oleh

Harga Minyak Tergelincir Panasnya Hubungan AS dan China Serta Lonjakan Virus Corona

Harga minyak melemah naik karena tekanan dari kenaikan kasus virus corona serta ketegangan panasnya hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Harga Minyak Tergelincir Panasnya Hubungan AS dan China Serta Lonjakan Virus Corona

secret-financial.com – Harga minyak melemah naik karena tekanan dari kenaikan kasus virus corona serta ketegangan panasnya hubungan antara Amerika Serikat (AS) dan China yang mendorong investor menuju aset safe haven.

Mengutip Reuters, Senin (27/7) pukul 10.30 WIB, harga minyak jenis Brent kontrak pengiriman September 2020 di ICE Futures turun 14 sen atau 0,3%, menjadi US$ 43,20 per barel. 

Setali tiga uang, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) kontrak pengiriman September 2020 juga turun 10 sen atau 0,2% ke US$ 41,19 per barel. 

Penurunan harga minyak mencerminkan langkah-langkah di pasar keuangan di kawasan Asia di tengah kekhawatiran tentang meningkatnya ketegangan antara China dan AS setelah penutupan konsulat di Houston dan Chengdu.

Baca juga: Harga Minyak Mentah Tergelincir Usai China Minta AS Tutup Konsulat di Chengdu

Tekanan tambahan juga berasal dari kasus virus corona global yang kini sudah lebih dari 16 juta kasus. 

Walau secara harian melemah, namun harga minyak Brent berada di jalur untuk kenaikan bulanan keempat berturut-turut pada bulan Juli. Serupa WTI juga akan naik untuk bulan ketiga karena pemotongan pasokan yang belum pernah terjadi sebelumnya dari Organisasi Negara-negara Minyak dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal OPEC+, menopang harga. 

Produksi minyak di Negeri Paman Sam juga turun dan masih menopang pergerakan harga minyak. 

Namun, kini permintaan minyak yang sempat agak membaik kembali dikhawatirkan sulit pulih dalam waktu dekat. Mengingat sejumlah negara bagian di AS kembali melakukan penguncian yang akhirnya membatasi konsumsi terhadap emas hitam ini. 

“Pelaku pasar tampaknya gugup dalam mengambil pandangan yang kuat di pasar, dengan banyak ketidakpastian masih mengaburkan prospek ketika datang ke permintaan,” kata analis ING dalam sebuah catatan.

Baca juga: Rupiah Tak Berdaya dan ditutup Melemah ke Rp 14.610 per Dolar AS Pada Hari Ini

Investor juga mengamati dampak dari badai Hanna, yang menghantam pantai Texas pada akhir pekan, mengancam hujan lebat di Texas dan Meksiko. Produsen dan pemurnian minyak dan gas mengatakan, bahwa mereka tidak memperkirakan badai akan mempengaruhi operasi.

Rebound harga minyak dari posisi terendah yang mencapai awal tahun ini juga telah mendorong produsen top dunia untuk meningkatkan output dan ekspor lagi.

Buktinya, jumlah rig minyak AS di pekan lalu naik untuk minggu pertama sejak Maret. Data Baker Hughes menunjukkan, ada tambahan 1 rig yang dilaporkan produsen minyak AS. 

“Sementara kami percaya aktivitas rig telah mencapai titik terendah, kami tidak berharap untuk melihat pemulihan cepat dalam waktu dekat pada tingkat harga saat ini,” kata ING.

Baca juga: Dolar AS Masih Loyo, Nilai Tukar Rupiah Menguat ke Rp 14.605

Ekspor minyak Rusia dari pelabuhan baratnya akan naik 36% pada Agustus dari Juli, menurut rencana pemuatan pendahuluan dan perhitungan Reuters.

Eksportir utama dunia Arab Saudi kembali menduduki puncak daftar pemasok minyak mentah ke China pada Juni, memasok 2,16 juta barel per hari, atau hampir 17% dari rekor impor China untuk bulan itu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed