oleh

IHSG Dibuka Negatif, Rupiah Bangkit

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka negatif di awal perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Berbeda dengan rupiah yang pagi ini.

IHSG Dibuka Negatif, Rupiah Bangkit

Secret-financial.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka negatif di awal perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) Senin (7/9/2020). Berbeda dengan rupiah yang pagi ini dibuka menguat pada transaksi di pasar spot.

Melansir data RTI, pukul 09.09 WIB, IHSG berada pada level 5.216,3 atau turun 23,54 poin (0,45 persen) dibanding penutupan sebelumnya pada level 5.235,01.

Sebanyak 118 saham melaju di zona hijau dan 145 saham di zona merah. Sedangkan 142 saham lainnya stagnan. Adapun nilai transaksi hingga saat ini mencapai Rp 599,9 miliar dengan volume 1,07 miliar saham.

Baca juga: IHSG Masih Ditekan Faktor Global

Sementara bursa saham Asia pagi ini dibuka variatif.  Indeks Hang Seng Hong Kong naik 0,2 persen, dan indeks Strait Times menguat 0,12 persen. Sementara itu, indeks Shanghai Komposit turun 0,3 persen, demikian juga dengan indeks Nikkei yang melemah 0,22 persen.

Sebelumnya, Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee mengatakan, hari ini indeks berpeluang melemah terdorong oleh sentimen eksternal, yakni pelemahan indeks acuan saham teknologi atau Nasdaq akibat aksi jual oleh pelaku pasar.

Sentimen negatif juga muncul dari internal terkait amandemen Undang-undang tentang Bank Indonesia. Bank Indonesia terancam tidak independen karena akan di bawah Dewan Moneter yang dikepala Menteri Keuangan.

“IHSG berpeluang konsolidasi melemah, aksi jual di saham teknologi akibat kekhawatiran valuasi yang terlalu tinggi membuat pasar saham tertekan turun. Selain itu, kabar amandemen Undang-undang BI menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan dan membuat pelaku pasar menjadi berhati-hati,” kata Hans.

Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS di pasar spot pagi ini dibuka menguat.

Baca juga: Produk SR013 untuk Dukung Pemulihan Ekonomi

Melansir Bloomberg, pukul 09.11 WIB rupiah dibuka menguat pada level Rp 14.715 per dollar AS, atau naik 35 poin (0,24 persen) dibanding penutupan sebelumnya Rp 14.750 per dollar AS.

Analis sekaligus Kepala Riset Monex Investindo Ariston Tjendra mengatakan, rupiah mendapat sokongan dari rilis tenaga kerja AS yang hasilnya cukup bagus sehingga ini bisa mendorong penguatan dollar AS terhadap nilai tukar lainnya.

“Rupiah berpotensi tertekan terhadap dollar AS di hari Senin, karena sentimen tersebut,” kata Ariston.

Meskipun menguat, rupiah juga berpeluang mengalami tekanan karena sentimen memanasnya kembali hubungan AS dan China setelah AS berencana mem-blacklist perdagangan dengan perusahaan semi konduktor terbesar Tiongkok, SMIC.

“Isu ini bisa memberikan tekanan ke aset berisiko termasuk rupiah,” sebut dia.

Baca juga: Rupiah Sepekan ini Terancam Tertekan

Sementara itu, beberapa data ekonomi global dari China dan Jerman akan menjadi perhatian pasar karena pasar masih mencari petunjuk soal indikasi pemulihan ekonomi global di tengah kondisi pandemi, yaitu data Neraca Perdagangan China bulan Agustus dan data produksi industri Jerman bulan Juli.

“Bila kedua angka ini lebih bagus dari proyeksi, penurunan aset berisiko mungkin bisa tertahan,” ungkap Ariston.

Ariston memproyeksikan rupiah hari ini akan bergerak pada level Rp 14.650 per dollar AS sampai dengan Rp. 14.850 per dollar AS.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed