oleh

Marshall Plan: Program Sukses Penyelamatan Ekonomi Amerika

Proyek Marshall Plan adalah salah satu rencana amerika untuk memberikan bantuan ekonomi ke Eropa. Namun motifnya tidak hanya tentang pembangunan ekonomi

Secret-financial – Perang dunia ke II merupakan salah satu kekacauan terparah yang dibuat oleh manusia. Hampir seluruh bagian dunia merasakan dampaknya yang sangat besar. Kehancuran terjadi di semua sektor termasuk ekonomi. Tidak hanya negara-negara kecil bahkan sekaliber benua sebesar Eropa pun tidak luput dari kehancuran masal yang dihasilkan konflik tersebut. George Carlett Marshall Jr, seorang menteri Luar Negeri Amerika Serikat, kemudian mengambil upaya untuk melobi pemerintahan Presiden Harry S. Truman. Inisiatif tersebut bertujuan untuk program pemulihan Eropa. Program inilah yang kemudian dikenal dengan Marshall Plan.

Marshall Plan ditujukan untuk membangun ekonomi kembali setelah perang dunia ke II. Konflik yang menyebabkan kehancuran terbesar dalam sejarah umat manusia tersebut memberikan dampak yang sangat besar termasuk perekonomian dunia. Proyek Marshall Plan adalah salah satu rencana amerika untuk memberikan bantuan ekonomi ke Eropa. Namun motifnya tidak hanya tentang pembangunan ekonomi dunia. Amerika dengan cara cerdas ini juga menyisipkan motif politik ke dalamnya.

Produktivitas pertanian dan industri di Eropa meningkat setelah mendapatkan bantuan dari Amerika. Industri kimia, permesinan dan baja juga kembali hidup. Marshall Plan memang ditujukan untuk membangun kembali berbagai infrastruktur vital sehingga dana segar dapat mengalir ke berbagai pusat industri supaya lebih produktif sekaligus melancarkan program modernisasi pabrik. Setelah semua lancar pengaruh komunisme di Eropa dengan sendirinya terkikis sedikit demi sedikit. Sehingga dapat dikatakan bahwa Marshall Plan ini tidak sepenuhnya didorong oleh altruisme kemanusiaan.

Motif ini muncul disebabkan perang dingin yang kemudian muncul antara Amerika dan Uni Soviet. Perang jenis baru kemudian muncul yaitu perang ideologi ketika perang dunia ke II berakhir. Partai-partai komunis yang muncul di Eropa setelah kejayaan Jerman mendapat dukungan yang besar dari Perancis atau Eropa. Hal inilah yang mendorong Amerika untuk bertindak agar negara-negara di Eropa tidak membelot ke saingannya yaitu Soviet. Meskipun pada akhirnya Uni Soviet harus mengeluarkan kebijakan Molotov Plan untuk menandingi Marshall Plan namun tetap tidak berhasil.

Baca juga: Tentang Manusia, Tuhan dan Alam

Marshall plan terbukti sukses dalam memberikan dampak positif terhadap proses penanggulangan perang di Eropa. Tapi kesuksesan Amerika terutama di ranah pertarungan ideologi. Mereka pada akhirnya berhasil membendung pengaruh komunisme di Eropa Barat. Akhirnya kebijakan ini berakhir karena Amerika terlibat pada perang Korea. Biaya perang korea yang terus bertambah membuat kebijakan ini dihentikan pada 1953.

Marshall Plan sangat berkaitan erat dengan blok politik terutama blok barat. Tujuan utama kebijakan ini bukan tentang kemanusian melainkan politik. Saat itu Amerika Serikat menghadapi perang dingin yaitu perang ideologi antara AS melawan Uni Soviet. Lawannya ini berpengaruh besar terhadap persebaran ideologi komunisme. Terlebih setelah Jerman berkuasa pada saat itu partai-partai komunis mendapat tempat bahkan dukungan yang besar di Eropa. Hal inilah yang ingin dibendung oleh Amerika selaku pengguna paham kiri yang berkaitan dengan gerakan politik liberal.

Pasca perang Dunia II dengan kebijakan Marshall Plan semakin banyak negara di Eropa yang mulai mengadopsi sistem yang kekiri-kirian. Contohnya saja partai-partai tengah-kanan yang ada di Italia, Belgia dan Prancis setelah mendapatkan dana segar mampu mengalahkan partai komunis-sosialis di ajang pemilu. Amerika mengeluarkan dana yang sangat besar untuk membiayai para pendukung seperti serikat buruh, surat kabar, kelompok mahasiswa, grup-grup seniman dan intelektual. Para pendukung inilah yang kemudian bertugas untuk melawan rekan-rekannya yang anti-Amerika. Pada akhirnya setelah kurang lebih lima tahun Marshall Plan berhasil dalam menekan pengaruh komunisme di Eropa barat. Sehingga partai-partai komunis di daerah tersebut tidak lagi populer bahkan perlahan meredup. Jelas bahwa di sini Marshall Plan sangat berkaitan erat dengan Blok politik yang terjadi pada saat itu.

Baca juga: Pilkada Tetap Jalan, Ibadah dan Sekolah di Tutup, Ada Apa Dengan Negara Ini

Marshall Plan adalah kebijakan Amerika yang paling sukses selama perang dingin. Hingga saat ini frasa “setara dengan Marshall Plan” masih sering digunakan untuk mengambarkan program penyelamatan ekonomi skala besar. Kebijakan ini tentunya disusun dengan baik sehingga dapat berjalan dengan lancar meskipun dana tersebut tersebar dibeberapa negara di Eropa. Skala persebaran dana yang begitu luas dapat menimbulkan resiko seperti penyalahgunaan dana. Amerika sudah memikirkan hal ini dengan matang sehingga pemerintah AS tidak memberikan uang secara langsung kepada negara-negara peserta namun mengirimkan barang dan menyediakan layanan terutama pengiriman transatlantik. Selain itu bantuan tadi ada yang bersifat hibah dan pinjaman. Jadi, presentase hibah lebih kecil dibandingkan pinjaman sehingga dana tidak dapat disalahgunakan karena pada akhirnya harus dikembalikan.

Indonesia beberapa kali menyalurkan bantuan ke daerah-daerahnya yang membutuhkan seperti BLT (Bantuan Langsung Tunai) atau BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Kedua bantuan tersebut bersifat hibah dan ditujukan untuk membangun daerah-daerah yang membutuhkan. Namun yang terjadi dilapangan ada banyak dari bantuan tersebut yang disalahgunakan atau dikorupsi oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab. Hasilnya daerah-daerah tidak berkembang malah semakin bobrok. Oleh karena itu jika ingin menerapkan kebijakan yang sama dengan Marshall Plan maka Indonesia perlu untuk direvolusi mental terlebih dahulu. Jika tidak ada kesadaran dari dalam diri warganya sendiri untuk membangun daerahnya maka semua kebijakan menjadi percuma. Sebagus apapun kebijakan yang diambil jika tetap ada oknum yang korupsi tetap saja tidak akan berjalan. Apabila dirasa memang memungkinkan maka presentase gibah dan pinjaman dapat diubah seperti Marshall Plan sehingga daerah-daerah tetap harus mengembalikan dana yang sudah diberikan. Dengan demikian ada kemungkinan percepatan pembangunan ekonomi di daerah terpencil/tertinggal seperti Kalimantan, Papua, Sulawesi dan daerah Timur lainnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed