fbpx
Cara Menghilangkan Izin Aplikasi Pinjaman Online Mengakses Telpon

Cara Menghilangkan Izin Aplikasi Pinjaman Online Mengakses Telpon

Aplikasi Pinjaman online alias pinjol yang biasa disebut  fintech semakin populer dan getol melakukan penawaran, demi menjaring lebih banyak nasabah.

Secret-financial – Aplikasi Pinjaman online alias pinjol yang biasa disebut  fintech alias PeerToPeerLending semakin populer dan getol melakukan penawaran, demi menjaring lebih banyak nasabah. Cara yang mereka tempuh pun beragam, mulai  dari talkshow bertopik PeerToPeerLending di televisi, podcast, media sosial.

Mereka juga gencar mengirim pesan SMS maupun chat ke nomor handphone.Meski kerap kali tidak mengetahui nomor tersebut didapatkan dari mana. 

Berkembangnya popularitas pinjol disertai pula dengan keluhan nasabahnya.  Salah satunya adalah penyalahgunaan informasi kontak untuk melakukan penagihan. Jika terpaksa menggunakan layanan tersebut, kamu perlu tahu cara menghapus data kontak dari pinjaman online

Baca juga: Orang RI Pintar, Utang di Pinjaman Online Tidak di Bayar

Namun, ada beberapa pinjaman online yang tidak terdaftar OJK dan masuk dalam kategori yang ilegal sehingga anda harus mewaspadainya. Bagi peminjam yang sudah terjebak dengan fintech ini, maka tidak sedikit dari mereka yang harus melakukan pembayaran secara terus menerus hingga tidak ada habisnya. Hutang yang awalnya hanya Rp 600 ribu bisa jadi berjuta juta. Tentunya hal ini menyebabkan anda mencari tahu bagaimana cara menghapus data dari pinjaman online.

Bahkan setelah dilakukan pembayaran, mereka masih saja tetap menagih hingga anda diteror terus menerus. Tentunya hal ini sangat membuat anda terganggu dan tidak bisa melakukan aktivitas dengan baik. Anda pun juga tidak bisa fokus bekerja akibatan ancaman yang diberikan oleh pihak pinjaman online. Jika sudah begini anda harus melakukan tindakan untuk menghentikan penagihan yang dilakukan tanpa henti.

Tak sampai di sini, ada beberapa aplikasi pinjaman online yang masuk kategori ilegal memberikan peringatan tidak hanya kepada anda saja, melainkan kepada teman teman kantor dan saudara anda. Tidak hanya anda saja yang terganggu maka mereka pun juga akan semakin terganggu dan tentunya anda akan merasa malu. Maka dari itu anda harus mengetahui bagaimana  cara menghapus data dari pinjaman online, agar hidup anda lebih tenang.

Baca juga: Pinjaman Online, Utang Yang Mencekik Masyarakat

Kamu cukup  mematikan izin akses data bagi aplikasi pinjol tersebut. Bahkan, ada beberapa aplikasi yang bahkan meminta untuk bisa mengakse  internet banking dan e-commerce milik pengguna! .Tentu saja langkah ini akan sangat membahayakan data-data pribadimu.  Izin ini akan membuat aplikasi untuk mengambil semua bentuk data yang tersimpan di smartphone.

Berikut ini step by step cara menghilangkan izin bagi aplikasi untuk mengakses data di smartphone.

  1. Klik “setting” atau “pengaturan” di smartphone.
  2.  Lalu Cari ‘Aplikasi’.
  3. Klik aplikasi pinjol yang ingin kamu rubah izinnya.
  4. Scroll ke bawah, sampai terlihat izin seperti yang dimaksud.
  5. Matikan izin yang tidak kamu kehendaki.
Pinjaman Online Meningkat Jelang Lebaran, P2P Lending Perketat Mitigasi Resiko

Pinjaman Online Meningkat Jelang Lebaran, P2P Lending Perketat Mitigasi Resiko

Jelang lebaran dan pandemi Covid-19 permintan pinjaman online meningkat/peer to peer (P2P) lending masih terbilang ramai.

Pinjaman Online Meningkat Jelang Lebaran, P2P Lending Perketat Mitigasi Resiko

secret-financial.com – Jelang lebaran dan pandemi Covid-19 permintan pinjaman online meningkat/peer to peer (P2P) lending masih terbilang ramai. Kendati demikian, industri peer to peer lending mulai memperketat pinjaman demi menjaga kualitas pinjaman.

PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku) mengakui periode Ramadan tahun ini merupakan periode yang cukup unik lantaran momentum hari raya bersamaan dengan adanya pandemi Covid-19. Co-Founder & CEO Modalku Reynold Wijaya menyebut pada kondisi ini, terdapat peningkatan permintaan pinjaman yang merupakan kombinasi dari kondisi Covid-19 serta Ramadan.

Baca juga: Hati-hati Maraknya Iklan Pinjaman Online di Masa Pandemi Virus Corona

Ia menyebut sektor usaha yang masih banyak mengajukan pinjaman adalah dari sektor perdagangan serta industri kesehatan. Adapun kebutuhan pinjaman di industri kesehatan juga sudah difasilitasi oleh Modalku melalui pinjaman terhadap suplier alat kesehatan serta fasilitas kesehatan yang sedang membutuhkan alat kesehatan tersebut.

“Sampai saat ini, Grup Modalku telah menyalurkan pinjaman sebesar Rp 14 triliun kepada UMKM di Indonesia, Singapura, dan Malaysia. Menurut kami, jumlah penyaluran tahun ini tidak dapat dibandingkan dengan Ramadhan tahun lalu karena kondisi terjadi cukup berbeda,” ujar Raynold.

Apalagi, diketahui tawaran pinjaman online dari lembaga pinjam-meminjam (peer to peer lending/P2P) fintech relatif mudah dan cepat, tanpa prosedur panjang layaknya lembaga keuangan perbankan.

“Untuk bagi yang menerima Tunjangan Hari Raya (THR), sehingga dapat menopang banyak kebutuhan. Tetapi, potensi risiko akan muncul sehabis lebaran, dana bisa berkurang. Untuk itu, masyarakat wajib lebih hati-hati dalam meminjam di fintech,” ujarnya.

Menurut saya, daripada ditagih utang melulu pascalebaran, lebih baik mendengar nyinyiran orang-orang yang memberikan komentar karena kita tidak mengenakan baju baru atau tidak punya kue lebaran. Toh, mereka yang nyinyir tidak akan ikut ditleponin oleh debt collector-nya nanti kalau kita gagal bayar

12 Fintech Peer to Peer Lending Dapat Izin OJK

12 Fintech Peer to Peer Lending Dapat Izin OJK

SECRET-FINANCIAL.COM, Surabaya – Sebanyak dua belas penyelenggara fintech peer to peer (P2P) lending yang dapat izin OJK juga anggota Asoiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) memperoleh izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dengan demikian total sudah ada 25 penyelenggara fintech lending yang mengantongi lisensi dari OJK.

Penyelenggara fintech lending tersebut meliputi PT Akseleran Keuangan Inklusif Indonesia (Akseleran), PT Mediator Komunitas Indonesia (Crowdo), PT Dana Pinjaman Inklusif (PinjamanGo), PT Ammana Fintek Syariah (Ammana), PT Esta Kapital Fintek (Esta), PT Mekar Investama Sampoerna (Mekar), PT Pohon Dana Indonesia (Pohon Dana), PT Pembiayaan Digital Indonesia (AdaKami), PT Lunaria Annua Teknologi (Koinworks), PT Tri Digi Fin (Kreditpro), PT Fintegra Homido Indonesia (Fintag), dan PT KUFI (Rupiah Cepat). Izin tersebut berlaku aktif per 13 Desember 2019.

Sebanyak 12 penyelenggara fintech peer to peer lending yang dapat izin OJK , total sudah ada 25 penyelenggara fintech yang mengantongi lisensi dari OJK.

Dalam waktu 3 tahun fintech bisa menunjukkan kemampuannya, termasuk mendukung ekosistemnya. Keyakinan publik semakin menemukan titik terang, diharapkan 2020 bisa double yang memperoleh izin lisensi dari OJK.

Fintech peer to peer lending yang dapat izin OJK harus memenuhi persyaratan ketat dari OJK. Mereka, lanjut dia, wajib menyalurkan pembiayaan minimal 20 persen dari total pinjaman ke sektor UMKM. Selain itu, perusahaan harus memenuhi tingkat keamanan sistem informasi berupa ISO 27001 yang merupakan standar internasional manajemen keamanan informasi.

Untuk tagihan lebih dari 90 hari itu dilakukan penagihan oleh 6 desk collection di AFPI. Tidak sulit bagi OJK mulai melakukan pelaporan bahwa siapa pihak yang tidak bertanggungjawab melakukan penagihan.

Ia berharap langkah dari 12 perusahaan tersebut diikuti oleh anggota AFPI lainnya. Ia menyebut terdapat 119 perusahaan dalam proses pengajuan perizinan kepada OJK.

Baca juga : Baca Ini Jika Anda Tidak Mampu Bayar Pinjol

Perkembangan kami yang semakin maju sejalan dengan pengembangan fintech data center, melampaui penggunaan digital signature. Sehingga diharapkan nanti sulit bagi para teroris untuk melakukan pemalsuan KTP. Jadi benar lokasinya, identifikasinya.

Berdasarkan data OJK, total penyaluran pinjaman oleh fintech lending mencapai Rp68 triliun hingga Oktober 2019. Realisasi itu meningkat 200 persen dari posisi Oktober tahun lalu. Sementara itu, rekening lender (pemberi pinjaman) meningkat 178,62 persen menjadi 578.158 entitas dan rekening borrower (peminjam) bertambah 266,71 persen menjadi 15.986.723 entitas.