oleh

Tentang Manusia, Tuhan dan Alam

Pertanyaan tentang Manusia menjadi pertanyaan besar filsafat. Pertanyaan yang tidak pernah usai sejak adanya kesadaran. Pertanyaan ini
(Suatu Refleksi Filosofis)

Secret-financial – Pertanyaan tentang Manusia menjadi pertanyaan besar filsafat. Pertanyaan yang tidak pernah usai sejak adanya kesadaran. Pertanyaan ini memiliki sejarah peradaban dan berlangsung hingga saat ini. Tidak ada penjelasan singkat yang dapat menguraikan dengan jelas apa itu Manusia. Proses penggalian keberadaan manusia terus berlangsung dari abad 6 SM (Thales) hingga saat ini. Manusia akan selalu mempertanyakan dirinya sendiri dan keberadaannya karena ia adalah seorang penanya. Hal ini sudah menjadi bagian dalam diri manusia sejak ia sadar akan keberadaannya sebagai bagian di dalam alam semesta.­­­

Manusia memiliki badan atau tubuh. Badan itu sama seperti materi lain dan bersifat tidak abadi. Badan ini mewakili kemanusiaan. Seseorang tidak bisa menciderai tubuh orang lain karena itu merupakan perbuatan yang melawan kemanusiaan. Manusia menghormati tubuhnya sendiri dan Manusia lain karena tubuh adalah Manusia itu sendiri. Manusia hadir di dalam tubuhnya. Manusia akan dianggap manusia ketika ia memiliki tubuh. Meskipun Tubuh Manusia tidak melulu sama satu dengan yang lain, ada yang kurang sempurna, Manusia tetap sama dan sederajat. Kondisi atau situasi seperti itu yang disebut dengan kemanusiaan. Kemanusiaan mengatasi segala perbedaan.

Ideologi apartheid, sebuah ideologi yang menggiring perbedaan warna kulit sebagai perbedaan Martabat Manusia, telah melukai Manusia dari hakikatnya. Mengapa demikian? Karena hakikat manusia disempitkan pada warna kulit. Seharusnya orang-orang tidak memandang tubuh itu sebagai sesuatu yang terpisah dari Manusia. Tetapi melihat bahwa tubuh adalah Manusia itu sendiri. Maka, tidak ada lagi perbedaan warna kulit tetapi satu persamaan derajat dalam kata Manusia.

Pertanyaan tentang Manusia menjadi pertanyaan besar filsafat. Pertanyaan yang tidak pernah usai sejak adanya kesadaran. Pertanyaan ini
Baca juga: Pilkada Tetap Jalan, Ibadah dan Sekolah di Tutup, Ada Apa Dengan Negara Ini

Plato juga berbicara tentang jiwa Manusia. Plato beranggapan bahwa dalam diri Manusia terdapat dua bahan utama, yaitu jiwa dan badan. Kedua bahan ini menyatu tetapi juga bertentangan. Plato berkata Manusia adalah “penjara” bagi jiwa. Jiwa selalu ingin berziarah atau dalam hal ini “keluar” dari badan yang bersifat terbatas. Manusia itu hidup karena jiwanya. Hidup itu berziarah. Jiwa Manusia ingin berziarah mengejar kesempurnaanya. Karena menurut Plato akhir dari jiwa Manusia adalah Dunia “Idea” (atau Forma). Perziarahan jiwa inilah yang pada akhirnya mengatasi keterbatasan tubuh manusia.

Dari penjelasan Plato terlihat bahwa Manusia memiliki dua bahan di dalam dirinya. Tetapi tidak cukup sampai pada dua bahan itu saja, Manusia juga ternyata memiliki akal budi (rasio). St. Thomas Aquino mengatakan rasio itu yang berasal dari Allah, Pencipta. Immanuel Kant berpendapat bahwa karena rasio Manusia bisa mengenal semua yang ia temui dalam hidupnya. Penjelasan kedua filosof ini memang belum cukup karena pembicaraan tentang rasio hingga saat ini belum selesai. Terlepas dari sifat filsafat yang selalu berusaha mencari dan menggali kebenaran.

Descartes juga berbicara tentang rasio. Menurutnya rasio membuat Manusia rasional. Kalimat paling terkenal dari Descartes ialah cogito ergo sum. Kalimat ini berarti “aku berpikir maka aku ada”. Descartes beranggapan bahwa keberadaan Manusia itu adalah karna akal budinya. Manusia yang tidak berpikir maka dia tidak mengada atau menjadi Manusia. Descartes membawa kita pada realitas gaya berpikir Manusia modern yang bisa diringkas dalam adagium science is power. Ilmu pengetahuan menjadi tolak ukur kekuasaan. Orang-orang menjadikan teknologi yang terpenting. Sehingga mengesampingkan kemanusiaan. Bahkan dalam kehidupan nyata kita dapat melihat bahwa kemajuan teknologi yang memicu kemunduran humanitas dan menghancurkan kemanusiaan.

Pembahasan tentang rasio dalam filsafat manusia sangat luas. Begitu pula penjelasan filosofis mengenai manusia. Tidak ada yang tuntas sama sekali. Manusia tidak boleh dimengerti sekedar dari bahan penyusun dirinya, yaitu jiwa dan tubuh. Manusia adalah dirinya dengan segala pengalamannya. Ini yang dalam filsafat disebut eksistensi.

Tuhan masuk dalam pengalaman hidup manusia. Tuhan menyejarah dalam hidup sehari-hari manusia. Tuhan dalam filsafat diidentikkan prinsip “Ada”, “Gerak”, dan “Hidup”. Allah adalah sumber “Hidup”. Hidup yang dimaksud dalam filsafat adalah kesempurnaan. Tuhan adalah kesempurnaan itu sendiri. Kita telah melihat bahwa jiwa Manusia berziarah menuju kesempurnaan. Dalam hal ini berarti Manusia berziarah menuju Tuhan. Tidak salah bila Manusia mengidentifikasi hidup dengan perziarahan. Manusia itu hidup untuk berziarah bersama Allah yang hadir dan menyejarah dalam sejarah Manusia. Allah yang menyusun dan mengarahkan Manusia untuk menuju kepada diri-Nya.

Baca juga: Jokowi dan Sri Mulyani Pernah Beri Peringatan Jangan Korupsi Dana COVID-19

Pergulatan manusia setiap hari adalah pergumulan Tuhan. Tuhan tidak pernah melepaskan diri dari sejarah Manusia. Tuhan ada dalam keseharian hidup kita. Hanya saja Tuhan tidak sembarang hadir dalam setiap peristiwa. Tuhan tidak mungkin ada diantara mereka yang mempromosikan kekerasan dan kebencian. Tuhan itu ada dalam kebaikan, ketulusan dan kejujuran orang yang merindukan belas kasih-Nya.

Manusia itu hidup dan tinggal di dalam Alam. Alam yang begitu indah. Keindahan Alam akan mengantar kita kepada Dia yang menyebabkan keindahan. Itu tidak dapat dipungkiri karena kita memiliki akal budi. Alam adalah dinamika kesempurnaan hidup manusia itu sendiri. Alam seakan menjadi rujukan bagi ritme hidup sehari-hari. Alam pula yang seolah menata bagaimana manusia harus menjalani aktivitasnya, menjadi “hukum” kehidupan. Dan tidak boleh kita lupakan bahwa manusia sesungguhnya sedang berziarah di dalam Alam ini. Tetapi dalam kenyataannya Manusia lupa bahwa ia tinggal di dalam Alam. Manusia hanya berpikir mengenai dirinya sendiri. Ia memperkosa Alam demi kepuasan dan keegoisannya. Uang telah membuat mata Manusia buta. Alam menjadi rusak dan berada dalam ranah yang sangat mengkhawatirkan.

Salah satu cara untuk melihat nilai keluhuran Alam ialah dengan menggali khasanah kearifan manusia, diantaranya filsafat jawa. Dalam filsafat jawa begitu banyak cerita yang berisi pesan-pesan penting untuk menjaga kelestarian Alam. Dan ini bukan tentang agama. bagi orang jawa, di samping Alam adalah ibu yang memiliki segalanya untuk manusia “anaknya”, Alam juga merupakan sebuah tata kesempurnaan, keselarasan dan keindahan.

Baca juga: Masih Keok dari Negara Lain, Jokowi Beberkan Data Ekspor RI

Alam itu sangat indah. Alam indah dalam tatanan pemandangan, flora dan fauna yang hidup di dalamnya. Ia juga indah karena matahari, bulan dan bintang yang menjadi penanda hari-hari manusia. Ia indah karena hadir dan nyata. Alam indah karena manusia yang “dilahirkan, ditumbuhkan, dan dibesarkan” di dalamnya tidak kekurangan apa pun. Ia menyediakan semua yang diperlukan manusia. Tanpa Alam yang baik manusia akan segera punah dari dunia ini. Manusia mustahil untuk menjadi ada atau mengada lagi. Manusia tidak akan bisa berziarah untuk mencapai kesempurnaan. Oleh karena itu sudah seharusnya Alam dipandang sebagai penentu kehidupan manusia sehingga manusia perlu menghormati, menjunjung tinggi dan mensyukurinya. Sebab Alam identik dengan kehidupan itu sendiri.

Tentang Penulis: Secret Financial

Gambar Gravatar
Secret financial adalah platform untuk anda dalam nememukan solusi keuangan anda.

Komentar

Tinggalkan Balasan

News Feed