oleh

Joko Widodo Melarang Mudik Lebaran Hari Raya Idul Fitri 1441 H

Joko Widodo Melarang Mudik Lebaran Hari Raya Idul Fitri 1441 H

secret-financial.com –  Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan akan melarang mudik Lebaran pada hari raya Idul Fitri 1441 H bagi semua warga. Saat mengumumkan keputusan ini, ekspresi Jokowi disebut begitu berat dan ingin menangis.

Presiden Joko Widodo menyatakan akan melarang mudik Lebaran pada hari raya Idul Fitri 1441 H bagi semua warga, ekspresinya begitu berat dan ingin menangis.
Baca juga: Yurianto Menghimbau Agar Masyarakat Tidak Pulang ke Kampung Halaman

Ekspresi Jokowi ketika mengumumkan pelarangan mudik ini dianalisis oleh pakar ekspresi dan gesture Handoko Gani. Handoko diketahui merupakan satu-satunya trainer interview dan analisis perilaku (human lie detector) dari latar belakang sipil yang memiliki otorisasi penggunaan alat layered voice analysis (LVA).

“Perkataan ‘saya ingin langsung saja’ dengan ritme, kecepatan dan pitch suara menunjukkan ketergesaan,” kata Handoko, Selasa (21/4/2020).

Mulanya Jokowi hanya melarang para ASN, pegawai BUMN, dan personel TNI-Polri untuk mudik Lebaran. Pemerintah lantas mengiming-imingi perantau yang tak mudik dengan bantuan sosial (Bansos) berupa sembako dan bantuan langsung tunai.

Rupanya tak semua masyarakat menggubris iming-iming pemerintah berupa Bansos dan bantuan langsung tunai tersebut.

Jokowi beralasan masih banyak masyarakat perantauan yang bersikeras untuk mudik. Dari data Kementerian Perhubungan, sebanyak 24 persen masyarakat memutuskan tetap mudik.

“Mengingat jumlah pemudik tahun lalu sebesar 18,3 juta orang maka pada tahun 2020 jumlah pemudik berpotensi mencapai 3 juta orang di masa musim virus corona ini,” ungkap Direktur Riset KIC Mulya Amri seperti dikutip dari rilis survei pada Senin (20/4).

Dari Hasil survei dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang dilakukan kepada 3.853 responden lewat media sosial pada 28-30 Maret 2020 mencatat bahwa masih ada sebanyak 43,78 persen responden memilih untuk tetap mudik, sementara 56,22 persen menyatakan tidak akan mudik.

Sementara, dari hasil survei yang dilakukan SMRC, diketahui masih ada 31 persen warga Jakarta yang ingin mudik saat lebaran nanti. Mereka yang ingin mudik termasuk dari kalangan berpendidikan dan berpenghasilan tinggi.

Menurut Pieter, aturan larangan mudik pada hakikatnya tidak jauh berbeda dengan lockdown atau karantina wilayah yang bertujuan untuk membatasi mobilisasi orang diluar rumah demi menekan penyebaran virus covid-19 di suatu wilayah.

Namun, di kota besar seperti Jabodetabek sebagian besar penduduknya telah melakukan perjalanan mudik lebaran 2020 lebih awal, sehingga aturan mudik sudah kehilangan esensinya.

Berbeda cerita jika pemerintah lebih awal melarang perjalan mudik di tengah pandemi covid-19 disertai aturan hukum yang jelas. Imbasnya masyarakat akan patuh untuk menunda perjalanan mudik demi menghindari sanksi hukum yang ditetapkan pemerintah.

Keuntungan lainnya pemerintah juga dapat melakukan pemetaan wilayah penyebaran virus covid-19 lebih mudah. Karena ruang lingkup mobilisasi manusia semakin terbatas.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed