oleh

Jika Petani Sawit di Lockdown, Petani Sawit Pasti Menjerit

Jika Petani Sawit di Lockdown, Petani Sawit Pasti Menjerit

secret-financial.com – Petani kelapa sawit yang tersebar di 22 provinsi di antaranya dari Jambi, Bengkulu, Sulawesi Barat, Kalimantan Utara, hingga Papua Barat yang tergabung dalam Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menepis isu terancam kelaparan di tengah pandemi virus Corona (COVID-19).

Jika petani sawit di lockdown, lockdown akan membuat kehidupan petani kelapa sawit kian sulit dan menderita. Petani sawit menolak diberlakukannya lockdown.
Baca juga: Harga Beras dan Gula Naik, Jokowi: Ini Pasti Ada Masalah

Sekretaris Jenderal Apkasindo Rino Afrino mengatakan, walaupun dihantui wabah Corona, aktivitas petani sawit masih berjalan normal dan kehidupan ekonomi sehari-hari berjalan baik. Pasalnya, kondisi harga Tandan Buah Segar (TBS) petani kelapa sawit di awal Ramadhan ini Rp. 1.250-Rp 1.700 per kilogram (kg). Harga ini jauh lebih baik dibandingkan awal Ramadhan tahun 2019 sekitar Rp 800-Rp 1.350/kg.

“Mereka yang bicara tadi mungkin bukan petani dan tidak punya kebun sawit. Selain itu, mereka hidup bukan dari TBS sawit,” ujar Rino.

Petani sawit menolak diberlakukannya lockdown atas terjadinya wabah COVID-19 di Tanah Air. Lockdown hanya akan membuat kehidupan petani kelapa sawit kian sulit dan menderita.

Hal itu disampaikan Sekretaris Jendral Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto. 

“Jangan lockdown. Petani sawit akan kian kesulitan hidup,” ujar Mansuetus Darto, Kamis (26/3/2020).

Memang diakuinya wabah virus corona makin meluas ke seluruh provinsi di tanah air, termasuk provinsi penghasil kelapa sawit. Namun, pilihan untuk lockdown terus dijadikan perdebatan. 

Beberapa kalangan dan tokoh nasional terus mendorong agar Presiden Jokowi segera mengikuti strategi negara lain untuk terapkan lockdown.

“Pilihan lockdown ini sangat mengkuatirkan bagi kehidupan petani kelapa sawit yang sangat bergantung kepada harga crude palm oil (CPO) dan tidak punya lahan pangan, kecuali kebun sawit itu saja,” ujar Mansuetus.

Sebab itu pilihan lockdown akan makin mempersulit petani karena bias jadi aktivitas panen akan berkurang, distribusi pupuk terhambat, peremajaan sawit tidak capai target serta Aktivitas pabrik kelapa sawitpun akan berkurang. “Ketika petani tidak bisa lagi panen atau pabrik sawit tidak beroperasi maka petani akan kelaparan”, kata Mansuetus Darto.

Karena itu, Darto berharap, agar usulan lockdown bukan menjadi pilihan strategi pemerintah karena akan membahayakan 10 juta umat manusia Indonesia yang bergantung pada sawit.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed