam dua karyanya: “Mengatasi Baik dan Buruk” dan “Genealogi Moral”.

Nietzsche memulai argumentasinya dengan mempertanyakan bahwa hingga kini tiada keraguan sekecil apapun dalam memastikan “kebaikan” sebagai nilai yang lebih superior daripada “keburukan”. Bagaimana kepastian demikian bisa terjadi, seandainya kebenaran bisa berarti lain dan dalam kebaikan terkandung juga sintom regresi, seperti bahaya, godaan dan racun? Untuk menemukan hakekat moralitas dan nilai moral, Nietzsche membuat sebuah penyelidikan terhadap mekanisme psikologis yang mengiluminasi kemunculan nilai-nilai. Ia berpendapat bahwa pemahaman terhadap kemunculan psikologis nilai-nilai an sich memadai untuk meragukan  anggapan absolut dan ketidakraguan moral.

Baca juga: Susilo Bambang Yudhoyono: Jangan Berpikir Vaksin Ada Pandemi Hilang

Bagi Nietzsche, moral merupakan sebuah instrumen yang dirancang untuk mendominasi yang lain dan bukan sekedar sebuah sistim nilai yang memfasilitasi individu dalam mewujudkan diri dan menjalin relasi dengan sesama serta menghayati kebersamaan secara beradab dan berbudaya. Karakter dominatif moral didasarkan pada realitas dikotomis dalam masyarakat yang terdiri atas kelas aristokrat, orang-orang sukses, berkuasa dan memiliki kesadaran akan diri sendiri dan kelompok budak belian, orang-orang lemah, gagal dan pecundang.

Sistem nilai yang diajarkan oleh kristianisme tiada lain selain sebuah alat yang dipakai oleh para budak dan pecundang untuk menundukkan kaum berkuasa. Nietzsche melihat bahwa sistem nilai kaum aristokrat berakar pada kesadaran yang teguh akan diri sendiri, sementara nilai moral kelompok lemah, budak belian dan pecundang secara prinsipil timbul dari penolakan atas sesuatu yang bukan menjadi bagian dari diri mereka.

Pembalikan tata moral demikian merupakan bagian inheren dari dendam kesumat terhadap kaum aristokrat. Moralitas dan sistem nilai kristiani merupakan intisari dan ekspresi kemurkaan dan iri hati melawan daya hidup, kesehatan, kecintaan atas hidup dunia. Dendam dan murka, cemburu dan iri hati kemudian ditransformasikan menjadi kewajiban dan keutamaan, lalu selanjutnya diagungkan menjadi nilai-nilai suci nan luhur, tuntutan dan rujukan wajib bagi perilaku dan sikap hidup individu. Dengan kata lain, nilai-nilai luhur nan mulia dalam moralitas aktual hendaknya dibaca secara terbalik, sebab secara prinsipil kebaikan adalah keburukan, kebenaran merupakan kepalsuan, kasih adalah kebencian dan pengampunan merupakan balas dendam kaum budak belian terhadap tuan-tuan mereka.

Sistem nilai menjadi sarana satu-satunya yang memungkinkan para budak belian, miskin papa dan pecundang untuk melawan, menundukkan dan menguasai kaum kuat kuasa. Sistem nilai adalah tameng semata untuk menutup dan melindungi watak jahat dan beringas mereka. Karena itu, Nietzsche menegaskan bahwa moralitas dan sistem nilai kaum kuat kuasa merupakan moralitas dan sistem nilai yang berlandaskan pada keagungan diri, kemurahan hati dan keutuhan pribadi, sementara moralitas dan sistem nilai para budak merupakan moralitas dan sistem nilai para pendendam, demokrasi dan sosialisme.

Nihilisme dan Reinkarnasi Abadi

Penghancuran terhadap kristianisme, moralitas dan sistem nilai serta kebenaran metafisik yang telah sekian lama memberikan rasa aman dan kepastian kepada manusia membawa konsekwensi langsung: kegamangan, kegalauan, kekosongan, ketiadaan arti bagi sekian banyak orang. Nihilisme merupakan akibat langsung dari penyingkapan terhadap ilusi-ilusi tentang dunia atas dan segenap sistim nilainya. Ketika manusia tahu bahwa apa yang dia hidupi, yakini dan hayati hari demi hari merupakan sebuah dusta dan ilusi, maka akan timbul dalam hatinya lembah kegelapan, kekelaman dan ketiadaan.

Nihilisme pertama-tama berkaitan dengan status psikologis seseorang yang setelah sekian lama mencari makna dari keberadaan dan nilai dirinya, sesama, semesta relasi, aktivitas dan hal ideal, perwujudan suatu kondisi hidup personal dan sosial yang lebih baik, otentik dan benar secara moral, namun setelah membuat analisa yang mendalam (gambaran dari Nietzsche sendiri), ia hanya menemukan kepalsuan dan penipuan.  Penemuan demikian memunculkan rasa kecewa, muak, antipati, sakit hati, masa bodoh dan akhirnya bermuara pada ketidakpercayaan. Kekecewaan karena telah merasa ditipu membuat orang kehilangan kepercayaan dan kepastian; kekecewaan adalah salah satu sebab utama nihilisme.

Nihilisme timbul juga dari kesadaran manusia bahwa semesta wacana dan nilai yang telah dibangunnya dan selama sekian waktu diyakini eksistensinya, ternyata dalam realitas tidak pernah ada. Totalitas ada, klasifikasi dan kategorisasi, separasi dan unifikasi, persepsi dan abstraksi seperti yang dikerjakan oleh para pemikir metafisik ternyata sama sekali tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Setelah menelisik ke jantung dunia ini, mereka akan segera sadar bahwa adalah mubazir mencari prinsip umum dan sebab yang mendasari, menjiwai dan menjadi rujukan eksistensi manusia dan semesta. Dalam dunia ini tiada sesuatupun yang bernilai dan bermakna, tiada lagi awal maupun akhir, menjadi nirmakna berbicara tentang kebenaran dan kepastian, kesatuan dan keutuhan. Kesadaran baru ini memunculkan perasaan yang tidak menentu, nirmakna dan tanpa nilai apapun.

Karakter esensial keberadaan manusia di dunia dan semesta raya adalah khaos, kacau balau. Tiada nilai absolut maupun struktur rasional apapun; manusia hidup tanpa pegangan dan pedoman. Hidup dan aktivitas, perbuatan dan tindakan manusia tidak memiliki landasan dan tujuan di luar kehendak dirinya. Dunia adalah khaos itu sendiri, eksis tanpa awal maupun akhir. Apa yang harus dilakukan manusia adalah menerima secara apa adanya dunia dan dirinya sendiri serta mencintainya dengan sepenuh hati. Meskipun tiada keteraturan maupun keindahan, tanpa makna dan nilai, dunia an sich memiliki suatu keniscayaan dan keniscayaan tersebut adalah volontas, kehendak.

Sejak dari keabadian, dunia telah dikuasai oleh kehendak untuk menerima diri sendiri dan mengulang diri. Itulah gerak kembali abadi, eterno ritorno dunia dan manusia lewat proses reinkarnasi.

Manusia Super

Pesan untuk menerima dunia merupakan sebuah pesan yang spesial dan bukan kebetulan. Menerima dunia apa adanya berarti menerima khaos, reinkarnasi, gerak kembali abadi dan terutama menerima hidup itu sendiri. Dunia adalah hidup manusia dari dulu hingga nanti, karena Tuhan, dunia atas, surga, realitas transendental hanya merupakan rekayasa manusia. Namun pesan ini ditujukan bukan kepada manusia “lama”, manusia yang masih terikat dengan Allah, metafisika, agama-agama dan sistim moralnya, orang-orang sakit dan bodoh, melainkan kepada Übermensch, superman. “

Baca juga: Jokowi: Alhamdulillah Kita tidak Sampai Lockdown

Nietzsche bermaksud mengajak semua manusia menjadi manusia baru. Manusia baru bukanlah titisan dari langit melainkan upaya serius manusia itu sendiri; ia harus menciptakan kebaruan dalam dirinya. Caranya, manusia harus membuang jauh seluruh kepercayaan dan impian masa lalu tentang Allah dan surga, baik dan jahat, benar dan salah yang hanya mengalihkan perhatiannya dari keberakaran abadinya dalam dunia. Untuk menjadi manusia baru, manusia super, setiap orang harus berani mengatakan “tidak” terhadap Allah dan agama; manusia harus tega menjadi “pembunuh” Allah.

Manusia super adalah individu yang memiliki kehendak teguh, kebanggaan pada diri sendiri, mencintai dunia secara tulus dan murni.

Tentang Penulis: Srigala Jantan

Gambar Gravatar
Penulis adalah seorang pemimpi, perenung, dan pemikir. Alumnus Sekolah Tinggi Filsafat di salah satu perguruan tinggi Malang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed