oleh

OJK Tidak Bisa Mengatasi, Polisi Turun Tangan Atasi Fintech Ilegal

SECRET-FINANCIAL.COM, Surabaya – Polisi membongkar praktik financial technology (fintech) atau pinjaman online ‘Vega Data’ di kawasan Penjaringan, Jakarta Utara. Dalam kasus ini, polisi menangkap seorang WN China selaku bos hingga debt collector. OJK tidak bisa mengatasi, Polisi turun tangan atasi Fintech Ilegal.

Di lantai pertama terdapat sebuah lobi dengan tulisan PT Vega Data yang cukup besar. Sementara untuk lantai dua dan tiga kantor tersebut berisi puluhan komputer yang digunakan sebagai call center, analisis data, dan segala kegiatan perusahaan tersebut.

Dalam menjalankan aksinya, Budhi menyebut para tersangka menggunakan kedok yang berbeda-beda. Selain Vega Data, pengelola menggunakan satu nama perusahaan lain untuk memuat aplikasi pinjaman online ini.

Baca juga : Tips Tidak Diteror Debt Collector Pinjol

Yang pertama adalah PT BR. PT BR ini yang digunakan untuk menciptakan, membuat aplikasi cara meminjam online ini. Ada sepuluh aplikasi yang sudah ditutup.

“Kenapa ilegal? Karena tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai lembaga pengawas terhadap kegiatan-kegiatan keuangan,” kata Kapolres Jakarta Utara di Jakarta.

Polisi telah menangkap 3 orang tersangka yakni seorang WN China bernama Mr Lie selaku direksi dan 2 WNI berinisial DS sebagai debt collector dan AR sebagai supervisor. Ketiganya ditangkap di ruko kawasan Pluit Village, Jakarta Utara.

PT VD (Vega Data) ini bertugas untuk meng-collect tagihan-tagihan ataupun utang-utang nasabah yang diakibatkan tadi oleh PT BR. Artinya dua perusahaan ini berafiliasi. Vega Data memiliki 76 karyawan, termasuk HRD, supervisor, hingga debt collector. Mereka, selain mendapat gaji, juga dapat bonus apabila mereka berhasil menagih data atau uang dari nasabah.

Dalam kasus ini, polisi menangkap seorang WN China selaku bos hingga debt collector. OJK tidak bisa mengatasi, Polisi turun tangan atasi Fintech Ilegal.
Baca juga : Stop Bayar Pinjaman Online

Sejumlah karyawan perusahaan itu juga melakukan tindak pidana lain, yakni melakukan pengancaman, penyebaran fitnah melalui sarana elektronik hingga tindak pidana perlindungan konsumen.

“Mereka mengirimkan SMS ke beberapa nomor secara acak, dengan pesan ajakan atau tawaran untuk meminjam uang secara ‘online’ tanpa adanya agunan dan sebagainya,” kata Kapolres.

“Nanti kalau penerima SMS tertarik, silakan meng-klik tautan yang ada di situ. Begitu di-klik maka akan masuk ke aplikasi mereka, di mana di aplikasi mereka akan meminta data pribadi, nomor KTP, NPWP dan sterusnya,” katanya.

Saat ini, status para karyawan itu sebagai saksi karena mereka bekerja berdasarkan perintah pimpinan. Namun pemeriksaan mendalam masih dilakukan terhadap para karyawan tersebut.

Polisi turun tangan atasi Fintech Ilegal. Selain itu polisi juga mengamankan barang bukti puluhan prosesor komputer dan laptop hingga ratusan nomor telepon dari berbagai operator seluler.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed