IMF: Dunia Dalam Resesi, Tapi Prospek Ekonomi Tak Sesuram Perkiraan Awal

Share by :
Tahun 2021 akan tumbuh sampai 5,2%, kata laporan terbaru "World Economic Outlook" yang dirilis Dana Moneter Internasional IMF

Secret-financial – Perekonomian global akan turun 4,4% tahun ini, namun tahun 2021 akan tumbuh sampai 5,2%, kata laporan terbaru “World Economic Outlook” yang dirilis Dana Moneter Internasional IMF hari Selasa (13/10).

“Kami memproyeksikan resesi tidak separah seperti yang kami perkirakan bulan Juni lalu, meskipun masih ada pada tahun ini,” kata Direktur Ekonomi IMF, Gita Gopinath. Bulan Juni lalu, IMF masih memprediksi kemunduran perekonimian global sampai 4% karena pandemi virus corona.

“Respons fiskal, moneter, dan langkah-langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya yang diluncurkan untuk menghadapi krisis telah mencegah ekonomi terjun lebih dalam ke dalam resesi,” kata Gita Gopinath. Pada saat yang sama dia memperingatkan bahwa pemulihan ekonomi “kemungkinan besar akan berlangsung lama, tidak merata, dan tidak pasti.”

Baca juga: Resesi Mendekat, Berapa Idealnya Besar Dana Darurat yang Harus Disiapkan?

Di tengah kemacetan ekonomi karena krisis corona, pemerintahan di berbagai negara dengan cepat meluncurkan paket penopang ekonomi yang mencapai nilai USD 12 triliun dan membantu menyelamatkan jiwa dan mata pencaharian, serta “mencegah bencana keuangan,” kata laporan terbaru IMF itu. Namun, IMF mengingatkan krisis yang berkepanjangan telah menyebabkan pengangguran besar-besaran serta lebih dari satu juta kematian.

Pemulihan dipicu oleh Cina dan AS

IMF secara khusus melihat Cina sebagai motor utama yang akan pulih lebih cepat daripada negara-negara lain di dunia. Ekonomi terbesar kedua dunia itu diproyeksikan tumbuh 1,9% tahun 2020 dan meningkat menjadi 8,2% pada 2021.

Di Amerika Serikat, perekonomian juga akan mengalami perbaikan setelah negara itu mengerahkan USD 3 triliun dalam berbagai paket stimulus untuk menghadapi pandemi. Perekonomian AS diprediksi turun 4,3% tahun 2020, namun akan pulih ke pertumbuhan sampai 3,1% pada 2021.

Di Eropa, data IMF menunjukkan “kehancuran bersejarah” pada 2020, dengan kemerosotan sampai 8,3% di kawasan euro, yang merupakan kemunduran “yang belum pernah terlihat sejak Depresi Besar tahun 1930-an.” IMF mengatakan, Spanyol akan paling menderita, dengan PDB turun 12,8%, diikuti Italia dengan kontraksi ekonomi 10,6%, dan Prancis turun 8,3%. Sementara Jerman sebagai kekuatan ekonomi terbesar di kawasan akan mengalami penurunan sekitar 6% tahun 2020. Di seluruh Uni Eropa, PDB tahun 2021 diperkirakan tumbuh sebesar 5,2%, lebih lemah dari perkiraan IMF sebelumnya pada bulan Juni, yang masih memprediksikan pertumbuhan 6,0% untuk 2021.

Baca juga: Wapres: Pemberdayaan UMKM dan Dana Sosial Islam Perkuat Ekonomi Kerakyatan

Sementara sebagian besar negara akan melihat perbaikan ekonomi pada 2022 sampai ke tingkat sebelum pandemi, beberapa kawasan seperti di Amerika Latin tidak akan melihat pemulihan hingga 2023, kata Gita Gopinath.

Penghematan dan pajak orang kaya untuk atasi krisis

Direktur ekonomi IMF Gita Gopinath menekankan, situasi penyebaran COVID-19 akan tetap menjadi faktor penting dalam perkembangan ekonomi, dengan mengatakan bahwa “jutaan pekerjaan berisiko, semakin lama krisis ini berlanjut.”

“Sebagian besar ekonomi akan mengalami kerusakan permanen pada potensi pasokan, mencerminkan bekas luka dari resesi yang dalam tahun ini,” tambahnya.

Baca juga: Rusak Akibat Demo, Gedung Kementerian ESDM Belum Terdaftar Asuransi BMN

IMF meminta pemerintahan untuk memikirkan kembali prioritas anggaran dan belanja negara dan mengarahkan pendanaan ke proyek-proyek yang akan meningkatkan produktivitas, termasuk investasi energi hijau dan pendidikan. Pembuat kebijakan mungkin perlu menaikkan pajak bagi warga berpenghasilan tinggi, menutup celah-celah penghindaran pajak, dan “memastikan bahwa perusahaan membayar bagian pajak yang adil sambil memotong pengeluaran yang boros.”

IMF mendorong pemerintahan untuk melanjutkan bantuan keuangan, termasuk dukungan gaji, pembayaran tunai dan jalur kredit untuk usaha kecil dan menengah, hingga ekonomi mulai pulih. Gita Gopinath memperingatkan, jika pemerintahan terlalu cepat menghentikan bantuan corona, hal itu bisa menyebabkan gelombang kebangkrutan dan mendorong ekonomi kembali jatuh ke resesi.

Leave a Reply