Pasar Surat Berharga Negara dan Rupiah Terguncang Isu Independensi BI

Share by :
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa pasar surat berharga negara Indonesia sempat terguncang akibat isu tergerogotinya independensi BI.

Secret-financial – Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa pasar surat berharga negara (SBN) Indonesia sempat terguncang akibat isu tergerogotinya independensi BI.

Isu tersebut berkembang saat Badan Legislasi DPR membahas mengenai revisi ketiga Undang-Undang Bank Indonesia Nomor 23 Tahun 1999. Di dalamnya termasuk pembentukan dewan moneter.

Perry mengungkapkan guncangan di pasar surat berharga negara terjadi dengan meningkatnya imbal hasil atau yield SBN ke posisi 6,8 persen pada September 2020 dari sebelumnya sempat turun di kisaran 6,6 persen.

Baca juga: Jaga Daya Beli Saat Pandemi, Program Padat Karya Tunai Lanjut Sampai 2021

Hal tersebut dia sampaikan saat rapat kerja dengan komisi XI DPR RI yang digelar secara virtual, Senin, 28 September 2020. Rapat kerja tersebut mengenai Laporan Semester I Kinerja BI.

“Tapi naik lagi di awal September yang berkaitan tempo hari masalah independensi BI membuat goncangan pasar (keuangan),” ungkap Perry.

Selain mengguncang pasar SBN, Perry mengklaim bahwa isu tersebut juga telah memengaruhi nilai tukar rupiah. Saat ini saja, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hampir menyentuh Rp15.000 per dolar AS.

Baca juga: Corona Membuat Orang Malas Ajukan Kredit ke Bank

Kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia misalnya mematok nilai tengah rupiah di level Rp14.959 per dolar AS. Melemah dari level akhir pekan lalu Rp14.951.

“Masalah independensi BI membuat goncangan pasar, itu meningkatkan yield SBN dan melemahkan rupiah,” ungkap dia.

Pemerintah menegaskan Rancangan Undang-Undang (RUU) Bank Indonesia yang saat ini tengah menyedot perhatian masyarakat tersebut merupakan inisiatif dari DPR.

Baca juga: Di Tengah Pandemi Covid-19, Intip Rekomendasi Saham Rumah Sakit MIKA dan HEAL

Leave a Reply