fbpx
Aftech: Industri Fintech Turut Terimbas Corona

Aftech: Industri Fintech Turut Terimbas Corona

Aftech: Industri Fintech Turut Terimbas Corona

secret-financial.com – Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) membenarkan sejak adanya pandemi Covid-19 industri fintech turut terimbas corona. Hal itu dikarenakan adanya perubahan produktivitas dan efisiensi kerja yang tidak maksimal karena adanya program Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) membenarkan sejak adanya pandemi Covid-19 industri fintech turut terimbas corona karena adanya program PSBB.
Baca juga:
Baca juga:

Aftech Mercy Simorangkir mengatakan, dampak negatif lain yang dirasakan oleh industri fintech seperti adanya keterlambatan dalam pengurusan mitra bisnis baru.

Dia menyebutkan ketidakpastian dalam perekonomian menyebabkan penyelenggara fintech mengalami penundaan dalam pelaksanaan aktivitas bisnis, penurunan permintaan konsumen dan jumlah pengguna.

“Dampak lainnya juga terdapat penurunan transaksi, perubahan perilaku mitra usaha, hal ini juga termasuk lembaga keuangan karena berakibat terhadap peningkatan kehati-hatian serta peningkatan risiko operasional,” jelasnya dalam virtual conference, Jumat (8/5).

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini tidak selalu memberikan dampak negatif. Aftech mengungkapkan sekitar 23,4 persen perusahaan teknologi digital keuangan yang menjadi anggota Aftech mengalami dampak positif di tengah pandemi Covid-19.

“Sekitar 23,4 persen anggota-anggota kami mengalami dampak positif, mengingat fintech merupakan bagian dari ekonomi digital,” ujar Ketua Harian Aftech Mercy Simorangkir dalam seminar daring di Jakarta.

Mercy mengatakan pada saat sekarang ketika masyarakat melakukan aktivitas secara daring atau online dalam mencegah Covid-19, terdapat sebagian porsi fintech yang mengalami peningkatan. “Hal itu terlihat dalam peningkatan jumlah transaksi, pengguna baru, ataupun peluang usaha baru,” katanya.

Ia menambahkan, meski begitu terdapat pula beberapa dampak positif yang dirasakan oleh industri fintech. Mercy bilang, hal itu seperti munculnya peluang usaha baru yang masih berkaitan dengan model bisnis utama. Seperti edukasi dan layanan asuransi kesehatan maupun jiwa yang melalui kerjasama pihak ketiga.

Mercy mengatakan, adapun kegiatan usaha yang belum terdampak corona dikarenakan masih belum beroperasi atau telah melihat dampaknya, namun tidak signifikan.

Maraknya Aplikasi Pinjaman Online di Tanah Air

Maraknya Aplikasi Pinjaman Online di Tanah Air

Maraknya Aplikasi Pinjaman Online di Tanah Air

Maraknya aplikasi pinjaman online muncul di tanah air. Berdasarkan data OJK per Februari 2019 terdapat 99 aplikasi pinjaman online legal yang beroperasi.

SECRET-FINANCIAL.COM – Perkembangan teknologi internet telah banyak memudahkan kita dalam beraktivitas dan memenuhi berbagai kebutuhan. Mulai dari aktivitas berbelanja yang bisa dilakukan cukup dari gadget di tangan, aktivitas membayar berbagai tagihan rutin yang bisa dilakukan dari mana saja, dan lain sebagainya.

Fintech pinjaman alias rentenir online memiliki bunga yang mencekik pengguna layanan tersebut. Satuan tugas waspada investasi menyebut, pinjol abal-abal bisa mengenakan bunga pinjaman 4%-7% setiap harinya dengan jangka waktu yang tidak terbatas.

Seperti kita tahu dalam beberapa tahun terakhir, OJK sangat proaktif melindungi masyarakat dari jeratan utang yang diberikan pinjol ilegal. Caranya adalah dengan memblokir aplikasi sampai situs pinjol ilegal berdasarkan laporan masyarakat atau ditemukan sendiri oleh OJK.

Baca juga : Cara Lapor Polisi Dalam Penagihan Pinjaman Online
Baca juga : Cara Menghapus Data Pinjaman Online

Dalam dua tahun terakhir, Satgas Waspada Investasi OJK melansir telah memblokir sebanyak 1.230 pinjol ilegal. Namun, layanan tersebut masih banyak berkeliaran karena oknum rentenir digital dengan mudahnya bisa mengganti nama produk apabila terkena blokir.

Aplikasi pinjaman online memberikan kemudahan serta kecepatan pada masyarakat untuk mendapatkan pinjaman. 

Namun, di sisi lain, tidak sedikit masyarakat yang akhirnya terjerat utang aplikasi pinjaman online. Alhasil, mereka harus segera melunasi pinjaman agar tidak di teror para penagih utang.

Maraknya aplikasi pinjaman online muncul di tanah air. Berdasarkan data OJK per Februari 2019 terdapat 99 aplikasi pinjaman online legal yang beroperasi.   

Jumlah masyarakat yang terjerat dalam pusaran utang pinjol ilegal semakin bertambah. Banyak diantara debitur akhirnya tidak sanggup melunasi pinjaman karena denda plus bunga yang harus dibayar semakin bertumpuk. Bahkan jauh lebih besar dari nilai pokok utang yang dipinjamnya.

Salah satu hal yang juga marak seiring perkembangan teknologi internet adalah membludaknya penawaran-penawaran pinjaman online. Bila dahulu mengakses pinjaman uang tunai hanya terbatas disediakan oleh bank, pegadaian atau koperasi, maka kini, meminjam uang bisa semudah berbelanja online.

Cukup mengunduh aplikasi dan memenuhi persyaratan peminjaman, seseorang sudah bisa langsung mendapatkan pinjaman uang tunai. Selain aksesibilitas yang lebih mudah karena hanya melalui gadget, pinjaman online marak diminati karena acapkali memasang persyaratan yang sangat mudah. Umumnya, seseorang cukup memberikan bukti identitas dan foto diri dan bisa langsung mendapatkan pinjaman yang dia butuhkan.

Dibalik Kemudahan Pinjaman Online Bisa Saja Merugikan dan Mencekik

Dibalik Kemudahan Pinjaman Online Bisa Saja Merugikan dan Mencekik

Dibalik Kemudahan Pinjaman Online Bisa Saja Merugikan dan Mencekik

SECRET-FINANCIAL.COM – Bagi sebagian orang, masalah finansial tidak selalu mulus. Terlebih saat kebutuhan mendesak datang, tapi uang di tabungan nihil. Seiring dengan perkembangan teknologi, kini proses meminjam uang semakin dimudahkan. Ya, masalah itu sekarang bisa teratasi lewat adanya pinjol alias pinjaman online. 

Keperluan dana tambahan untuk berbagai kebutuhan makin meningkat. Hal ini tidak hanya dikarenakan bertambahnya populasi dan kebutuhan yang meningkat, melainkan juga inflasi yang tidak diikuti dengan peningkatan daya beli.

Bisa saja kemudahan pinjaman online merugikan dan mencekik kondisi keuangan Anda karena cicilan dan bunga yang sangat tinggi.
Baca juga :\

Situasi seperti ini pastinya tidak asing bagi banyak orang. Oleh karenanya banyak bermunculan layanan yang menawarkan pinjaman online dengan masa proses yang cepat.

Tak bisa dipungkiri bahwa kredit online yang marak belakangan ini memang sangat memudahkan kita. Bagaimana tidak? Prosesnya pengajuannya cukup mudah dan semuanya sudah melalui online. Dalam hitungan hari bahkan jam, pengajuan bisa disetujui dan pinjaman bisa segera digunakan.

Saat ini untuk meminjam uang tidak perlu repot-repot pergi ke bank atau perusahaan pinjaman uang online. Pasalnya, hal tersebut dapat dilakukan dengan mudah melalui online. Sudah banyak lembaga keuangan atau perusahaan pinjaman uang online yang beralih ke dunia maya untuk mempermudah konsumen menjangkau mereka. Apalagi sekarang sudah banyak yang menyediakan layanan pinjaman uang tanpa jaminan.

Kehadiran lembaga fintech di Indonesia membuat masyarakat makin mudah dalam mengajukan pinjaman. Tak perlu lagi melalui proses yang rumit dan manual, cukup buka aplikasi fintech, Anda bisa mendapatkan dana tunai secara cepat.

Namun dibalik kemudahan tersebut, utang tetaplah utang. Para debitur, tetap memiliki kewajiban untuk membayarnya kembali. Untuk itu, penting sekali mengetahui kondisi keuangan sebelum menambah utang baru.

Setelah mencari tahu rekam jejak fintech dan menghitung kemampuan bayar, baca secara detail syarat dan ketentuan pinjaman. Kemudian pastikan fintech yang dipilih menjamin kerahasiaan data Anda. Umumnya, akses yang diminta hanyalah kamera, microphone, lokasi, dan IMEI handphone.

Jangan asal ambil pinjaman online. Bisa saja kemudahan pinjaman online merugikan dan mencekik kondisi keuangan Anda karena cicilan dan bunga yang sangat tinggi. Maka survei terlebih dahulu besaran bunga dan denda yang ditawarkan.

Pinjaman Online Lagi Disorot, Soal Perlindungan Data

Pinjaman Online Lagi Disorot, Soal Perlindungan Data

Pinjaman Online Lagi Disorot, Soal Perlindungan Data

SECRET-FINANCIAL.COM – Pinjaman online peer to peer lending (P to P) kini sedang disorot masyarakat lantaran suku bunga harian yang dikenakan terbilang tinggi. Selain itu metode penagihan terhadap nasabah yang terlambat membayar cicilan juga dianggap tidak etis.

Kolektor dari pihak pemberi pinjaman suka mengintimidasi lewat telepon, whatsapp dan SMS bahkan mendatangi kediaman nasabah dengan cara kasar.

Temuan lainnya, nama baik nasabah dijatuhkan dengan cara menyebarkan pesan tertentu ke nomor kontak yang ada di ponsel nasabah.

Polisi sempat memutar rekaman penagihan debt collector financial technology (fintech). Rekaman percakapan debt collector kepada penagih membuat geram lantaran berisi caci maki dengan bahasa ‘kebun binatang’.

Perlindungan data ini pun, menjadi salah satu konsen pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan. Namun sekarang pinjaman online disorot soal perlindungan data.
Baca juga :

“Mengacu pada ketentuan dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), metode penagihan yang benar oleh fintech peer to peer harus dilakukan melalui desk collector.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Menteri Keuangan pun, sepakat harus ada aturan khusus untuk meningkatkan perlindungan data yang saat ini menjadi akar masalah. Pemerintah diyakini perlu membuat kebijakan berupa Undang-Undang (UU) ataupun Peraturan Menteri (Permen) terkait perlindungan data walaupun sudah ada UU ITE. 

Yang dilakukan oleh collector kita adalah memotivasi customer. Sudah bukan zamannya menagih secara kasar pakai orang berbadan gede datang ke rumah, karena langkah seperti itu tidak memberikan solusi. Kita lebih memilih menggunakan strategi win win solution kepada customer.

Pinjaman online ini memang tidak dikenai bunga dan agunan. Namun, ketika debitur mendapatkan kredit, maka akan dipotong untuk biaya administrasi. Sekarang pinjaman online disorot soal perlindungan data.

“Jadi misalnya minjam Rp 1,5 juta, maka kita yang meminjam hanya akan dapat Rp 1,2 juta. Yang Rp 300 (ribu) dianggap sebagai biaya administrasi. Kemudian, bila terlambat, ada denda. Dendanya Rp 50 ribu per hari,” ungkapnya.

Di tengah perkembangan Fintech di Indonesia yang mulai menggeliat terhadap kontribusi ekonomi Indonesia, perusahaan layanan data digital ini, terus disorotan terutama terkait perlindungan data nasabah atau pelanggannya.

Perlindungan data ini pun, menjadi salah satu konsen pemerintah dan Otoritas Jasa Keuangan dan berjanji segera menghadirkan undang-undang sebagai payung hukumnya. 

Cara Lapor Polisi Dalam Penagihan Pinjaman Online

Cara Lapor Polisi Dalam Penagihan Pinjaman Online

Cara Lapor Polisi Dalam Penagihan Pinjaman Online.

SECRET-FINANCIAL.COM – Namanya juga perusahaan pinjaman online (Fintech) abal-abal alias ilegal, tak ada jaminan segala bentuk operasional usahanya, termasuk cara menagih utang itu sesuai standar dan ketentuan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Karena keberadaannya tak diakui pihak otoritas, artinya semua kegiatan usaha perusahaan pinjaman online ilegal ini tidak diawasi. Tak heran bila sering terjadi perlakuan semena-mena pada nasabah yang pinjam uang tunai dari aplikasi tinggal klik dan unduh di smartphone ini.

Menagih cicilan yang belum dibayarkan alias utang sah-sah aja dilakukan. Namun, kalau menagihnya disertai dengan ancaman hingga pelecehan, itu sih udah kelewat batas, bahkan kurang ajar. Contohnya ya seperti penagihan utang online oleh perusahaan financial technology (fintech) yang belakangan ini marak terjadi.

Kebanyakan pinjaman ilegal ini adalah pinjaman online. Kemudahan mengunduh aplikasi dan kecepatan memperoleh uang tunai adalah beberapa faktor mengapa banyak orang terlilit pinjaman ilegal. Ada banyak sekali kasus tentang pinjaman ilegal ini terutama di Indonesia. Cara mereka menagih hutang juga terbilang menakutkan. Jika kamu telat membayar atau bahkan tidak mampu lagi membayar bunga dan denda maka sudah jelas kamu akan diteror selama hidup.

Ada banyak sekali kasus tentang pinjaman ilegal ini terutama di Indonesia. Cara lapor polisi dalam penagihan Pinjaman Online.
Baca juga :

Bila lalai, telat bayar tagihan atau tidak melunasi utang, siap-siap hadapi teror dan ancaman pinjaman online ilegal ini. Berikut berbagai cara penagihan utang pinjaman online ilegal seperti berikut.

  1. Teror bertubi-tubi melalui panggilan telepon setiap hari
  2. Membuat grup WhatsApp yang berisi keluarga, kerabat, teman, hingga atasan kerja nasabah
  3. Diancam harus menjual ginjal hingga pelecehan seksual untuk melunasi utang
  4. Intimidasi dengan mengirim pesan singkat (SMS) ke seluruh nomor kontak yang ada ponsel
  5. Menghubungi keluarga, kerabat, teman, hingga atasan tempat kerja yang ada di dalam data kontak ponsel

Cara Lapor Polisi Dalam Penagihan Pinjaman Online.

  1. Segera datangi kantor polisi setempat
  2. Hal pertama yang kamu lakukan  adalah tidak boleh panik. Jika kamu sudah menerima ancaman dan teror segera kumpulkan bukti-bukti ancaman, teror, intimidasi atau bahkan pelecehan
  3. Sampaikan bahwa kamu akan membuat laporan tentang ancaman penagih hutang
Orang RI Pintar, Utang di Pinjaman Online Tidak di Bayar

Orang RI Pintar, Utang di Pinjaman Online Tidak di Bayar

Orang RI Pintar, Utang di Pinjaman Online Tidak di Bayar.

SECRET-FINANCIAL.COM – Maraknya fenomena pinjol ilegal membuat Ketua Satgas Waspada Investasi Tongam L Tobing meminta masyarakat untuk lebih berhati-hati dalam mengajukan pinjaman online.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menyoroti perilaku masyarakat dalam meminjam uang melalui fintech. Menurutnya jika ada masyarakat yang meminjam uang tanpa kontrol itu sudah tidak etis.

Tongam mengatakan, utang dari debitur yang berutang di 141 pinjaman online itu mencapai Rp 200 juta dan pinjaman online nya tidak di bayar.

Kehadiran Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (LPMUBTI), memunculkan persoalan baru, yakni risiko over-indebtedness.

“Masyarakat kita itu pintar sebenarnya, pintar. Bagaimana nggak pintar, pinjaman online semalam pinjam 20 kali. Habis itu ya kalau semalam pinjam 20 kali ya etikanya sudah nggak betul ya,” kata Wimboh.

“Ada orang yang pinjam di 141 pinjaman online sekaligus, dia mengatakan tiap hari menerima 250 telepon,” ujar Tongam.

Baca juga :

Lalu karena meminjam uang terus-menerus, saat ditagih ada saja alasannya, walaupun tidak semua masyarakat berperilaku seperti itu.

“Nah otomatis kalau ditagih ya yang namanya masyarakat ya ngeles lah,” sebutnya.

Tongam mengatakan, utang dari debitur yang berutang di 141 pinjaman online itu mencapai Rp 200 juta dan pinjaman online nya tidak di bayar.

Dia pun menjelaskan, pinjaman online sebenarnya bisa menjadi bermanfaat jika masyarakat sudah bisa mengenali dan memanfaatkan dengan baik.

“Jelas dong, kalau namanya pinjam kan harus mengembalikan. Kapan mengembalikan sudah jelas, punya uang atau nggak bisa ukur sendiri dong. Kalau nggak punya kapasitas untuk pinjam sebegitu banyak, mengembalikan waktu tertentu, ya jangan,” jelasnya.

“Masyarakat terlalu banyak dijejali pinjaman online ilegal. Banyak yang menganggap pinjaman online ini ilegal, padahal ada 11,5 juta nasabah yang menikmati,” jelas dia.

Menurutnya, orang seperti itu bukannya tidak memahami masalah keuangan. Justru mereka pintar mengambil manfaat. Namun, Wimboh mengimbau agar para peminjam menghitung betul kemampuan membayarnya agar tak terlilit utang.

Tongam pun menjelaskan, hingga saat ini pihaknya belum bisa mencegah menjamurnya aplikasi layanan pinjaman onlie ilegal di platform Google Play, meski pihaknya mengaku telah melakukan komunikasi dengan pihak Google Indonesia.

“Tapi bagaimana ini, tapi ternyata banyak yang mendapatkan manfaat itu, yang benar-benar pinjam untuk kepentingan yang urgent dengan cepat, dengan elektronik bisa dilakukan,” tambahnya.

Ngeri! Fintech Ilegal Lakukan Pelecehan Seksual

Ngeri! Fintech Ilegal Lakukan Pelecehan Seksual

SECRET-FINANCIAL.COM, Surabaya – Keberadaan fintech ilegal masih meresahkan banyak masyarakat yang menjadi korban pinjaman online dan mendapat pengalaman tak menyenangkan dari para penagih utang dengan lakukan pelecehan seksual.

Sebuah iklan beredar dan menjadi viral. Dalam iklan tersebut, seorang perempuan bernama Darsiani memberi tawaran mengejutkan dengan rela digilir seharga Rp 800 ribu demi melunasi utang di aplikasi fintech illegal.

Pembuatan iklan penjajaan diri sebagai cara penagihan yang diduga dilakukan oleh debt collector adalah pelanggaran kode etik yang menjadi tanggung jawab fintech.

Fintech harus mematuhi  keputusan Kapolri tentang tatacara penagihan yg bisa disamakan debt collector penagihan berdasarkan fidusia.

Tujuannya fintech ilegal lakukan pelecehan seksual untuk mempermalukan korban sehingga dapat segera melunasi utangnya ke fintech tersebut tapi cara penagihan utang dengan melecehkan dan mempermalukan korban bukan yang pertama kalinya.

OJK dan polisi serta pihak lainnya harus melakukan tindakan preventif atas korban investasi/fintech ilegal ini.

Banyak korban yang akhirnya dipecat dari perusahaannya, diceraikan suami atau istrinya, dan bahkan mengalami trauma. Selain itu, ada beberapa korban yang bunuh diri lantaran depresi tak bisa melunasi pinjaman beserta bunga tinggi dari fintech ilegal. 

Cara penagihan utang ala fintech ilegal ini memang merambah ranah privasi. Bahkan, tercatat ada salah satu fintech ilegal di Google Play Store yang menyalahgunakan ribuan data pengguna dari aplikasi Go-Jek, Grab, dan Tokopedia.

Keberadaan fintech ilegal masih banyak yang menjadi korban pinjaman online dan mendapat ancaman dari para penagih utang dengan lakukan pelecehan seksual.
Baca juga : Orang Utang di 141 Fintech Kena Teror Debt Collector

Aplikasi pinjaman online ini rupanya tidak selamanya bermanfaat. Karena, tidak sedikit orang yang terjerat lilitan utang lantaran gagal bayar. Saat gagal bayar terjadi, beberapa aplikasi pinjaman online melakukan penagihan dengan cara kurang mengenakkan. “Mereka menelpon teman si peminjam untuk dimintai tolong mengingatkan pembayaran utang,” katanya.

Ada pula perusahaan aplikasi pinjaman online yang mengirimkan debt collector untuk menagih utang.

Bagian desk collection dari pihak penyelenggara fintech tempat Anda mengajukan pinjaman akan terus menerus menghubungi via telepon hingga tagihan dibayar. Terkandang muncul rasa takut ketika ada nomor telepon baru yang menghubungi sehingga tak ingin untuk menerima telepon tersebut.dan juga sangat mengganggu keseharian Anda dalam beraktivitas serta merasa tidak nyaman.

Wajib dibaca Jika Punya Masalah dengan Pinjaman Online

Wajib dibaca Jika Punya Masalah dengan Pinjaman Online

SECRET-FINANCIAL.COM, Surabaya – Keberadaan pinjaman online kini tengah menjadi sorotan banyak pihak. Salah satu yang disoroti adalah tingginya bunga pinjaman yang diterapkan. Maraknya pinjaman online ini membuat keuangan terkadang tidak terkontrol.

Mereka menyasar para pengguna yang awam dengan teknologi, dan menjanjikan pinjaman online cepat cair tanpa jaminan dala waktu singkat.

Keberadaan pinjaman online kini tengah menjadi sorotan banyak pihak.Maraknya pinjaman online ini membuat keuangan terkadang tidak terkontrol.
Baca juga: Pinjaman Online Meningkat Jelang Lebaran, P2P Lending Perketat Mitigasi Resiko

Maraknya aplikasi Pinjaman Online yang biasa disingkat ‘Pinjol’ yang juga dikenal dengan sebutan Fintech (Financial Technology) Lending kini kian banyak bermunculan. Dan kebanyakan dari mereka tidak terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan).

Sekarang berkat teknologi finansial digital, cukup dengan mengeklik satu tombol di ponsel bak menjentikkan jari, uang langsung meluncur masuk rekening. Hanya dalam lima menit. Sungguh cepat dan modern, melenakan sekaligus bikin ketagihan.

Jangan mudah tergiur iming-iming uang hanya dengan setor KTP dan foto. Salah-salah kamu bisa jadi korban penipuan.

Cukup memberikan data diri, dana segar bisa cair. Sangat mudah dan bikin ketagihan, kini banyak korban gali lubang tutup lubang. Data diri pribadi yang diberikan sebagai persyaratan kelak akan dimanfaatkan untuk menagih utang, dan parahnya, mereka memakai jasa ‘pemburu utang’ alias debt collector. Jadilah bermunculan teroris-teroris layar sentuh lengkap dengan caci-maki dan ancamannya.

Besaran bunga pinjaman juga diatur oleh AFPI. Jika ada fintech legal yang tidak menaati, maka fintech tersebut bisa dikenai sanksi yaitu dikeluarkan dari keanggotaan, AFPI telah menetapkan suku bunga pinjaman sebesar 0,8 persen per hari.

Mereka (aplikasi pinjaman online) cuma minta foto KTP doang, sama foto kita sambil pegang KTP. Dan dalam hitungan menit, uang  yang di ajukan peminjam masuk rekeningnya.

Perhitungannya sangat enggak jelas―ada bunga, ada denda, ada provisi (biaya administrasi), tapi tidak ditentukan di awal. Itu persoalan bunga. Terus persoalan penagihan: teror, intimidasi, ancaman, fitnah, dan penagihan yang tidak hanya dilakukan kepada si peminjam, tapi juga kepada kerabatnya.

Praktik-praktik penagihan yang meneror, mengancam, dan melecehkan itu merupakan pelanggaran pidana. Hal lain yang bisa termasuk pidana ialah soal pengambilan, pengumpulan, dan penggunaan data pribadi nasabah.

OJK Tidak Mengetahui Kasus Pinjaman Online

OJK Tidak Mengetahui Kasus Pinjaman Online

SECRET-FINANCIAL.COM, Surabaya – Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Surabaya belum menemui pihak Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkait dengan maraknya pengaduan akibat penipuan pinjaman online.

“Untuk melapor ke OJK masih kami pikirkan, bukannya kami menutup ruang bagi OJK sebagai regulasi, namun apakah efektif atau tidak jika kita melaporkannya,” ujar Pengacara Publik LBH Surabaya.

Dia mengatakan, tidak mungkin OJK tidak mengetahui kasus pinjaman online ini karena sudah banyak yang melaporkan ke OJK tapi belum ada tindak lanjutnya.

Dia mengatakan, tidak mungkin OJK tidak mengetahui kasus pinjaman online ini karena sudah banyak yang melaporkan ke OJK tapi belum ada tindak lanjutnya.

Sebelumnya kami juga menerima pengaduan banyak keluhan yang berasal dari pengguna perusahaan pinjaman online.

“Pengaduan tersebut masuk ke LBH dari berbagai provinsi di Indonesia,” ujar pengacara publik LBH Surabaya

Berdasarkan pengaduan yang diterima tersebut, LBH menemukan adanya berbagai pelanggaran hukum dan hak asasi manusia. Pelanggaran hukum tersebut dilakukan pemberi pinjaman berbasis daring kepada peminjam mereka.

Para pelaku tidak hanya mematok bunga pinjaman yang sangat tinggi, tetapi juga bunga pinjaman itu berlaku tanpa batasan. Menurut dia, bahkan menagih pinjaman tidak kepada peminjam melalui kontak yang diberikan saat bertransaksi, tetapi ke aplikasi grup chat yang berisi kontak pertemanan si peminjam atau korban.

“Jadi nanti si penagih membuat grup whatsapp yang isinya kontak teman-teman si korban, yang didapat dari database handphone korban saat daftar aplikasi, dia kemudian akan menagih dengan cara mempermalukan di grup itu,” ujar LBH