oleh

Harga Minyak Mentah Tergelincir Usai China Minta AS Tutup Konsulat di Chengdu

Saat ini harga minyak mentah mulai tergelincir akibat  setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali membara.

Harga Minyak Mentah Tergelincir Usai China Minta AS Tutup Konsulat di Chengdu

secret-financial.com – Harga minyak mentah mulai tergelincir setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali membara. Sentimen negatif bagi harga emas hitam ini bertambah dari lonjakan kasus virus corona di AS dan sejumlah negara lainnya. 

Mengutip Reuters, Jumat (24/7) pukul 14.15 WIB, harga minyak mentah jenis Brent kontrak pengiriman September 2020 di ICE Futures turun 25 sen menjadi US$ 43,06 per barel. 

Serupa, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman September 2020 di Nymex melemah 28 sen menjadi US$ 40,79 per barel.

Baca juga: Sri Mulyani Sebut Ekonomi Mulai Membaik Sejak Juni

Padahal, harga minyak sempat menguat di awal perdagangan hari ini berkat pelemahan dolar AS. The greenback merosot ke posisi terendahnya dalam 22 bulan terhadap sebagian besar mata uang utama.

Ini membuat harga komoditas yang diperdagangkan dalam dolar AS jadi lebih murah, sehingga menguntungkan pembeli yang menggenggam mata uang lainnya. 

Namun, harga minyak berbalik setelah China memerintahkan AS untuk menutup konsulatnya di kota Chengdu pada hari ini. Hal ini merupakan tanggapan atas permintaan pemerintah Negeri Paman Sam yang menyuruh China menutup konsulat di Houston. Alhasil, hubungan antara dua ekonomi terbesar dunia kian memburuk.

Belum lagi, prospek ekonomi AS menjadi lebih suram dalam sebulan terakhir di tengah kuncian baru yang dilakukan beberapa negara bagian akibat melonjaknya kasus virus corona. 

Seperti diketahui, data pengangguran di Negeri Paman Sam kembali melesat setelah jumlah orang yang mengajukan tunjangan pengangguran secara tak terduga naik menjadi 1,416 juta pada pekan lalu. Ini adalah kenaikan pertama kalinya dalam hampir empat bulan. Hal tersebut juga menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi AS terhenti di tengah kebangkitan kasus Covid-19.

Baca juga: BEI Berharap Jumlah Investor Naik Dua Kali Lipat

Terlebih, AS kembali mencatatkan tambahan kematian dalam 1 hari lebih dari 1.000 untuk tiga hari berturut-turut pada Kamis (23/7). Secara global, lebih dari 15 juta orang telah terinfeksi dan lebih dari 620.000 telah meninggal akibat pandemi virus corona ini. 

Barclays Commodities Research mengatakan, harga minyak bisa kembali koreksi dalam waktu dekat jika pemulihan permintaan bahan bakar melambat lebih lanjut, terutama di AS.

Barclays menurunkan perkiraan surplus di pasar minyak untuk tahun 2020 menjadi rata-rata 2,5 juta barel per hari (bph), dari 3,5 juta bph sebelumnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed