fbpx
Polri Usut 3.000 Pinjol Tak Berizin dan Meresahkan Masyarakat

Polri Usut 3.000 Pinjol Tak Berizin dan Meresahkan Masyarakat

Bareskrim Polri tengah usut 3.000 ribuan penyedia layanan pinjaman online atau pinjol ilegal yang beroperasi di Indonesia.
Polri Usut 3.000 Pinjol Tak Berizin dan Meresahkan Masyarakat

Secret-financial —  Bareskrim Polri tengah usut 3.000 ribuan penyedia layanan pinjaman online atau pinjol ilegal yang beroperasi di Indonesia. Wakil Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Komisaris Besar Whisnu Hermawan Februanto mengatakan, berdasarkan informasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), ada sekitar 3.000 penyedia layanan pinjaman daring yang tidak terdaftar.

“Masih ada 3.000 lebih ilegal atau tidak terdaftar di OJK. Inilah hal-hal yang menjadi perhatian Polri untuk bisa mengungkap perkara-perkara yang meresahkan masyarakat. Sama seperti kasus preman, ini kasus pinjol pun juga meresahkan,” ujar Whisnu melalui konferensi pers daring pada 17 Juni 2021.

Saking meresahkannya, kata Whisnu, Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Komisaris Jenderal Agus Andrianto telah mengeluarkan surat telegram internal ke seluruh jajaran untuk mengungkap perkara pinjaman daring ilegal.

Sebab, tak sedikit korban yang melapor lantaran mendapat teror dari penyedia layanan pinjol tersebut. Mulai dari meneror dengan mengirim pesan berantai hingga ke keluarga dan teman korban, hingga mengancam dengan menyebar foto vulgar maupun foto rekayasa korban di media sosial. “Bahkan sampai ada yang stres akibat pinjam yang tidak benar ini. Makanya ini supaya tidak ada lagi masyarakat yang dirundung, dilakukan kasar di media sosial ataupun di keluarga,” kata Whisnu.

Baca juga: Hati-hati Maraknya Iklan Pinjaman Online di Masa Pandemi Virus Corona
Hindari Pinjaman Online yang Meminta Ijin untuk Mengakses Smartphone

Hindari Pinjaman Online yang Meminta Ijin untuk Mengakses Smartphone

Cara agar kontak tidak disadap pinjaman online ialah tidak mengklik tombol “permission”, yang artinya meminta ijin untuk mengakses smartphone anda.

Secret-financial – Pinjaman online merupakan jenis pinjaman biasanya tersedia dalam bentuk aplikasi. Namun nyatanya kemudahan ini banyak disalahgunakan, oleh para pemilik kredit online. Para pemilik pinjol mulai memborbardir segala bentuk pinjaman lewat nomor pribadi, terkadang membuat risih dan alhasil harus mengganti nomor. Namun tidak perlu khawatir sekarang ada cara agar kontak tidak disadap pinjaman online ialah tidak mengklik tombol “permission”, yang artinya meminta ijin untuk mengakses smartphone anda.

Masyarakat sering menyingkatnya dengan pinjol, kepanjangan dari pinjaman online. Sebuah aplikasi pinjaman kredit, yang dapat dicairkan dalam waktu yang relatif lebih cepat. Bahkan tidak butuh proses yang panjang, seperti pinjaman biasa. Tersedia dalam bentuk aplikasi yang bisa dipasang di perangkat ponsel. Penggunanya pun bisa mengakses kapan saja dan dimanapun, tidak perlu repot datang ke kantor peminjaman kredit. Mencerminkan kemudahan fintech masa kini.

Salah satu keuntungan menggunakan pinjaman online ialah  pengajuannya lebih mudah. Anda tinggal mengisi data pribadi, mengunggah foto diri dan tinggal menunggu proses aplikasi. Sekilas terlihat mudah namun anda justru perlu berhati-hati, sebab tidak bertatap muka langsung dengan pegawai yang bertanggung jawab. Jadi ketika ada kesalahan dalam pinjaman, anda tidak tahu akan melakukan pertanggungjawaban melalui siapa.

Baca juga: Cara Menghapus Data Pinjaman Online

Banyak kasus sering terjadi jika data calon nasabah disalahgunakan. Seringkali pengelola pinjaman online, membuat hal-hal yang tidak nyaman. Contohnya menyadap nomor ponsel calon nasabah, untuk digunakan dalam banyak kepentingan. Kadang pula meneror dengan tawaran kredit yang tidak dibutuhkan, dan sedikit memaksa. Namun kini tidak perlu khawatir, ada cara agar kontak tidak disadap pinjaman online. Tujuannya untuk mengamankan data pribadi, supaya tidak lagi tereskpos.

Lembaga Bantuan Hukum menerima lebih dari 1000 kasus, terkait masalah fintech yang melibatkan kredit online. Laporan yang masuk rata-rata bunga yang terlalu tinggi, hingga pelanggaran dalam akses data kontak pribadi. Data pribadi calon peminjam diaskes oleh pihak kredit online, sampai mengecek log panggilan keluar dan masuk. Dengan alasan hal tersebut diperlukan, untuk prosesdur kelayakan mendapat pinjaman.

Ketika ditanya apa motivasi pengelola kredit online, mereka menjawab untuk mendapatkan informasi apakah calon peminjam adalah penggemplang. Maksudnya untuk mengetahui memang calon peminjam murni, atau pihak saingan kredit online yang lainnya. Terkadang pula mereka memastikan hubungan, calon peminjam dengan emergency kontak yang Ia cantumkan. Untuk melihat seberapa dekat jarak hubungan mereka, alasannya jelas untuk keuntungan pihak pemberi kredit online.

Padahal akses yang dilakukan oleh fintech ini sangat illegal, dan tidak ada hubungannya dengan credit scoring. Sehingga sejak kasus tersebut terkuak, baik OJK maupun Kominfo mengambil langkah tegas untuk melarang fintech mengakses kontak. Dan memberlakukan sebuah cara agar kontak tidak disadap pinjaman online. Disisi lain Memberikan sebuah peraturan yang mana pihak penyelenggara, wajib menjaga kerahasiaan dan keutuhan data calon peminjam.

Baca juga: Tips Tidak Diteror Debt Collector Pinjol

Ketika anda memutuskan untuk mengambil kredit online, pastikan dulu data yang hendak diupload ke aplikasi aman. Demi menjaga privasi kontak anda bisa gunakan HP yang tidak ada kontak, bukan berarti kosongan isi saja dengan nomor asal atau nomor pihak berwajib. Minimal mengisi kontak 100 sampai 200 nama, tapi jangan mencantumkan kontak kerabat dekat. Takutnya pihak kredit online juga memaksa untuk menghubungi kontak keluarga anda.

Hindari juga perijinan dari aplikasi saat sedang menginsatall aplikasi. Pihak kredit online akan mudah mengambil beberapa data, yang disimpan dalam smartphone. Cara agar kontak tidak disadap pinjaman online, ialah tidak mengklik tombol “permission”, yang artinya meminta ijin untuk mengakses smartphone anda. Oleh sebab itu cara agar kontak tidak disadap, ialah membaca terlebih dahulu perijinan yang diajukan. Jika tidak setuju bisa langsung di close dan lanjut step berikutnya.

Cara Mudah Menghapus Data di Aplikasi Pinjaman Online

Cara Mudah Menghapus Data di Aplikasi Pinjaman Online

Kali ini kita akan membahas bagaimana cara menghapus data kontak dari pinjaman online. Bagi anda yang sudah merasakan bagaimana kerugian yang didapatkan

Secret-financial – Kali ini kita akan membahas bagaimana cara menghapus data kontak dari pinjaman online. Bagi anda yang sudah merasakan bagaimana kerugian yang didapatkan ketika sudah meminjam uang di pinjaman online, pastinya akan merasa menyesal dan tidak ingin mengulanginya lagi. Sayangnya pemberitahuan informasi selalu saja dilakukan tanpa henti. Nah, anda bisa menerapkan beberapa langkah berikut untuk menghapus data yang sudah tersimpan oleh pinjaman online sehingga sudah tidak ada lagi pemberitahuan informasi dan peringatan lainnya.

Sebelum melakukan penghapusan data, maka ada beberapa hal yang harus anda perhatikan terlebih dahulu. Salah satunya adalah kewajiban pembayaran hutang bagi peminjam. Sebagai salah satu bentuk tangggung jawab karena telah meminjam uang di fintech, maka anda harus melakukan pelunasan uang yang sudah dipinjam sesuai dengan kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya.

Cara ini perlu kamu pahami jika kamu sudah berkomitmen untuk meninggalkan layanan pinjol dan beralih ke jenis produk pinjaman lainnya, atau mungkin sudah kapok dengan urusan pinjam-meminjam uang.

Baca juga: Cara Menghilangkan Izin Aplikasi Pinjaman Online Mengakses Telpon

Berikut ini Cara Menghapus Data Dari Pinjaman Online:

1. Jika pinjaman sudah lunas, hubungi call center pinjol tersebut dan mengajukan permohonan penghapusan data pribadimu.

2. Hapus aplikasi pinjol yang sudah terinstall di smartphone.

Hapus aplikasi pinjaman online yang sudah terinstall di HP. Tentunya sebelum melakukan pinjaman uang di fintek anda diharuskan mengunduh aplikasi tersebut terlebih dahulu untuk melakukan proses pengajuan. Di situ pula anda memberikan beberapa data pribadi sebagai syarat pengajuan pinjaman seperti KTP, KK hingga nomor orang terdekat yang bisa dihubungi.

3. Ganti SIM card.

Hal ini bertujuan agar fintech tersebut tidak bisa menghubungi anda lagi.

4. Hapus akun media sosial WA, IG, LINE hingga Facebook.

Anda juga harus melakukan uninstal terhadap beberapa aplikasi media sosial yang sebelumnya sudah dipakai seperti WA, IG, LINE hingga facebook.

5. Ganti dengan akun bernomor baru.

Jika anda masih membutuhkan media sosial tersebut, maka buatlah akun dengan nomor baru.

6. Jika gangguan masih berlanjut, laporkan ke OJK.

Namun, ada beberapa pinjaman online yang tidak terdaftar Otoritas Jasa Keuangan sehingga melakukan acaman dan gangguan yang berlebihan. Kredit yang terus menerus harus dibayar tanpa henti padahal jumlah pinjaman yang anda ajukan hanya sedikit. Untuk kasus ini maka anda bisa melaporkan pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga pinjaman online tersebut tidak lagi melakukan ancaman secara terus menerus.

Perlindungan Hukum

Kementerian Komunikasi dan Informatika menyoroti penyalahgunaan data kontak pribadi nasabah, 

Pemerintah juga mendorong agar praktek penyalahgunaan ini tidak berlarut-larut. Pinjol yang melakukan penyalahgunaan data akan dikenakan sanksi perdata maupun pidana yang cukup berat melalui RUU Perlindungan Data Pribadi (PDP).

Semoga tips ini bisa membantumu keluar dari masalah penyalahgunaan data nasabah dalam aplikasi online ya.

Cara Menghilangkan Izin Aplikasi Pinjaman Online Mengakses Telpon

Cara Menghilangkan Izin Aplikasi Pinjaman Online Mengakses Telpon

Aplikasi Pinjaman online alias pinjol yang biasa disebut  fintech semakin populer dan getol melakukan penawaran, demi menjaring lebih banyak nasabah.

Secret-financial – Aplikasi Pinjaman online alias pinjol yang biasa disebut  fintech alias PeerToPeerLending semakin populer dan getol melakukan penawaran, demi menjaring lebih banyak nasabah. Cara yang mereka tempuh pun beragam, mulai  dari talkshow bertopik PeerToPeerLending di televisi, podcast, media sosial.

Mereka juga gencar mengirim pesan SMS maupun chat ke nomor handphone.Meski kerap kali tidak mengetahui nomor tersebut didapatkan dari mana. 

Berkembangnya popularitas pinjol disertai pula dengan keluhan nasabahnya.  Salah satunya adalah penyalahgunaan informasi kontak untuk melakukan penagihan. Jika terpaksa menggunakan layanan tersebut, kamu perlu tahu cara menghapus data kontak dari pinjaman online

Baca juga: Orang RI Pintar, Utang di Pinjaman Online Tidak di Bayar

Namun, ada beberapa pinjaman online yang tidak terdaftar OJK dan masuk dalam kategori yang ilegal sehingga anda harus mewaspadainya. Bagi peminjam yang sudah terjebak dengan fintech ini, maka tidak sedikit dari mereka yang harus melakukan pembayaran secara terus menerus hingga tidak ada habisnya. Hutang yang awalnya hanya Rp 600 ribu bisa jadi berjuta juta. Tentunya hal ini menyebabkan anda mencari tahu bagaimana cara menghapus data dari pinjaman online.

Bahkan setelah dilakukan pembayaran, mereka masih saja tetap menagih hingga anda diteror terus menerus. Tentunya hal ini sangat membuat anda terganggu dan tidak bisa melakukan aktivitas dengan baik. Anda pun juga tidak bisa fokus bekerja akibatan ancaman yang diberikan oleh pihak pinjaman online. Jika sudah begini anda harus melakukan tindakan untuk menghentikan penagihan yang dilakukan tanpa henti.

Tak sampai di sini, ada beberapa aplikasi pinjaman online yang masuk kategori ilegal memberikan peringatan tidak hanya kepada anda saja, melainkan kepada teman teman kantor dan saudara anda. Tidak hanya anda saja yang terganggu maka mereka pun juga akan semakin terganggu dan tentunya anda akan merasa malu. Maka dari itu anda harus mengetahui bagaimana  cara menghapus data dari pinjaman online, agar hidup anda lebih tenang.

Baca juga: Pinjaman Online, Utang Yang Mencekik Masyarakat

Kamu cukup  mematikan izin akses data bagi aplikasi pinjol tersebut. Bahkan, ada beberapa aplikasi yang bahkan meminta untuk bisa mengakse  internet banking dan e-commerce milik pengguna! .Tentu saja langkah ini akan sangat membahayakan data-data pribadimu.  Izin ini akan membuat aplikasi untuk mengambil semua bentuk data yang tersimpan di smartphone.

Berikut ini step by step cara menghilangkan izin bagi aplikasi untuk mengakses data di smartphone.

  1. Klik “setting” atau “pengaturan” di smartphone.
  2.  Lalu Cari ‘Aplikasi’.
  3. Klik aplikasi pinjol yang ingin kamu rubah izinnya.
  4. Scroll ke bawah, sampai terlihat izin seperti yang dimaksud.
  5. Matikan izin yang tidak kamu kehendaki.
Waspada Tawaran Pinjaman Online Via SMS, Mengapa?

Waspada Tawaran Pinjaman Online Via SMS, Mengapa?

Aktivitas tawaran pinjaman online oleh perusahaan teknologi keuangan atau fintech ilegal kembali marak, seiring peningkatan kebutuhan dana oleh masyarakat

Secret-financial – Aktivitas tawaran pinjaman online (pinjol) oleh perusahaan teknologi keuangan atau fintech ilegal kembali marak, seiring peningkatan kebutuhan dana oleh masyarakat.

Bahkan, seringkali masyarakat menerima penawaran pinjaman online melalui pesan singkat atau SMS. 

Menanggapi hal itu, Ketua Umum Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Adrian Gunadi mengatakan di era digital, tawaran pinjaman online melalui SMS semakin marak, apalagi di saat pandemi Covid-19 saat ini.

Baca juga: Cara Menghapus Data Pinjaman Online

Bisa dipastikan, tawaran lewat SMS ini adalah dari pelaku fintech ilegal yang tidak terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

“Pelaku fintech ilegal mengincar masyarakat yang saat ini kesulitan ekonomi dan membutuhkan uang akibat pandemi untuk memenuhi kebutuhan pokok atau konsumtif. Padahal pinjaman fintech ilegal ini sangat merugikan masyarakat karena mengenakan bunga yang tinggi, jangka waktu pinjaman pendek dan mereka selalu meminta untuk mengakses semua data kontak di handphone. Ini sangat berbahaya, karena data ini bisa disebarkan dan digunakan untuk mengintimidasi saat penagihan,” ujarnya mengutip siaran persnya, Rabu (23/9/2020).

Dia pun meminta kepada seluruh masyarakat untuk tetap waspada dan jangan mudah tergiur.

Sebenarnya, kata Adrian, fintech peer to peer lending yang sudah terdaftar di OJK dilarang untuk menawarkan produk atau promosi melalui pesan singkat SMS.

Baca juga: Orang RI Pintar, Utang di Pinjaman Online Tidak di Bayar

Hal itu, kata dia, telah diatur dalam Peraturan OJK nomor 07/2013 tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan.

Dalam peraturan tersebut di pasal 19 disebutkan, Pelaku Usaha Jasa Keuangan dilarang melakukan penawaran produk dan/atau layanan kepada Konsumen dan/atau masyarakat melalui sarana komunikasi pribadi yang bersifat personal (e-mail, SMS, dan voice mail) tanpa persetujuan konsumen.

Setiap penyelenggara fintech lending anggota AFPI dalam setiap penawaran atau promosi, wajib mencantumkan atau menyebutkan nama dan logo penyelenggara serta pernyataan terdaftar di OJK. Hal ini diatur dalam Pasal 35 Peraturan OJK No.77/2016.

Bahkan dalam pasal 48 disebutkan, penyelenggara (fintech lending) wajib terdaftar sebagai anggota asosiasi yang telah ditunjuk oleh OJK, yakni AFPI.

“Selain itu dalam proses penyaluran pinjaman, fintech lending terdaftar OJK juga didukung oleh asuransi pinjaman serta menggunakan sistem credit scoring yang sudah teruji, seperti Pefindo, untuk menganalisis dan verifikasi pinjaman,” kata Adrian.

Baca juga: Sri Mulyani Sebut Sistem Logistik Nasional Seperti Benang Ruwet

Berdasarkan data dari Satgas Waspada Investasi (SWI) jumlah total fintech peer to peer lending ilegal yang telah ditangani SWI sejak tahun 2018 sampai Juni 2020 sebanyak 2.591 entitas.

Pada Juni 2020 saja, SWI menemukan 105 fintech P2P lending illegal yang menawarkan pinjaman ke masyarakat melalui aplikasi dan pesan singkat SMS di telepon genggam.

Untuk itu, lanjut dia, agar memastikan status izin penawaran produk jasa keuangan yang diterima, masyarakat dapat menghubungi Kontak OJK 157 melalui nomor telepon 157 atau layanan whatsapp 081 157 157 157 atau e-mail konsumen@ojk.go.id dan waspadainvestasi@ojk.go.id atau bisa juga mengunjungi website resmi OJK.

Kredit Macet Naik Akibat Pandemi, Fintech Lending Tawarkan Ini ke Peminjam

Kredit Macet Naik Akibat Pandemi, Fintech Lending Tawarkan Ini ke Peminjam

Industri pinjam meminjam berbasis teknologi (fintech lending) mengalami lonjakan rasio kredit macet akibat pandemi Covid-19.

Secret-financial – Industri pinjam meminjam berbasis teknologi (fintech lending) mengalami lonjakan rasio kredit macet akibat pandemi Covid-19. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), hingga Juli 2020 rasio TKB90 industri merosot dari 96,02 persen di Januari 2020 menjadi 92,01 persen.

TKB90 merupakan ukuran tingkat keberhasilan penyelenggara fintech lending dalam memfasilitasi penyelesaian kewajiban pinjam meminjam dalam jangka waktu 90 hari sejak tanggal jatuh tempo. Dengan demikian tingkat wanprestasi (TWP90) pinjaman pun membengkak dari 3,98 persen menjadi 7,99 persen.

Chief Executive Officer Modalku Reynold Wijaya mengatakan peminjam (borrower) dari segmen usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) menjadi yang paling terdampak kinerja bisnisnya, sehingga berpengaruh pada kemampuan membayar kewajibannya. “Kami berusaha melakukan restrukturisasi kasus per kasus, dengan menerapkan pendekatan proaktif dan kolaboratif,” ujarnya.

Baca juga: Hati-hati Maraknya Iklan Pinjaman Online di Masa Pandemi Virus Corona

Pendekatan proaktif yang dimaksud adalah dengan menawarkan skema relaksasi pembayaran sesuai kondisi performa bisnisnya secara berkala. Sedangkan, pendekatan kolaboratif memungkinkan Modalku untuk mengakomodasi skema bayar yang diajukan oleh borrower. Hingga akhir Agustus lalu, Modalku mencatat TKB90 berada pada posisi 90,84 persen, dengan total akumulasi pinjaman tahun berjalan sebesar Rp 611,32 miliar.

Reynold mengatakan untuk mengantisipasi lonjakan NPL, Modalku mengupayakan sejumlah strategi mitigasi risiko, khususnya dalam melakukan penilaian terhadap calon borrower, khususnya terkait dengan kemampuan finansial yang dimiliki untuk dapat melunasi pinjaman.

“Selain itu kami juga melakukan inovasi produk yang disesuaikan dengan kebutuhan UMKM,beberapa sektor yang masih berpotensi berkembang di masa ini adalah perdagangan besar/kecil, industri, kesehatan, dan pengusaha online,” ucapnya.

Sementara itu, Chief Executive Officer Akseleran, Ivan Nikolas Tambunan berujar risiko kredit yang meningkat karena pandemi turut berdampak pada kinerja penyaluran pinjaman baru. Dia mencontohkan pada Januari Akseleran menyalurkan pinjaman Rp 80 miliar, lalu mengalami penurunan tajam hampir 40 persen menjadi Rp 49 miliar pada Mei lalu.

Baca juga: Covid-19 Tak Akan Selesai 2020, Sri Mulyani Minta Pengelolaan APBN Tetap Akuntabel

“Dari sisi calon borrower sebenarnya masih banyak, tapi yang lebih terdampak itu dari sisi pemberi pinjaman (lender), mereka lebih khawatir karena ada Covid jadi takut memberikan pinjaman,” ucap Ivan.

Tingkat kepercayaan yang terganggu itu pun terjadi pada lender dari segmen ritel maupun institusional. Namun, seiring dengan adaptasi dan pelonggaran aktivitas ekonomi secara bertahap volume penyaluran pinjaman perlahan mulai kembali pulih.

Juru bicara OJK, Sekar Putih Djarot mengatakan di tengah dampak pandemi, peningkatan angka kredit macet (TPW90) fintech lending sulit untuk dihindarkan. “Peningkatannya masih dalam batas kewajaran, masih dalam batas yang masih bisa diterima, karena risiko pendanaan via peer to peer lending memang tinggi,” katanya.

Sekar menjelaskan dalam fintech lending, risiko kredit macet ditanggung oleh pemberi pinjaman. Otoritas mengimbau kepada para lender untuk memanfaatkan fasilitas penjaminan atau asuransi kredit yang disediakan oleh platform fintech lending bekerja sama dengan perusahaan asuransi. “Penyelenggara juga diharapkan dapat memaksimalkan kualitas credit scoring dan memitigasi risiko-risiko yang muncul akibat pandemic Covid.”

Baca juga: Tanda Resesi Semakin Nyata

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira Adhinegara menambahkan lonjakan NPL fintech berpotensi terus menggerus kepercayaan lender atau para investor yang ingin menginvestasikan uangnya di industri fintech lending.

“Pastinya mereka akan membandingkan antara risiko dan tingkat keuntungan memasukkan uang ke fintech,” kata dia. Di sisi lain, jumlah borrower terus mengalami peningkatan. “Dampak berikutnya bukan tidak mungkin akan ada perusahaan fintech yang tutup secara permanen karena tidak sanggup bersaing dalam menjaga NPL.”

Ini Tantangan Besar Pengembangan Ekonomi Digital di Tanah Air

Ini Tantangan Besar Pengembangan Ekonomi Digital di Tanah Air

Satu di antara 4 tantangan itu adalah rendahnya inklusi keuangan di Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK)

Ini Tantangan Besar Pengembangan Ekonomi Digital di Tanah Air

secret-financial.com – Teknologi finansial (fintech) menjadi primadona di tengah pandemi Covid-19. Diyakini, fintech menjadi salah satu kunci penting dalam pemulihan ekonomi setelah pandemi Covid-19.

Kendati demikian, Deputi Komisioner Institute dan Keuangan Digital OJK Sukarela Batunanggar mengatakan, ini ada 4 tantangan besar yang menghambat perkembangan finansial digital di Indonesia.

Satu di antara 4 tantangan itu adalah rendahnya inklusi keuangan di Indonesia. Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), 54 juta masyarakat Indonesia masih belum terjangkau bank sehingga tidak memiliki akun bank.

Baca juga: Ke Pegawai Kementerian Keuangan, Sri Mulyani: Kita Dalam Pertempuran

OJK menargetkan 75 persen masyarakat bisa terinklusi pada 2020.

“Kemudian ada gap (pembatas) yang besar dalam pendanaan kredit UMKM, rendahnya literasi financial digital, dan rendahnya sumber daya untuk fintech dan startup,” kata Sukarela dalam OJK Virtual Innovation Day, Senin (24/8/2020).

Dia menuturkan, rendahnya literasi finansial digital menjadi sorotan. Sebab pengguna internet di Indonesia mencapai 52,8 persen dan 34 persen memahami channel digital. Namun, hanya 8,3 persen pengguna channel digital.

Begitu pun tantangan terkait rendahnya sumber saya manusia untuk fintech dan startup. Berdasarkan data Bank Dunia, 60 persen responden setuju adanya kekurangan sumber daya dalam fintech, dan 58 persen menemukan adanya sumber daya yang tidak cukup memenuhi kriteria mereka.

Baca juga: Kemenkeu Ungkap Alasan Sri Mulyani Singgung Pengalaman Para Menteri di Kabinet

Untuk itu, kata Sukarela, pihaknya merespons tantangan tersebut dengan 3 cara, yakni menerbitkan regulasi yang sesuai dengan kebutuhan, mengembangkan kapasitas finansial, dan mengembangkan industri finansial.

Regulasi yang seimbang berfungsi untuk stabilitas finansial, perlindungan konsumen, pertumbuhan yang terakselerasi, dan pengembangan inovasi finansial.

“Pengembangan dalam industri keuangan meliputi inovasi finansial, perlindungan konsumen, market conduct dan people empowerment. Membangun kapasitas finansial meliputi akses finansial untuk masyarakat, literasi finansial, dan membangun jiwa entreprenuership,” pungkasnya.

Pinjaman Online Meningkat Jelang Lebaran, P2P Lending Perketat Mitigasi Resiko

Pinjaman Online Meningkat Jelang Lebaran, P2P Lending Perketat Mitigasi Resiko

Jelang lebaran dan pandemi Covid-19 permintan pinjaman online meningkat/peer to peer (P2P) lending masih terbilang ramai.

Pinjaman Online Meningkat Jelang Lebaran, P2P Lending Perketat Mitigasi Resiko

secret-financial.com – Jelang lebaran dan pandemi Covid-19 permintan pinjaman online meningkat/peer to peer (P2P) lending masih terbilang ramai. Kendati demikian, industri peer to peer lending mulai memperketat pinjaman demi menjaga kualitas pinjaman.

PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku) mengakui periode Ramadan tahun ini merupakan periode yang cukup unik lantaran momentum hari raya bersamaan dengan adanya pandemi Covid-19. Co-Founder & CEO Modalku Reynold Wijaya menyebut pada kondisi ini, terdapat peningkatan permintaan pinjaman yang merupakan kombinasi dari kondisi Covid-19 serta Ramadan.

Baca juga: Hati-hati Maraknya Iklan Pinjaman Online di Masa Pandemi Virus Corona

Ia menyebut sektor usaha yang masih banyak mengajukan pinjaman adalah dari sektor perdagangan serta industri kesehatan. Adapun kebutuhan pinjaman di industri kesehatan juga sudah difasilitasi oleh Modalku melalui pinjaman terhadap suplier alat kesehatan serta fasilitas kesehatan yang sedang membutuhkan alat kesehatan tersebut.

“Sampai saat ini, Grup Modalku telah menyalurkan pinjaman sebesar Rp 14 triliun kepada UMKM di Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Menurut kami, jumlah penyaluran tahun ini tidak dapat dibandingkan dengan Ramadhan tahun lalu karena kondisi terjadi cukup berbeda,” ujar Raynold.

Apalagi, diketahui tawaran pinjaman online dari lembaga pinjam-meminjam (peer to peer lending/P2P) fintech relatif mudah dan cepat, tanpa prosedur panjang layaknya lembaga keuangan perbankan.

“Untuk bagi yang menerima Tunjangan Hari Raya (THR), sehingga dapat menopang banyak kebutuhan. Tetapi, potensi risiko akan muncul sehabis lebaran, dana bisa berkurang. Untuk itu, masyarakat wajib lebih hati-hati dalam meminjam di fintech,” ujarnya.

Menurut saya, daripada ditagih utang melulu pascalebaran, lebih baik mendengar nyinyiran orang-orang yang memberikan komentar karena kita tidak mengenakan baju baru atau tidak punya kue lebaran. Toh, mereka yang nyinyir tidak akan ikut ditleponin oleh debt collector-nya nanti kalau kita gagal bayar

Pinjaman Online, Utang Yang Mencekik Masyarakat

Pinjaman Online, Utang Yang Mencekik Masyarakat

Pinjaman Online, Utang Yang Mencekik Masyarakat. Aplikasi pinjaman online ini memberikan kemudahan dan kecepatan masyarakat untuk mendapatkan pinjaman dana.

Pinjaman Online, Utang Yang Mencekik Masyarakat

secret-financial.com – Aplikasi pinjaman online memberikan kemudahan serta kecepatan pada masyarakat untuk mendapatkan pinjaman. Namun, di sisi lain, tidak sedikit masyarakat yang akhirnya terjerat utang aplikasi pinjaman online. Alhasil, mereka harus segera melunasi pinjaman agar tidak di teror para penagih utang. 

Belakangan aplikasi pinjaman online marak muncul di tanah air. Berdasarkan data OJK per Februari 2019 terdapat 99 aplikasi pinjaman online legal yang beroperasi.

Belakangan aplikasi pinjaman online marak muncul di tanah air. Berdasarkan data OJK per Februari 2019 terdapat 99 aplikasi pinjaman online legal yang beroperasi.

Aplikasi pinjaman online ini memberikan kemudahan dan kecepatan masyarakat untuk mendapatkan pinjaman dana.

Sekedar informasi, para pengelola aplikasi ini bisa memberikan pinjaman dana dalam hitungan jam. Tambah lagi, pinjaman yang mereka berikan tidak membutuhkan agunan.

Mohammad Andoko, Financial Planner One Shildt mengatakan aplikasi pinjaman online sangat disukai oleh generasi milenial. Alasannya, mereka mendapatkan pinjaman dana dengan cepat dan praktis.

“Kebanyakan pinjaman tersebut digunakan untuk membiayai gaya hidup mereka yang konsumtif,” tambahnya.  

Aplikasi pinjaman online ini rupanya tidak selamanya bermanfaat. Karena, tidak sedikit orang yang terjerat lilitan utang lantaran gagal bayar.

Maklum saja, aplikasi pinjaman online memberikan bunga pinjaman tinggi kepada setiap member. Contohnya, sebuah aplikasi pinjaman online menetapkan bunga pinjaman sekitar 2,95% per bulan.

Saat gagal bayar terjadi, beberapa aplikasi pinjaman online melakukan penagihan dengan cara kurang mengenakkan. “Mereka menelpon teman si peminjam untuk dimintai tolong mengingatkan pembayaran utang,” katanya.

Ada pula perusahaan aplikasi pinjaman online yang mengirimkan debt collector untuk menagih utang.

Aftech: Industri Fintech Turut Terimbas Corona

Aftech: Industri Fintech Turut Terimbas Corona

Aftech: Industri Fintech Turut Terimbas Corona

secret-financial.com – Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) membenarkan sejak adanya pandemi Covid-19 industri fintech turut terimbas corona. Hal itu dikarenakan adanya perubahan produktivitas dan efisiensi kerja yang tidak maksimal karena adanya program Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) membenarkan sejak adanya pandemi Covid-19 industri fintech turut terimbas corona karena adanya program PSBB.
Baca juga:
Baca juga:

Aftech Mercy Simorangkir mengatakan, dampak negatif lain yang dirasakan oleh industri fintech seperti adanya keterlambatan dalam pengurusan mitra bisnis baru.

Dia menyebutkan ketidakpastian dalam perekonomian menyebabkan penyelenggara fintech mengalami penundaan dalam pelaksanaan aktivitas bisnis, penurunan permintaan konsumen dan jumlah pengguna.

“Dampak lainnya juga terdapat penurunan transaksi, perubahan perilaku mitra usaha, hal ini juga termasuk lembaga keuangan karena berakibat terhadap peningkatan kehati-hatian serta peningkatan risiko operasional,” jelasnya dalam virtual conference, Jumat (8/5).

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia saat ini tidak selalu memberikan dampak negatif. Aftech mengungkapkan sekitar 23,4 persen perusahaan teknologi digital keuangan yang menjadi anggota Aftech mengalami dampak positif di tengah pandemi Covid-19.

“Sekitar 23,4 persen anggota-anggota kami mengalami dampak positif, mengingat fintech merupakan bagian dari ekonomi digital,” ujar Ketua Harian Aftech Mercy Simorangkir dalam seminar daring di Jakarta.

Mercy mengatakan pada saat sekarang ketika masyarakat melakukan aktivitas secara daring atau online dalam mencegah Covid-19, terdapat sebagian porsi fintech yang mengalami peningkatan. “Hal itu terlihat dalam peningkatan jumlah transaksi, pengguna baru, ataupun peluang usaha baru,” katanya.

Ia menambahkan, meski begitu terdapat pula beberapa dampak positif yang dirasakan oleh industri fintech. Mercy bilang, hal itu seperti munculnya peluang usaha baru yang masih berkaitan dengan model bisnis utama. Seperti edukasi dan layanan asuransi kesehatan maupun jiwa yang melalui kerjasama pihak ketiga.

Mercy mengatakan, adapun kegiatan usaha yang belum terdampak corona dikarenakan masih belum beroperasi atau telah melihat dampaknya, namun tidak signifikan.

Hati-hati Maraknya Iklan Pinjaman Online di Masa Pandemi Virus Corona

Hati-hati Maraknya Iklan Pinjaman Online di Masa Pandemi Virus Corona

Hati-hati Maraknya Iklan Pinjaman Online di Masa Pandemi Virus Corona

secret-financial.com – Di media sosial, banyak ditemukan promosi berbagai akun yang menawarkan pinjaman secara online, dengan janji kemudahan proses.

Iklan promosi ini muncul secara acak.

Di media sosial, banyak ditemukan promosi menawarkan pinjaman secara online, hati-hati maraknya iklan Pinjaman Online di masa Pandemi Virus Corona.
Baca juga: Orang RI Pintar, Utang di Pinjaman Online Tidak di Bayar

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, di tengah pandemi virus corona yang masih berlangsung di Indonesia, permintaan akan pinjaman online kian meningkat. 

OJK mencatat, ada sekitar Rp 95,39 triliun pinjaman online disalurkan ke debitur pada Februari 2020.

Pinjaman ini melambung hampir 8 persen dari awal tahun dan 17 persen lebih tinggi jika dibandingkan dengan akhir tahun lalu. 

Dengan banyaknya tawaran pinjaman online, masyarakat harus mewaspadai para penyedia pinjaman online dengan adanya peningkatan permintaan ini.

Fintech ilegal kerap memberikan bunga yang tinggi dengan jangka waktu pinjaman yang singkat.

Biasanya, mereka memberikan syarat yang mudah untuk mendapatkan pinjaman, serta meminta izin untuk dapat mengakses seluruh data kontak di ponsel.

Pesan OJK

Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Manajemen Strategis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Anto Prabowo mengimbau agar masyarakat berhati-hati dalam memilih pinjaman online yang diiklankan di media sosial.

“Yang terpenting masyarakat harus tahu mengenai manfaat, biaya, dan risiko,” kata Anto.

Sebab hal ini bertentangan dengan peraturan OJK nomor 1/POJK.7/2013 pada 6 Agustus 2013 pasal 19. Pasal itu menyebut bahwa pelaku usaha jasa keuangan dilarang melakukan penawaran produk dan layanan kepada konsumen atau masyarakat melalui sarana komunikasi pribadi tanpa persetujuan.

Baca juga: Tawaran Pinjaman Online Ilegal Yang Semakin Banyak Melalui Link SMS

Pernyataan ini dipicu oleh maraknya peredaran SMS yang menyebutkan bahwa nomor KTP pengguna telah digunakan untuk melakukan pinjaman. Pesan tersebut disertai dengan sebuah tautan, yang akan membawa penggunanya ke Google Play Store, dan akan terhubung ke aplikasi DanaRupiah, layanan pinjaman online.

Ketika ditanya apakah pihaknya telah mengetahui soal peraturan ini, ia menyebut sudah mengetahui peraturan tersebut dan akan kembali mengingatkan kepada anggotanya.

Fintech  P2P Lending Memberikan Keringanan untuk Peminjam

Fintech P2P Lending Memberikan Keringanan untuk Peminjam

Fintech P2P Lending Memberikan Keringanan untuk Peminjam

secret-financial.com – Tak hanya perbankan dan multifinance yang memberikan keringanan cicilan untuk para nasabahnya, layanan financial technology (fintech) peer to peer lending juga memberikan keringanan untuk borrower atau peminjam.

Tak hanya perbankan dan multifinance, layanan financial technology (fintech) peer to peer lending juga memberikan keringanan untuk borrower atau peminjam.
Baca juga: Fintech, Bank, dan Leasing Akan Beri Libur Bayar Cicilan

Asosiasi menyebut jika keringanan yang diberikan untuk borrower akan berbeda dengan yang diberikan oleh bank. Hal ini karena fintech merupakan platform yang mempertemukan pemilik dana (lender) dan peminjam (borrower). Sehingga dalam proses restrukturisasinya harus ditemukan kesepakatan.

Hanya saja, keringanan tersebut baru bisa diberikan pelaku UMKM apabila mendapat persetujuan dari pihak pemberi pinjaman. Hal itu karena perusahaan fintech peer-to-peer lending sebagai platform tidak bertindak sebagai pihak pemberi pinjaman sebagaimana di industri perbankan atau pembiayaan.

Selain meminta pengertian pihak platform dan pemberi pinjaman, warganet juga mempertanyakan mengapa keringanan hanya diberikan kepada UMKM?

“Hanya untuk UMKM?? Padahal konsumen pinjol banyak dari orang individu… tetap ada pinjol bikin sengsara. Bunga dan denda harian mencekik kami,” tulis pengguna akun Facebook.

Ada pula pengguna bernama Yoyoh Samsiah yang membagikan cerita tentang penagihan yang tetap dilakukan pihak penyedia layanan pinjaman.

Ia menulis, “tetap saja ditagih dan diancam, padahal sudah kasih tau kalau belum bisa setor karena dagangnya sepi.”

Meski begitu, AFPI terus menghimbau kepada anggotanya untuk ikut berpartisipasi secara aktif membantu dan meringankan masyarakat pengguna platfom fintech lending yang mengalami kerugian atas dampak wabah Covid-19.

CEO Modalku Renold Wijaya mengungkapkan pihaknya akan melakukan restrukturisasi kasus per kasus. “Sebagai langkah untuk memitigasi risiko, kami akan menyesuaikan kembali beberapa faktor dalam memberikan pinjaman, seperti limit dan tenor pinjaman. Angka limit & tenor pinjaman akan disesuaikan dengan jenis pinjaman dan portofolio bisnis masing- masing UMKM,” ujarnya.

“Sehingga mereka paham benar adanya dampak dari Covid-19 dan bagaimana kebutuhannya. Jadi negosiasi dengan institusional lender ini prosesnya lebih cepat, dibandingkan misalnya dengan pendanaan crowd funding yang satu pinjaman bisa didanai 50-100 orang,” tuturnya.

Adapun hingga saat ini, Amalia mengatakan peminjam di Investree baru meminta skema restrukturisasi perpanjangan tenor. Belum ada peminjam yang meminta penundaan pembayaran hingga satu tahun.

Fintech, Bank, dan Leasing Akan Beri Libur Bayar Cicilan

Fintech, Bank, dan Leasing Akan Beri Libur Bayar Cicilan

Fintech, Bank, dan Leasing Akan Beri Libur Bayar Cicilan

secret-financial.com – Menghadapi pandemi COVID-19 atau virus corona Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan stimulus di bidang jasa keuangan, baik bank, perusahaan pembiayaan (multifinance), asuransi, dan dana pensiun. Lalu bagaimana dengan pinjaman dari fintech lending atau pinjaman online.

Menghadapi pandemi COVID-19 atau virus corona Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memberikan Fintech, Bank, dan Leasing akan beri libur bayar cicilan.
Baca juga: Orang RI Pintar, Utang di Pinjaman Online Tidak di Bayar

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan perusahaan Fintech lending merupakan platform yang mempertemukan antara pemberi pinjaman dan penerima pinjaman. Perusahaan fintech lending sebagai lembaga jasa keuangan tidak bertindak sebagai pemberi pinjaman sebagaimana di industri Perbankan atau Pembiayaan.

Perbankan dan lembaga keuangan non bank di Indonesia merespon kebijakan OJK terkait pemberian restrukturisasi atau keringanan cicilan kredit. Terdapat 77 bank dan 46 perusahaan pembiayaan yang menawarkan restrukturisasi kredit.

Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani bercerita, salah satu sektor yang terdampak Corona adalah penyedia jasa EO. Akibat penerapan social distancing banyak acara dibatalkan sehingga membuat bisnis EO terpukul.

Oleh karena itu, Aviliani pun menyarankan kepada pelaku industri EO untuk dapat mengajukan restrukturisasi kredit ke perusahaan financial technology (fintech). Mengapa fintech dan bukan bank atau leasing? Aviliani mengatakan bahwa saat ini banyak perusahaan jasa EO yang mencari pendanaan melalui fintech.

“Biasanya perusahaan EO kebanyakan ke fintech. Anda bisa restrukturisasi karena Anda sudah kontrak even tapi enggak jadi. Yang penting ada data-data dan bukti itu penting untuk bisa restrukturisasi,” ujar dia dalam siaran online via Instagram.

Sejumlah bank badan usaha milik negara (BUMN) menyatakan siap untuk memberikan keringanan kepada nasabah yang usahanya terdampak corona. Mulai dari nasabah usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) hingga penangguhan angsuran kredit.

Kelonggaran cicilan yang dimaksud lebih ditujukan pada debitur kecil antara lain sektor informal, usaha mikro, pekerja berpenghasilan harian yang memiliki kewajiban pembayaran kredit untuk menjalankan usaha produktif mereka.

Relaksasi dengan penundaan pembayaran pokok sampai dengan 1 tahun tersebut dapat diberikan kepada debitur yang diprioritaskan. Dalam periode 1 tahun tersebut debitur dapat diberikan penundaan/penjadwalan pokok dan/atau bunga dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan kesepakatan ataupun asesmen bank/leasing misal 3,6,9, atau 12 bulan.

Ciri-ciri Pinjol Ilegal yang Merugikan Masyarakat

Ciri-ciri Pinjol Ilegal yang Merugikan Masyarakat

Ciri-ciri Pinjol Ilegal yang Merugikan Masyarakat

Aplikasi pinjaman online memberikan kemudahan pada masyarakat untuk mendapatkan pinjaman. Berikut ciri-ciri pinjol ilegal yang merugikan masyarakat

secret-financial.com – Aplikasi pinjaman online memberikan kemudahan serta kecepatan pada masyarakat untuk mendapatkan pinjaman. Namun, di sisi lain, tidak sedikit masyarakat yang akhirnya terjerat utang aplikasi pinjaman online. Alhasil, mereka harus segera melunasi pinjaman agar tidak di teror para penagih utang. 

Belakangan aplikasi pinjaman online marak muncul di tanah air. Berdasarkan data OJK per Februari 2019 terdapat 99 aplikasi pinjaman online legal yang beroperasi.   

Aplikasi pinjaman online ini memberikan kemudahan dan kecepatan masyarakat untuk mendapatkan pinjaman dana. Asal tahu saja, para pengelola aplikasi ini bisa memberikan pinjaman dana dalam hitungan jam. Tambah lagi, pinjaman yang mereka berikan tidak membutuhkan agunan.

Selain akses yang lebih mudah karena bisa dijangkau melalui gadget, pinjaman online melalui aplikasi fintech juga banyak diminati karena syarat yang mudah. Cukup bermodal foto diri dan kartu identitas, seseorang sudah bisa mendapatkan pinjaman tanpa agunan. Namun, di balik kemudahan tersebut, ada harga mahal yang harus dibayar peminjam. Bunga pinjaman online dipatok sangat mahal. Banyak kalangan yang akhirnya terjebak malapetaka finansial gara-gara pinjaman online.

Baca juga:

Akibatnya, jumlah masyarakat yang terjerat dalam pusaran utang pinjol ilegal semakin bertambah. Banyak diantara debitur akhirnya tidak sanggup melunasi pinjaman karena denda plus bunga yang harus dibayar semakin bertumpuk. Bahkan jauh lebih besar dari nilai pokok utang yang dipinjamnya.

Tongam L Tobing menambahkan jika dalam proses penagihan masyarakat mendapat perbuatan yang menyenangkan, teror dan sudah merugikan masyarakat bisa melaporkan ke Polisi agar diambil tindakan hukum.

“Kegiatan-kegiatan ini merupakan tindak pidana yang tidak boleh kita biarkan tentunya. Sehingga kalau semakin banyak masyarakat yang lapor ke polisi dan semakin banyak tindakan yang dilakukan oleh kepolisian dalam rangka penanganan kasus ini, kami yakin akan membuat efek jera kepada para pelaku,” terang Tongam.

Berikut ini ciri-ciri pinjol ilegal yang merugikan masyarakat:

  1. Tidak memiliki izin resmi
  2. Tidak ada identitas dan alamat kantor yang jelas
  3. Pemberian pinjaman sangat mudah
  4. Informasi bunga dan denda tidak jelas
  5. Bunga tidak terbatas
  6. Denda tidak terbatas
  7. Penagihan tidak mengenal waktu
  8. Akses ke seluruh data yang ada di ponsel
  9. Ancaman teror kekerasan, penghinaan, pencemaran nama baik, menyebarkan foto/video pribadi
  10. Tidak ada layanan pengaduan

Kalau kamu masih membutuhkan pinjaman uang, OJK menyarankan untuk mencari pinjaman dari pinjol legal yang sudah terdaftar.