oleh

Pinjaman Online yang Merenggut Nyawa Debitur

SECRET-FINANCIAL.COM, Surabaya – Bertumbangnya korban pinjaman online (Pinjol) menimbulkan permasalahan baru. Gara-gara utang sejumlah total Rp 20 juta di 10 aplikasi pinjaman online yang tak juga lunas. Setiap hari, para debt collector menghubunginya terus-menerus via WhatsApp atau telepon.

Seperti nasabah pinjaman online lain, banyak yang terjerat lingkaran setan tak berujung hingga menggunakan 10 aplikasi pinjol. Ia membayar utang di satu aplikasi pinjol, dengan berutang di aplikasi pinjol yang lain.

Bertumbangnya korban pinjaman online (Pinjol) menimbulkan permasalahan baru. Debt collector menghubunginya terus-menerus via WhatsApp atau telepon.
Baca juga : Orang Utang di 141 Fintech Kena Teror Debt Collector

Di teror, dipermalukan, hingga mendapatkan perlakuan pelecehan seksual (kaum wanita). Tak hanya itu, mereka juga ditagih tanpa mengenal waktu dan pengambilan data pribadi untuk mempermalukan para korbannya ke orang lain.

Biasanya korban mulai diteror setelah tercekik lilitan hutang dengan besaran bunga antara 15-40 persen dengan lama pengembalian hanya 3-7 hari saja.

“Bahkan ada yang belum jatuh tempo saja mereka sudah ada yang meneror”. Semakin lelah dengan lilitan utang dan teror debt collector, ketika akhirnya berpikir untuk bunuh diri. Upaya preventif masih sangat kurang. OJK harus jemput bola. Jangan baru turun tangan ketika ada aduan masyarakat. Kalau ditemukan fintech ilegal, blokir saat itu juga. Blokir semua akses keuangannya.

Karena gampang banget minjem duit. Cuma kasih KTP sama data-data kayak tempat kerja dan kontak darurat. Terus verifikasi wajah.

Ciri-cirinya: tenor pendek, kurang dari 6 bulan, bahkan satu minggu. Konsekuensinya: risiko tinggi, bunga tinggi. penyesalan yang teramat sangat meski kondisinya berangsur pulih. Ia malas mengangkat telepon dari nomor berbeda-beda milik para debt collector yang masuk ke ponselnya.

Kini para nasabah pinjaman online yang merasa menjadi korban tak tinggal diam. Terlebih setelah mereka menyadari terdapat ratusan cerita serupa di mana-mana. Mereka mulai melawan bersama.

“Ada yang bunuh diri di Karawang gara-gara utang online. Dia tinggalin surat, bilang terjerat pinjaman online. Dia tulis minta maaf sama orang tuanya”.

Walau tidak dalam pengawasan OJK, fintech ilegal itu menjadi concern bersama. Oleh karenanya OJK tergabung dalam Satuan Tugas Waspada Investasi yang akan menangani fintech ilegal. Sejauh ini sudah ada 400 lebih fintech yang ditutup.

Agar tidak terjadi hal yang sama masyarakat lebih memerhatikan aplikasi yang hendak mereka gunakan untuk meminjam uang. Bila ragu, calon nasabah dapat menghubungi contact center OJK di 157 untuk memperoleh informasi seputar produk jasa keuangan, termasuk fintech.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed