oleh

Gita Wirjawan: Sebut Risiko Lumpuhnya Sektor Riil Nyata Akibat Corona

Pagebluk corona (Covid-19) mengancam fundamental ekonomi Indonesia. Kalangan dunia usaha berteriak lumpuhnya sektor riil nyata akibat Corona.

Gita Wirjawan: Sebut Risiko Lumpuhnya Sektor Riil Nyata Akibat Corona

secret-financial.com – Pagebluk corona (Covid-19) mengancam fundamental ekonomi Indonesia. Kalangan dunia usaha berteriak dan mengaku staminanya bakal habis sampai Juni. Apabila pemerintah tak merelaksasi kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Apalagi di saat yang sama, insentif yang digelontorkan dianggap tidak maksimal. Bahkan, Wakil Ketua Dewan Pertimbangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Gita Wirjawan menilai, kebijakan pemulihan ekonomi masih bersifat diskriminatif terhadap sektor swasta.

Padahal, kata Gita, serangan Covid-19 tidak pandang bulu dan menghantam kalangan manapun, termasuk pengusaha swasta yang selama ini berperan penting dalam mendorong roda ekonomi Indonesia.

Prinsip pemulihan ekonomi yang tertuang dalam paturan tersebut, menurutnya termasuk keadilan sosial, kaedah kebijakan yang penuh kehati-hatian, mendukung pelaku usaha, dan mencegah moral hazard.

Di samping itu, Gita melanjutkan, melalui aturan itu, pemerintah dalam proses pemulihan ekonomi nasional juga bisa melakukan investasi, penjaminan, dan penempatan dana di sistem perbankan.

“Ini merupakan gagasan yang luar biasa untuk dilakukannya pemulihan ekonomi nasional”. Kata Gita yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal, dikutip dari keterangan tertulis, Kamis, 14 Mei 2020.

Meski dianggap luar biasa, Gita melihat penekanan terhadap penempatan dana di sistem perbankan lewat bank perantara mencerminkan asumsi bahwa permasalahan hanya semata dalam bentuk krisis likuiditas di perbankan.

“Yang perlu dipertimbangkan justru krisis kredit terkait para debitur yang sudah kesulitan karena tidak bisa beraktivitas dikarenakan kebijakan PSBB,” tuturnya.

Di saat negara-negara tetangga menggelontorkan lebih dari 10% dari produk domestik bruto (PDB) untuk memulihkan perekonomian. Menurut Gita, Indonesia baru menyiapkan 2,5% dari PDB.

“Ini mungkin mencerminkan kurangnya pendalaman mengenai inti permasalahan yang terjadi sekarang ini,” ungkap mantan Menteri Perdagangan era Presiden Bambang Yudhonoyo.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed